Marzia

Prolog

Dia memiliki segalanya. Orang tua yang penyayang. Harta yang bergelimang. Kekasih yang baik hati yang mampan dan tampan. Sahabat sekaligus teman masa kecil yang loyal.

Tapi itu dulu. Saat ini apa yang ia punya? Yang ia miliki hanyalah kenyataan bahwa ia telah kehilangan. Walau satu hal yang pasti, ia tidak kehilangan kekayaan. Karena harta yang ia miliki setidaknya tidak akan habis bila ia hanya duduk bermuram durja. Dan tidak akan habis juga bila ia gunakan untuk mengejar mimpinya yang sedikit tertunda. Tidak ada kata terlambat walau kini ia akan pergi dengan hati terluka. Hati yang tidak akan pernah utuh lagi sebagaimana semula.

Bab 1 Pertemuan Pertama

Zia mengernyit saat merasakan cairan kental berwarna hitam pekat itu mengaliri tenggorokan. Ia meletakkan gelas minuman yang baru berkurang sedikit sekali.

Gadis cantik itu mendengus. Ternyata kopi yang digembar gemborkan nikmat tersebut tidak lebih enak dari kopi instant yang dijual dipasaran, hanya menjual kemasan keren dan iklan yang bombastis semata.

Zia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menekan tombol speed dial 1.

“Saya tunggu di lobby ya.” Gadis tersebut lalu meletakkan selembar lima puluh ribu di atas meja sebagai tip. Ia kemudian berdiri, menatap pantulan dirinya dari kaca besar yang melapisi tembok diseberangnya. Senyum puas tergambar diwajahnya sebelum ia melangkah meninggalkan cafe dengan dekorasi modern tersebut.

Matahari bersinar sangat terik di langit jakarta siang. Kawasan sudirman yang seakan tidak pernah absen dengan kemacetan. Di kiri dan kanan jalan terlihat …. galian jalan makin menambah kesemrawutan.

Marzia mengalihkan pandangan dari laptop dihadapannya. Namun alih- alih menghilangkan kepenatan, ia malah semakin stress melihat betapa semrawutnya jalanan.

6 tahun telah berlalu. Jakarta tidak berubah. Panasnya, semrawutnya, bisingnya, kesibukannya dan kejamnya. Seulas senyum miris tersungging di bibir gadis itu. Ia menggeleng pelan. Bukan Jakarta yang kejam. Tapi manusia yang tinggal di dalamnya. Dan bodohnya ia begitu mencintai orang- orang kejam itu.

Zia menarik nafas panjang. Memalingkan wajah kembali ke laptop saat dering pesan masuk berbunyi di ponselnya. Dahinya mengernyit saat membaca pesan tersebut lalu kemudian menyebutkan sederetan kata yang merupakan alamat tersebut kepada Pak hari, sopirnya.

—///

Mobil melambat saat memasuki sebuah cafe kecil di bilangan kota depok. Zia keluar dari mobil dan merenggangkanntubuhnya. Lumayan juga waktu yang ditempuh. Hampir dua jam menembus kemacetan kota jakarta dan sekitarnya.

Mata gadis itu memindai mencari sosok yang telah mengiriminkan pesan untuk datang kemari. Dan sosok itu ia temukan sedang sibuk menatap ponsel. Sebatang rokok terselip di jarinya.

Zia berjalan gegas, mengambil rokok dan menekan rokok di asbak hingga mati. Hanya dalam hitungan detik bahkan sebelum sosok itu menyadarinya.

Makian langsung keluar dari bibir mungilnya.
“Astaqfirullah Joanna, mulutnya di rem sedikit kenapa? Sekali-kali mulut lo itu perlu dicuci pake cuka biar bersih.”

“Sialan. Lo pikir mulut gw besi berkarat apa!” Gadis itu kemudian berdiri, memeluk Zia singkat sambil tetap mengoceh.

Joanna Ariesta. Gadis imut dengan potongan rambut pendek itu hari ini mengenakan kaos selebor dengan celana pendek.

Mata Ziamelotot saat menyadari betapa pendeknya celana yang dikenakan teman sekaligus asisten kepercayaannya itu.
“Ya ampun Jo, baju rumah kok lo pake kesini? Paha lo kemana-mana itu. Wajar tadi banyak cowok yang ngeliat kearah sini.

Joanna terkekeh
“Marzia Hilya, apa perlu gw perjelas kalau mata cowok-cowok itu mulai melotot sejak elo masuk keruangan ini? “
Joanna berdecak. Ia tidak pernah tidak merasa kagum pada penampilan gadis didepannya ini.

Teman kesayangannya itu hari ini mengenakan gamis berwarna tosca. Selembar hijab berwarna serupa meliingkari wajah tirusnya. Sederhana namun berkelas. Sangat pantas dikenakan desainer berbakat sepertinya.

Marzia hanya tersenyum sambil duduk di kursi didepan Joanna.
“Jadi, apa hal istimewa disini yang membuatku harus kehilangan dua jam berhargaku hanya untuk menempuh perjalanan kesini?”

“Kayanya mendingan lo pesan dulu deh baru kita ngobrol.” Jo melambaikan tangan memanggil waitress yang berada tidak jauh dari mereka.

“Lo mau makan apa?”

Marzia menggeleng “Kopi saja.”

Jo lalu menyebutkan sebuah nama sambil menunjuk gelas didepannya.

“So?” tanya Zia setelah pelayan tersebut pergi.

“Sebentar. Gw ke kamar mandi dulu.” Jo bangun dan bergegas menuju kamar mandi.

Zia mengedarkan pandang. Cafe ini menarik. Interiornya didominasi warna bata dengan tanaman di beberapa sudut ruangan. Gambar dan hiasan mobil klasik memjadi hiasan utama. Kafe kecil yang nyaman.

“Silakan Bu, selamat menikmati.” Ujar pelayan yang mengantarkan makanan. Secangkir kopi dan sepotong round scones. Dari tampilannya cukup menarik.

Dengan antusias Zia menghirup aroma dan kemudian menyesap minuman kesayangannya tersebut. Sedetik kemudian ia tertegun. Ia kembali meneguk isinya. Gadis itu tersenyum.

Tangannya terulur mengambil round scones dan menggigitnya. segigit demi segigit hingga habis.

“Gimana, enak kan?” Tanya Joana sambil duduk.

Zia mengangguk antusias.
“Keren lo, Jo. Bisa aja nemu kopi seenak ini di tempat antah berantah begini.”

“Hus, bisa abis lo sama netizen disini kalau dengar becandaan lo begitu.

Zia mengibaskan tangan
“So, dimana pemilik tempat ini? Gw mau ajakin kerjasama. Kalau perlu, seluruh tim kita angkut ke …

“Calm down, Jo. Lo harus berstrategi kalau ngadepin ownernya. Kalau ngeliat lo kaya gini, salah-salah dia bisa jual mahal.”

“Kenapa emgnya? Lo kenal ownernya?”

“Ya, he’s freaky hot Don Juan.”

Marzia mengernyit bingung

“Baru diomongin keluar orangnya. Tuh si doi.”
Jo menunjuk seorang pria yang sedang melangkah cepat keluar ruangan.

“Hei tunggu.” Spontan Marzia mengejar pria itu, tanpa sempat Joanna cegah.

Pria itu berbalik menghadap Marzia. Pria berambut coklat itu menatap dengan netra abu nya.

Dan seketika Marzia kehilangan kata.

Hai Hai… akyu bikin cerita baru lagi. Tapi…buat yang penasaran sama ceritanya, novel ini ga bakal bisa ditemui di Wattpad. Jadi, aku sednag nyobain platform nulis baru buatan anak negeri, Ketix namanya.

So, buat yang penasaran sama lanjutan cerita Marzia, boleh dibaca di Ketix yaaa

See you☺️

 

 

 

 

Leave a comment