
Apabila ditanya apakah hal yang paling ditakuti oleh saya sebagai seorang working mom selain menyangkut kesehatan ananda? Maka jawabannya adalah saat pengasuh anak mengatakan akan berhenti bekerja dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan tidak betah, orang tua sakit, akan menikah sampai ada yang berkilah ingin mencari pengalaman baru. Dan ternyata saat saya menanyakan hal yang sama kepada kepada teman- teman sesama wanita bekerja yang juga memiliki anak masih kecil, jawabannya tidak jauh berbeda.
Permasalahan seputar pengasuh ananda ini sudah menjadi polemik bagi seorang working mom. Keberadaannya yang harus meninggalkan anandanya untuk bekerja tentunya membutuhkan orang yang dapat diandalkan untuk menggantikannya mengasuh ananda selama ia bekerja. Dan idealnya pengasuh ini bukanlah sekedar memberi makan, menemani main atau menjaga jaga tapi seyogyanya merupakan perpanjangan tangan seorang bunda. Yang artinya mereka juga dapat menjadi perpanjangan tangan orang tuanya, mengajarkan hal yang secara rutin dibiasakan sejak kecil.
Tapi pada prakteknya ternyata seorang pengasuh seringkali tidak bekerja lama di suatu tempat. Layaknya generasi millenia, seringkali mereka hanya bertahan sehari, sebulan, 3 bulan atau maksimal sepanjang garansi yang diberikan oleh yayasan atau penyalur. Jarang sekali yang bisa bekerja di suatu tempat selama setahun atau bahkan bertahun – tahun.
Turn over yang tinggi tentunya kemudian menjadi permasalahan bagi ibu bekerja . Ketergantungan yang tinggi terhadap sang pengasuh alias Asisten rumah tangga (ART) ataupun baby sitter ini membuat bunda harus segera memperoleh gantinya bila mereka berhenti bekerja. Pertanyaan berikutnya, bagaimanakah cara mendapatkan pengasuh tersebut?
Secara umum, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh asisten rumah tangga, yaitu melalui makelar/penyalur dan yayasan. Ada kelebihan dan kekurangan dari masing- masing cara tersebut. Berikut kita bahas lebih lanjut yaa
1. Penyalur
(+) Jasa administrasi yang tidak begitu besar. Jasa administrasi biasanya merupakan poin cukup penting saat seorang bunda memilih menggunakan jasa penyalur daripada yayasan. Biayanya saat ini berkisar antara Rp.750.000 sd 1.250.000.
(+) Penyalur langsung terlibat dalam mencari pengasuh. Biasanya pengasuh yang ditawarkan merupakan saudara, kerabat atau kenalan yang diperoleh langsung dari kampung. sehingga apabila ada masalah lebih cepat ditangani karena penyalur mengetahui keluarga pengasuh tersebut.
(-) Stok yang terbatas. Apabila pengasuh yang dipekerjakan ingin berhenti dengan berbagai alasan sedangkan waktu garansi masih belum habis, relatif sulit mendapatkan gantinya. Ini merupakan masalah cukup besar bagi seorang working mom. Hal ini terjadi terkadang saat keinginan pengasuh untuk berhenti sudah sangat besar dan tidak dapat ditahan lagi yang berimbas kerja malas-malasan atau sampai kabur, sedangkan penyalur belum mendapatkan gantinya.
(-) Keamanan kurang terjaga. Penyalur biasanya merupakan perorangan yang tidak terdaftar secara resmi. Jadi apabila pengasuh terlibat kriminal dan bahkan mungkin bekerjasama dengan penyalurnya, maka akan sulit untuk dilaporkan kepada yang berwajib.
2. Yayasan
(+) Stok pengasuh cukup banyak. Biasanya yayasan akan memberikan garansi selama beberapa waktu dan saat pengasuh atau asisten rumah tangga ingin berhenti, bunda bisa langsung memilih ganti. Ini sangat membantu apabila asisten atau pengasuh minta berhenti mendadak. Karena berdasarkan pengalaman, saat sudah ingin berhenti mereka tidak bisa ditahan lama lagi untuk mendapatkan ganti. Semakin ditahan lama, pengasuh akan kerja asal-asalan atau bahkan kabur. Tentunya ini menjadi masalah untuk bunda yang memiliki bayi masih bayi atau kecil dan tidak bisa cuti lama.
(+) Biasanya yayasan sudah terdaftar secara resmi. sehingga bila ternyata ada permasalahan misalnya Pengasuh mencuri atau kabur, bisa langsung ditangani mereka dan bahkan bisa langsung menghubungi pihak berwajib.
(-) Kekurangannya adalah biaya administrasi yang cukup besar. Kisaran administrasi saat ini Rp. 1.800.000 – 3.000.000 untuk masa penggantian 2 – 6 bulan.
(-) Terkadang ada beberapa yayasan yang melakukan perjanjian dengan pekerjanya. Yayasan tersebut akan memberikan fee kepada pekerja apabila pekerja bersangkutan kembali ke yayasan setelah masa garansi habis. Yayasan kemudian akan menyalurkannya kepada majikan baru dan akan mendapatkan admin kembali. Hal ini membuat para pekerja hanya akan bekerja selama 2-3 bulan atau sampai dengan garansi habis dengan tujuan agar mendapatkan tambahan uang dari admin fee. Imbasnya, para pengasuh tersebut hanya akan bertahan kerja dalam hitungan bulan ditempat bunda.
Setelah menentukan cara mendapatkannya,selanjutnya yang perlu bunda pikirkan adalah cara menyeleksi para pengasuh tersebut. Berdasarkan pengalaman saya menggunakan baby sitter ataupun asisten selama 10 tahun, saya menggunakan beberapa pertimbangan untuk memperkerjakan seorang art :
- Penampilan fisik. Kenapa ini menjadi pertimbangan utama saya? Bukan saya mendiskriminasikan orang berdasarkan tampilannya, namun ini lebih kepada kebutuhan saya dalam mempekerjakan mereka. Apabila saya mencari pengasuh untuk merawat anak, maka saya menginginkan pengasuh anak saya harus terlihat bersih. Tidak ada penyakit kulit, kuku tangan harus bersih, rambut terikat rapi dst. Selain itu, kriteria fisik pengasuh saat anak saya bayi akan berbeda dengan saat anak saya telah batita juga. Untuk mengasuh anak yang sudah batita, saya lebih memilih pengasuh yang masih muda dan kurus. Ini mengingat usia anak yang sedang aktif sehingga memerlukan pengasuh yang cekatan. Yang tentunya hal ini tidak berlaku untuk pengasuh bayi.
- Pengalaman kerja. Biasanya untuk mengasuh anak yang masih bayi, saya mensyaratkan pengasuh yang sudah memiliki kemampuan mengasuh bayi sebelumnya. Sebaliknya saat memilih pengasuh untuk anak saya yang sudah batita, saya lebih memilih pengasuh yang belum begitu berpengalaman namun mau belajar.
- Asal daerah. Kriteria ini lebih ke subyektifitas saya. Selama ini, saya pernah beberapa kali mempekerjakan asisten rumah tangga dari suku tertentu dan ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Sehingga untuk sekarang saya lebih memprioritaskan untuk mempekerjakan baby sitter atau art dari daerah tertentu.
- Lulus dalam wawancara. Hal yang wajib dilakukan sebelum memutuskan untuk menerima mereka bekerja adalah mereka harus lulus wawancara dengan saya. Biasanya wawancara saya lakukan melalui telepon atau video call. Karena keterbatasan waktu, saya memang tidak mendatangi langsung lokasi yayasannya. Saya mengandalkan komunikasi melalui telepon dan whattsap untuk memilih pekerja, baru kemudian pekerja tersebut diantar oleh yayasan ke rumah saya. Beberapa pertanyaan yang biasa saya tanyakan antara lain : Nama dan umur pekerja, daerah asal pekerja, Pendidikan terakhir, anak keberapa, apa tujuan bekerja, pengalaman bekerja sebelumnya (berapa lama bekerja ditempat sebelumnya, apakah majikan sebelumnya bekerja atau tidak, apa yang dilakukan ditempat sebelumnya, dst).
- Selain poin 1-4, pada akhirnya saya mengandalkan intuisi dalam membuat keputusan untuk mengambil pekerja tersebut. Terkadang saya sering terpaksa memperkerjakan seorang ART padahal sudah tidak sreg dari awal. Dan ternyata akhirnya ternyata benar bahwa ART itu tidak baik, misalnya mencuri, berbohong dst.
Demikian sedikit pengalaman yang bisa saya bagi terkait Asisten Rumah Tangga ataupun Baby Sitter. Semoga membantu yaaaaa ^_^
One thought on “Asisten Rumah Tangga… Kisahmu Kini…”