“Kenapa ya anakku kok susah sekali diajarin baca?”
“Kalau anakku malah susah banget berhitung. Pengen nangis rasanya kalau udah ngajarin dia. Ga bisa- bisa terus.”
“Kalau anakku paling susah kalo disuruh olahraga. Lari sedikit saja sudah ngos-ngosan.”
Sound familiar dengan percakapan diatas? Iya, itu pembicaraan yang banyak terjadi di kalangan ibu-ibu. Obrolan yang berlanjut pada keluhan dan terkadang malah akhirnya berujung kekecewaan pada anaknya. Ada ibu yang merasa kenapa anaknya tidak memiliki kelebihan yang cukup menonjol. Selanjutnya bisa muncul pertanyaan “Duh, bagaimana ya kalau anakku tidak bisa survive di masa depan?”
Bunda, ketahuilah bahwa tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak yang kecerdasannya tidak digali sejak dini hingga tersia- sia.
Menurut Howard Gardner, manusia tidak memiliki satu kecerdasan melainkan 9 kecerdasan. Untuk lebih mengenali jenis kecerdasan tersebut, mari kita bahas satu – persatu :
- Kecerdasan linguistik (Linguistic Intelligence) merupakan kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif saat berbicara atau menulis.
- Kecerdasan matematis – logis (Logical – Mathematical Intelligence). Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika.
- Kecerdasan ruang (spatial intelligence) merupakan kemampuan untuk menangkap ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat.
- Kemampuan kinestetik (bodily – kinesthetic intelligence) merupakan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan.
- Kecerdasan musikal (Musical intelligence) merupakan kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi,dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik.
- Kecerdasan interpersonal (Interpersonal intelligence) merupakan kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak dan temperamen orang lain.
- Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal intelligence) merupakan kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan-gagasan.
- Kecerdasan lingkungan (Naturalist intelligence) merupakan kemampuan untuk mengenali dan mengklasifikasi tanaman, binatang dan fenomena alam.
- Kecerdasan eksistensial (Existensial intelligence) merupakan kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan- persoalan terkait eksistensi manusia.
Kecerdasan tersebut diatas dapat digolongkan lagi sebagai berikut :
- Kecerdasaan akademik (kecerdasan yang digunakan untuk menilai skor IQ) yaitu kecerdasan linguistic and mathematics.
- Kecerdasan spesialis yaitu kecerdasan musik, spasial (gambar), kecerdasan kinestetik (tubuh) dan kecerdasan natural.
- Kecerdasan tambahan yaitu kecerdasan personal dan kecerdasan sosial.
Di beberapa negara, seperti Indonesia, lembaga pendidikan resmi baru mengapresiasi kecerdasan akademik. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang tua berpikiran anaknya kurang pintar di sekolah. Hal tersebut karena kecerdasan yang dimiliki anaknya mungkin tidak terkait dengan bidang akademik namun lebih kepada kecerdasan lainnya.
Setiap orang terlahir cerdas dengan cara yang berbeda. Dengan demikian, kecerdasan dapat ditingkatkan dengan pola pembelajaran dan pengembangan diri yang sesuai dengan kelebihan setiap individu.
Jadi sekali lagi, tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak dengan kecerdasan yang berbeda dengan temannya. Bila sebagai orang tua kita memahami keunikan kecerdasan anak, maka kita dapat mengarahkannya untuk menggunakan kecerdasan secara maksimal. Dengan mengenali kelemahannya, dapat membantunya untuk mengembangkan diri. Dengan motivasi dan pembelajaran yang memadai, anak bisa memiliki kompetensi cukup untuk tiap kecerdasan.
Jadi bagaimanakah peran serta kita sebagai orang tua untuk memaksimalkan kecerdasan anak? akan kita bahas dalam artikel berikutnya
Sumber : Multiple intellligence (Howard Gardner) dan Meningkatkan kecerdasan anak (Claire Gordon & Lynn Huggins – Cooper).
One thought on “Benarkah anakku bodoh?”