Tahfidz Performance Week

Minggu lalu merupakan minggu yang cukup padat bagi anak pertama saya (Kiya). Pada  minggu tersebut,  sekolah Kiya  (Mumtaza Islamic School) menyelenggarakan Happy Week. Pada happy week yang diadakan pada hari kamis dan jumat (8-9 september 2018) tersebut dilombakan beberapa materi antara lain Tahfidz competition,  Quick and Smart, Choir, Fashion Show, Cerdas Cermat Quran, dst. Dari berbagai lomba tersebut, Kiya terpilih sebagai perwakilan kelas untuk mengikuti quick and smart , tahfidz competition and choir.

Selain dipilih sebagai perwakilan kelas dalam acara happy week, Kiya bersama lima orang temannya juga terpilih mewakili sekolah dalam tahfidz performance di SD Expo pada hari sabtu (10 September 2018).

Pada hari perlombaan ( Kamis), saya menjadwalkan untuk mendampingi Kiya mengikuti berbagai lomba tersebut. Saat pelaksanaannya, ternyata Kiya hanya bisa mengikuti lomba tahfidz dan choir disebabkan jadwal lomba yang bentrok.

Tahfidz competition dibagi dalam 3 level yaitu basic (year 1), Middle (Year 2-3) dan Advance (Year 4-5). Kiya yang saat ini duduk di kelas 2 mengikuti level middle bersama dengan perwakilan kelas 2 dan 3 berjumlah total 20 orang. Materi dari middle level adalah juz 30. Setiap anak akan dipanggil berdasarkan no urut yang diambil di awal lomba. Lalu setiap anak akan mengambil satu dari 20 amplop soal yang tersedia. Juri lalu akan membacakan ayat surat yang ada dalam amplop tersebut dan setiap peserta diminta untuk langsung melanjutkan membaca ayat berikutnya. Kiya mendapatkan urutan ke 17 sehingga saat menunggu bagiannya, dia masih sempat mengikuti lomba choir.

Dalam kesehariannya, Kiya dikenal sebagai anak yang ceria dan aktif. Namun dibalik keceriannya tersebut,  ia kurang memiliki rasa percaya diri. Saat akan tampil pada tahfidz competition, wajahnya agak pucat dengan tangan berkeringat. Berkali – kali ia membisikkan rasa takutnya pada saya. Karena saya mengenal karakter Kiya yang merupakan “Pengejar keinginan” dan bukan “penghindar masalah” (tipe kepribadian ini akan kita bahas dalam sesi terpisah), maka saya  pun berusaha untuk membuatnya berimajinasi akan hadiah  yang didapatkan bila mengikuti perlombaan secara percaya diri.

Sejak kecil, kami tidak pernah menuntut Kiya untuk memenangkan lomba yang diikutinya. Tujuan kami untuk mengikutkan Kiya dalam berbagai lomba hanya untuk melatih kepercayaan dirinya. Jadi target yang dituju hanyalah Kiya percaya diri pada saat lomba. Hal ini juga yang menjadi harapan kami saat Kiya mengikuti tahfidz competition.

Setelah saya terus memberikan sugesti kepadanya, lama- lama ketakutan Kiya memudar.  Ia terlihat bersemangat. Dari wajahnya terpancar keinginan mendapatkan hadiah yang diinginkannya.

Beginilah kira- kira penampilan Kiya saat lomba

IMG-20181112-WA0000

Videonya dapat dilihat di Youtube

Dan memang usaha tidak mengkhianati hasil. Semangat Kiya yang tidak lelah bermurajaah ternyata memberikan hasil yang baik. Alhamdulillah, Kiya dipilih sebagai juara 1 tahfidz competition.

IMG-20181111-WA0002

Setelah terpilih sebagai juara 1, Kiya masih belum bisa berleha- leha sepenuhnya. Karena besoknya (sabtu) ia dan teman-temannya akan melakukan tahfidz performance pada acara SD exhibition.

IMG-20181111-WA0003Alhamdulillah performancenya juga berjalan lancar.

Pada akhirnya, semua keberhasilan yang diperoleh Kiya pada minggu tersebut semuanya merupakan pertolongan Allah. Yang kemudian diikuti oleh kerja keras dan kesungguhan Kiya.

Bagi kami sebagai orang tuanya, ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal proses bertumbuh. Karena kami sebagai orang tua akan tetap mendukung dan bangga pada Kiya sekalipun misalnya dia tidak menjadi juara pada saat lomba. Yang membuat kami bahagia adalah karena dia berhasil menaklukan musuhnya, yaitu rasa takutnya yang sangat besar. Kami bangga karena dia bekerja keras untuk melakukan kebaikan, berusaha selangkah lebih dekat kepada sang Khalik. Dan kami sebagai orang tuanya akan selalu mendoakan dan mendukungnya.

Leave a comment