
Ketika niatmu sudah mantap
Ikhtiarmu sudah lengkap
Dan ternyata semua rencana akhirnya terserak
Maka hadapi dengan senyuman
Karena sejatinya Allah Swt yang menetapkan
Takdirmu sudah dituliskan
Tugasmu menerima dengan ikhlas dan hati yang lapang
Seperti yang pernah aku janjikan di instagram, kali ini aku ingin sedikit berbagi tentang cerita yang menginspirasi quotation diatas. FYI, quotation diatas aku tuangkan dalam tulisan dengan kondisi tangan yang masih tertusuk jarum infus.
Aku merupakan orang yang terbiasa hidup dalam perencanaan dan kerapkali membuat target dalam hidup. Di awal tahun aku telah menargetkan untuk mendapatkan gelar sertifikasi minimal satu di tahun 2019. Oleh karena itulah, aku mendaftarkan training persiapan sertifikasi dan telah disetujui oleh perusahaan.
Awalnya training tersebut dijadwalkan dilaksanakan pada bulan September namun karena ada beberapa kendala akhirnya mundur ke bulan Oktober. Sekitar 3 minggu sebelum pelaksanaan training, aku dan beberapa teman yang mengikuti training yang sama mulai mengajukan Surat Perjalanan Dinas dan kebutuhan administrasi lainnya.
Karena bertepatan dengan jadwal libur Kakak Kiya, aku merencanakan untuk membawa keluarga ke Bandung. Perjalanan direncanakan menggunakan kereta api, pengalaman pertama bagi krucil menggunakan kereta api ke luar kota. Tiket kereta api untuk tujuh orang sudah dibeli dan kamar hotel untuk keluarga juga sudah dibooking melalui agoda. We are ready to go ^_^
Pada hari Selasa atau sekitar 5 hari sebelum keberangkatan, tiba- tiba aku demam. Feeling mulai tidak enak jangan- jangan terkena cacar, karena 2 minggu sebelumnya Kiya memang terkena sakit cacar. Namun alhamdulillah kondisinya tidak berat, bahkan ia tidak panas dan bintil- bintil cacarnya juga hanya sedikit. Namun aku mencoba positif thinking, semoga ini hanya demam biasa. Di hari itu aku memutuskan untuk beristirahat di rumah. Esoknya karena sudah baikan, aku memutuskan untuk bekerja.
Selama beberapa malam itu aku tidak dapat tidur, badan terasa panas didalam dan mengggil. Di hari sabtu atau H-1 sebelum keberangkatan, aku mendapati ada satu bintik di tubuh. Panas tubuh juga semakin meningkat sehingga kuputuskan untuk ke dokter. Dan ternyata benar saudara- saudara, aku terkena cacar. Setelah didiagnosa terkena cacar, aku langsung menghubungi kantor untuk membatalkan perjalanan dinasku.
Keesokan harinya, suamiku juga didiagnosa terkena cacar. Saat itu demamku juga semakin tinggi. Kondisiku yang sudah semakin lemas ditambah diagnose tipes dan sakit mata juga membuatku akhirnya dirawat di rumah sakit. Dan untuk efisiensi, mengingat suami juga diisolasi di rumah (untuk menghindari khaleev terkena cacar), suami juga dirawat di Rumah Sakit.
Hari ketiga setelah dirawat atau 5 hari setelah didiagnosa terkena cacar, aku mendapat kabar kalau pengasuh khaleev juga terkena cacar. Asisten Rumah Tangga yang lain juga terkena cacar. Aku semakin panic, karena berarti anak- anak tidak ada yang mengasuh.
Setelah konsultasi dengan dokter, aku diperbolehkan untuk pulang ke rumah karena potensi menularkan melalui udara sudah kecil. Namun yang harus berhati- hati adalah apabila bintik cacar pecah, maka cairan tersebut akan menularkan. Maka aku dengan mengenakan masker bisa mengasuh anak- anak sehingga ART bisa beristirahat dahulu selama beberapa hari. Alhamdullilah, dalam seminggu pelan- pelan kondisi suami dan mbak-mbak juga mulai membaik.
Aku sempat berpikir, kok bisa ya sakit varicella atau cacar yang kelihatannya sepele kok efeknya bisa sedashyat itu? Ternyata setelah berdiskusi dengan dokter dan mbah google, justru dampak yang ditimbulkan penyakit cacar kepada orang dewasa bisa jauh lebih parah daripada apabila diderita saat masih kecil. Karena virusnya menyerang ke banyak organ seperti mata, hidung, mulut , dan bahkan beberapa orang ada yang sampai terkena pneumonia. Seperti kondisiku yang demam mencapai 40 derajat dan juga terkena sakit mata
Manusia bisa berencana namun Allah Swt yang memutuskan. Tugas hambanya hanya menerima dengan ihlas. Rencana yang sudah aku susun dari awal tahun langsung buyar di hari H karena suatu penyakit. Insya Allah ada rencana lain dari Allah Swt untukku.
Dibalik setiap kebaikan ada keburukan dan begitu pula sebaiknya. Dan Allah Swt maha mengetahui hikmah dibalik kejadian.
Mungkin aku diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk benar- benar beristirahat. Allah Swt memberi kesempatan bagiku untuk menghabiskan waktu lebih banyak dengan suami dan anak- anak. Allah Swt memberi kesempatan untuk menggugurkan dosa-dosaku dan keluarga. La ba’sa thahurun, Insya Allah.
Wallahu a’lam bisshowab