Saat Corona Menyapa

Setelah berbulan- bulan mati suri, alhamdulillah akhirnya aku bisa kembali megupdate blog ini. Bisa dibilang bukan cuma blog ini yang lama ga ditengok, tapi IG, wattpad dan ketix pun lama terabaikan. Alasannya karena dari awal tahun aku diberikan berbagai ujian oleh Allah Swt. Dimulai dari asisten yang keduanya mendadak pulang kampung, perjuangan mendapatkan prt yang cocok, si kecil yang tidak mau ditinggal ibunya pasca pengasuhnya pulang, Mama yang sakit, operasi hingga pasca operasi.

Dan kisah pun berlanjut setelah itu. Belum lama dari mama operasi, Pak Jokowi mengumumkan kalau di indonesia sudah ada yang positif corona. Kali ini aku ingin sedikit membahas tentang Corona. Bukan dari perspektif kesehatan tentunya, karena aku tidak punya kapasitas untuk itu. Ataupun sudut pandang bidang lainnya, karena aku bukanlah ahli di suatu bidang. Aku hanya ingin membahas dari sudut pandang orang biasa. Sudut pandang seorang ibu yang bahagianya sesederhana melihat keluarganya aman dan nyaman.

Corona mulai familiar ditelingaku pada akhir Desember 2019 dan semakin santer sesudahnya. Berita tentang ganasnya virus tersebut, jumlah korban yang sangat banyak, tingkah para warga untuk melindungi dirinya terlihat cukup mencengangkan dan menakutkan. Melihat foto korban meninggal, bahkan ada satu keluarga yang meninggal dan semua jasadnya dimasukkan ke dalam plastik menimbulkan krngerian tersendiri. Melihat gambar -gambar orang yang berjalan dengan menggunakan jas hujan diseluruh tubuhnya, ada yang kepalanya sampai ditutup galon minum membuatku cukup bertanya-tanya, apakah sebegitunya menyeramkan ya?

Di pertengahan bulan januari, suami sudah mulai mewanti- wanti untuk selalu mengenakan masker, selalu membersihkan tangan dengan sanitizer dan mulai mengurangi jalan- jalan saat weekend. Tapi karena melihat keadaan sekitar yang cenderung santai, aku menjadi kurang konsisten dalam menggunakan hand satinizer dan masker. Karena kesannya aku psycho sendiri. Apalagi respon pemerintah pun terlihat santai, bahkan mengeluarkan pernyataan bahwa virus bisa ditangkal dengan jamu atau makan nasi kucing. Akses keluar kota dan negeri pun masih dibuka dan bahkan diberikan diskon untuk harga tiket serta penginapan.

Meskipun cerita dari Wuhan terdengar begitu menakutkan namun  kerap kuabaikan karena terkesan tidak berdampak pada negeri ini. Pada akhir bulan Januari, tiba- tiba kami menjumpai keanehan. Mendadak gula hilang dari pasaran. Benar Saat itu seperti titik balik bagiku. Saat itulah aku memutuskan untuk mulai serius mengantisipasi imbas corona yang mulai masuk ke negeri ini. Kami mulai membeli masker, sanitizer dan barang – barang kebutuhan pokok lainnya. Tidak banyak, hanya untuk kebutuhan darurat keluarga kami.

Dan setelah cukup lama dalam ketidakpastian dan harap- harap cemas, akhirnya pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi resmi mengumumkan bahwa sudah ada penderita Covid- 19 di Indonesia. Dan seperti yang dapat diduga, respon masyarakat luar biasa. Bahkan yang cukup membuatku miris, di lingkungan kantor saja masih banyak yang merespon berlebihan. Ada beberapa  kolega di kantor yang kupikir seharusnya sangat melek dengan perkembangan dunia ternyata justru terlihat sibuk bolak balik mencari masker ke klinik. Astaqfirullah, bila orang berpendidikan dengan akses teknologi tak terbatas saja tidak aware dengan covid-19 bagaimana dengan rakyat kurang berpendidikan dengan akses teknologi sangat terbatas? Bagaimana masyarakat didaerah terpencil? Dan imbas dari pengumuman pemerintah selanjutnya adalah panic selling. Hampir semua tempat perbelanjaan ramai. Beberapa barang- barang kebutuhan pokok habis. Alhamdulillah saat itu kami memiliki persediaan yang cukup setidaknya sampai pemerintah dapat menormalkan lagi distribusi kebutuhan sembako bagi masyarakat.

Kemudian ritme kehidupan pelan mulai berubah. Tanggal 6 Maret, kantorku mulai memberlakukan  working from home. Kantor suami pun menerapkan hal yang sama. Dan setelah itu ketakutan pelan –pelan mulai menyelinap ke jiwa. Berbagai berita korban jiwa yang terus meningkat, harga minyak yang turun drastic, keadaan ekonomi yang makin memburuk merupakan konsumsi jiwa setiap harinya.

Keluarga kami juga mulai menerapkan aturan kebersihan yang sangat ketat. Aturan yang kami terapkan antara lain :

  • Tidak boleh ada anggota keluarga yang keluar rumah, kecuali untuk jalan didalam komplek itu pun dengan pendampingan.
  • Setiap orang yang keluar rumah harus cuci tangan dan kaki sebelum memasuki rumah.
  • Setiap barang yang diterima dirumah harus diletakkan dahulu di box yang disediakan. Kemudian bungkusnya didisinfektan dan didiamkan selama beberapa lama baru kemudian dibuka. Isi paket langsung dicuci dengan sunlight. Apabila paketnya makanan jadi maka langsung dipanaskan dan diganti wadahnya.
  • Belanja sebagian besar dilakukan secara online. Hanya aku dan suami yang diperbolehkan keluar komplek. Setiap sabtu/ minggu sore aku dan suami pergi keluar untuk belanja buah dan kebutuhan lainnya. Kami harus langsung mandi sesampai di rumah.

Dan ternyata mau seketat apapun usaha yang dilakukan manusia, tetap tidak dapat  menjamin tidak akan tertular virus Covid-19. Aku akan share sedikit kisah saat aku harus menjalani isolasi mandiri karena berpotensi sebagai ODP/ Orang tanpa gejala.

Beberapa minggu lalu aku harus pergi ke kantor karena ada keperluan yang tidak dapat diwakilkan. Saat Itu kepergianku ke tempat ramai untuk pertama kalinya setelah sebulan. Aku berada dikantor tidak lama hanya sekitar 20 menit. Saat dikantor menuju ke lantai tempat kerja, aku melewati 2 gedung, jalan, selasar, lift. Di tiap lantai bawah dan tiap lantai diharuskan mengisi absen tulis selain absen id card. Pulpen disediakan. Kantor hanya membuka 3-4 lantai perhari (karena kantor dibuka 3 hari). Persyaratan yang boleh datang ke kantor harus sehat dan  wajib menggunakan masker. Ada pemeriksaan suhu tubuh juga sebelum masuk.

Aku datang ke kantor pada hari Rabu tanggal 15 April 2020. Saat itu aku juga menerapkan prosedur pengamanan diri yang cukup ketat. Aku mengenakan masker, menggunakan jas hujan sebagai APD, membawa tusuk gigi yang aku gunakan setiap menyentuh tombol lift  dan selalu menggunakan sanitizer selesai menyentuh apapun. Saat pulang sebelum masuk mobil aku juga membuka jas hujan, mengganti jilbab dan sepatu terlebih dahulu.

Hari jumat sore kami diinfokan kalau ternyata ada PDP yang ke kantor juga pada hari yang sama dengan kedatanganku ke Kantor. Saat dia kekantor belum sakit dan baru sakit di hari kamis. PDP tersebut ternyata selantai denganku, hanya beda divisi. Kantor langsung melakukan penelusuran dan diperoleh daftar orang yang  melakukan kontak langsung. Untuk yang kontak langsung dengan PDP itu harus rapid test sedangkan sisanya cukup isolasi mandiri dirumah.

Saat itu aku sempet shock. Aku termasuk yang tidak kontak langsung tapi ada kemungkinan untuk terkena karena akses  menuju dan berada di lantai yang sama dengan PDP. Yang membuat lebih psiko, informasi diperoleh setelah beberapa hari berlalu dan aku terlanjur kontak dengan keluarga. Dan yang membuat lebih shock bahwa ternyata  teman – teman yg rapid test  banyak yang positif utk sementara😭 (harus menunggu hasil swab dl).

Tapi kemudian aku berusaha berpikir positif. Aku pikir untuk apa stress, yang bisa kulakukan hanya tawakal dan meningkatkan imun sekeluarga. Kalau pun ternyata aku terlanjur tertular, bila imunitas kami bagus, insya Allah dalam 14 hari virusnya akan mati sendiri. Alhamdulillah tepat hari ini 14 hari sudah berlalu, yang berarti insya Allah aku dan keluarga aman dari penularan covid dari teman yang menjadi PDP tersebut.

Lesson learnednya adalah, dalam kondisi yang serba tidak menentu ini, yang bisa kita lakukan hanyalah :

  1. Prepare yourself as best as you can.                                                                               Lingkaran penderita Covid sudah semakin mengecil mendekati kita. Kita tidak bisa menghindar akan mungkin ada saatnya kita akan bertemu dengan penderita covid. Jadi yang bisa dilakukan adalah langkah pencegahan dari kita. Seperti menggunakan masker, jas hujan, selalu membersihkan tangan/ menggunakan sanitizer setiap selesai menyentuh sesuatu, ganti kostum dan sepatu sebelum pulang kermh dsb. Apabila qadarullah kita akhirnya ODP maka jangan stress. Tingkatkan imun, olahraga, makan dan istirahat cukup. Bertawakal saja.
  2. Menyibukkan diri dengan kegiatan positif.                                                                       Lebih baik kita mengalihkan pikiran kita dari hal – hal negative kearah positif. Misalnya di bulan puasa ini kita bisa lebih banyak beribadah. Selain itu kita juga kita memiliki kelebihan materi bisa digunakan untuk membantu sekitar kehidupannya saat ini mungkin sangat berat akibat COvid -19. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan bagi semua dan menjadi lading pahala bagi kita.
  1. Sabar dan tawakkal.                                                                                                                    Ini Fase yang cukup sulit. Namun insya Allah apapun kesulitan yang kita hadapi di saat ini akan diberikan jalan keluarnya oleh Allah Swt selama kita ikhtiar, bersabar dan tawakkal.  Do your best and lets Allah do the rest 😊

Fraud Audit in Oil and Gas

Assalamualaikum wr wb

Beberapa waktu yang lalu saya diundang menjadi narasumber workshop berjudul Fraud Audit in Oil and Gas yang diadakan oleh Association of Certified Fraud Examiner (ACFE).  Acara workshop tersebut diadakan tanggal 12 Maret 2020 bertempat kantor sekretariat ACFE Indonesia Chapter, Menara Taspen Lantai 07.

Workshop tersebut dihadiri oleh beberapa perwakilan dari industri baik yang berasal dari migas ataupun non migas antara lain dari KPK, Kementrian keuangan, Conoco Phillips dan anak perusahaan pertamina.

Acara yang berlangsung selama 1 hari tersebut membahas tiga topik yaitu :

  1. Fraud in Oil and Gas Sector
  2. Fraud dan Modus Operandi dalam Industri Oil and Gas

  3. Fraud Prevention, Detection and Investigation dalam industry oil and gas

Saya bukanlah master dalam audit migas. Namun pengalaman melakukan audit minyak dan gas bumi selama 10 tahun yang diperkaya dengan teori ACFE dan CPA cukup memberikan bahan untuk berbagi dan bertukar pikiran dengan peserta workshop. Diskusi yang cukup panjang dengan teman – teman dari KPK juga makin memperkaya materi yang ada.

One of very nice day ^_^

 

WhatsApp Image 2021-08-31 at 2.20.13 PM

 

Puding Roti Zebra

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Diawal tahun yang baru , kesibukan mamak rempong ternyata tidak berkurang. Memang load pekerjaan di kantor sedikit menurun, namun urusan  domestik rumah dan jualan ternyata bertambah. Alhamdulillah dinikmati saja ^_^

Dan seperti biasa, hasrat hati ingin bikin kue bersama krucil namun apa daya kesibukan dan waktu tidak memadai. Akhirnya setelah searching makanan yang gampang dan disukai anak- anak, pilihan jatuh pada Puding Zebra.

Biasanya saat membuat kue akan ditandai dengan  kerempongan krucil menanyakan apa yang menjadi tugasnya. Dan akhirnya akan berujung  pada rengekan dan tangisan karena berebut tugas. Karena itulah sebelum eksekusi, aku kerap telah membagi tugas kedua krucil itu. Misalnya kakaknya menimbang, adiknya mengocok telur dst.

Puding Zebra (Resep diambil dari facebook share)

Bahan

  1. Roti tawar 6 lembar
  2. 2 scht agar2 plain
  3. 1200ml susu cair full cream
  4. 170grm gula pasir
  5. 50 gr white coklat
  6. 50 gr dark coklat
  7. 1 sdm coklat bubuk

Langkah pembuatan

  1. Potong kecil roti tawar
  2. Blender roti dan susu cair (600ml)hingga lembut
  3. Masak roti yang telah diblender, 600ml susu cair, gula pasir dan agar. Diaduk hingga mendidih
  4. Pisahkan setengah adonan yg sudah dimasak. Tambahkan white coklat dan aduk2 hingga larut.
  5. Larutkan coklat bubuk dengan air panas. Masukkan larutan coklat bubuk dan dark coklat ke sisa adonan. Masak hingga larut.
  6. Siapkan loyang ukuran 18cm yang sudah dibasahi air.
  7. Masukkan 2 sendok sayur adonan putih bergantian dengan adonan coklat. Lakukan sampai habis.

Hasilnya seperti ini :

Kalau ditanya pendapatku untuk resep ini, jujur  nilainya rata- rata. Rasanya cukup lumayan, tidak begitu istimewa. Namun dengan bahan yang mudah didapat,  tampilan yang cukup menarik dan proses pengerjaan yang simple, resep ini patut dicoba bagi bunda sedang  mencari penganan baru untuk si kecil.

Selamat mencoba ^_^

Ibunda, Penentu Kokohnya Peradaban Manusia

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam kemajuan peradaban umat manusia. Maju- mundurnya peradaban suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan fungsi ibu didalamnya.

Sebelum kita membahas lebih lanjut , ada baiknya kita menjabarkan terlebih dahulu apa sebenarnya pengertian dari peradaban.

Pengertian peradaban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesai (KKBI) adalah :

  1. Kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin:
  2. Hal yg menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa

Sedangkan arti peradaban menurut salah satu ahlinya (Alfred Weber) adalah:

Peradaban mengacu kepada pengetahuan praktis dan intelektual serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang fungsinya untuk mengendalikan alam. Berbeda dengan Kebudayaan yang tersusun atas serangkaian nilai, prinsip, normatif, dan juga ide yang sifatnya unik Aspek tersebut lebih kepada sifat kumulatif dan lebih siap untuk disebar, lebih rentang kepada suatu penilaian, dan juga lebih berkembang jika dibandingkan dengan aspek kebudayaan. Peradaban sifatnya impersonal dan objektif, sedangkan kebudayaan tersebut sifatnya personal, subjektif dan unik.

Peradaban identik dengan gagasan tentang kemajuan sosial, baik dalam bentuk kemenangan akal dan rasionalitas terhadap dogma maupun doktrin agama, memudarnya norma – norma lokal tradisional dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan alam dan teknologi.

Ciri-ciri umum sebuah peradaban adalah sebagai berikut.

  • Pembangunan kota-kota baru dengan tata ruang yang baik, indah, dan modern
  • Sistem pemerintahan yang tertip karena terdapat hukum dan peraturan.
  • Berkembangnya beragam ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju seperti astronomi, kesehatan, bentuk tulisan, arsitektur, kesenian, ilmu ukur, keagamaan, dan lain-lainnya.
  • Masyarakat dalam berbagai jenis pekerjaan, keahlian, dan strata sosial yang lebih kompleks

Peradaban sudah dimulai dari jaman dahulu yang sering kali disebut dengan peradaban kuno dan terus berkembang hingga perkembangan peradaban saat ini yang didominasi oleh teknologi tinggi.

Perubahan sistem kehidupan, norma dan teknologi tersebut  tentu tidak lepas dari peran serta yang besar dari seorang ibu. Seorang ibu mengandung selama 9 bulan, melahirkan, menyusui, dan merawat anak- anaknya. Ibu juga merupakan madrasah pertama dan utama bagi buah hatinya.

Kepribadian dan karakter anak tidak lepas dari pola asuh ibunda.

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu. (HR. Al Bukhari).

Kedudukan seorang ibu sangat mulia dalam islam. Hal ini tidak lain disebabkan begitu besar peran seorang ibu dalam menciptakan suatu generasi penerus bangsa.

Kokoh tidaknya peradaban ditentukan dari ibunda. Dan kita sebagai seorang ibu dapat mulai menyiapkan generasi pembangun peradaban yang tinggi bahkan sejak ananda belum dilahirkan. Cara – cara yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Masa kehamilan

Sejak masih mengandung, seorang ibu telah berperan besar dalam perkembangan calon bayi. Ibu yang sehat dan bahagia akan menularkan energi positif tersebut ke janin yang sedang dikandungnya. Hal- hal yang dapat dipersiapkan sejak ananda masih dalam kandungan:

      a. Makan makanan bergizi

Sebuah jiwa baru lahir didalam perut seorang ibu. Ia butuh untuk berkembang dan memerlukan nutrisi untuk itu. Terkadang bila proses kehamilan cukup bermasalah, akan tidak memungkinkan untuk makan dalam jumlah banyak. Sehingga solusinya adalah  sesering mungkin untuk makan dalam jumlah sedikit namun bergizi.

Usahakan memilih makanan yang mengandung tinggi lemak omega 3 dan DHA yang mampu membantu dalam meningkatkan perkembangan otak janin secara optimal seperti ikan tuna, salmon, dan jenis ikan tawar. Anda juga dapat mengkonsumsi minyak ikan sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi janin anda. Sari kurma dan madu yang kaya akan multivitamin juga menjadi pilihan yang baik.

      b. Rangsang perkembangan otaknya

Otak ananda sudah mengalami perkembangan sejak masih berada dalam kandungan. Bahkan pada minggu ke-10, otaknya sudah mulai berfungsi. Sebagai bunda kita dapat membantu meningkatkan perkembangan otak ananda sejak dalam kandungan antara lain dengan :

  • Mengajaknya berbicara

Tahukah bunda bahwa sejak didalam kandungan buah hati kita sudah dapat mendengar suara kita? Bahkan berdasarkan penelitian, suara ibu dapat mempercepat denyut jantung janin karena lesatan sel syaraf janin. Ketika janin mendengar suara ibu maka denyut jantung janin akan bergerak aktif. Saat ritme jantung janin aktif, janin akan menyimpan kata-kata yang dikenal dengan istilah stimulasi kognitif.

  • Melakukan pengenalan secara visual dan auditori

Menurut penelitian yang dilakukan Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychology, cahaya redup yang didekatkan pada ibu akan mampu merangsang bayi. Namun cahaya hendaknya diberikan secara bertahap. Hindari pemberian cahaya yang terlalu terang karena akan mengganggu kenyamanan bayi.

Selain itu,pengenalan suara seperti musik klasik dan lantunan ayat suci alquran juga dapat merangsang perkembangan otak bayi.

Saya sendiri sejak kandungan berusia empat bulan sudah memperdengarkan ayat –ayat suci alquran melalui headphone yang saya sambungkan dengan pemutar lagu. Saya berharap lantunan ayat alquran akan meningkatkan kecerdasannya sekaligus bertujuan untuk  mengenalkannya dengan agama sejak dini.

  1. Kelahiran buah hati

Begitu besar perjuangan seorang ibu. Proses melahirkan bukanlah hal yang mudah. Terkadang ada seorang ibu yang harus meregang nyawa saat akan melahirkan buah hatinya. Proses melahirkan secara normal akan ditandai dengan kontraksi yang luar biasa namun fase pemulihan akan cenderung cepat. Bila seorang ibu melahirkan secara caesar biasanya proses pemulihan akan lebih lama. Namun ada kalanya seorang ibu bahkan terpaksa melewati dua fase tersebut, ia merasakan kontraksi dan ternyata pada akhirnya anaknya harus dilahirkan melalui proses caesar.

Seorang Ibu pada dasarnya hanya ingin memberikan yang terbaik pada anaknya terlepas dari seperti apakah proses bersalin yang dilakukannya. Namun seringkali proses persalinan tidaklah semudah yang diinginkan. Jadi keputusan proses melahirkan baik secara normal dan caesar sebaiknya lebih didasarkan pada pertimbangan kesehatan ibu dan calon bayi.

  1. Masa menyusui

Setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Asi memiliki semua zat penting yang dibutuhkan oleh sang bayi dalam pertumbuhannya seperti protein, AA, DHA, Omega 6, Laktosa, Taurin, Laktobasilus, vitamin A, Kolostrum, lemak, zat besi, laktoferin dan lisozim. Asi juga mengandung protein “whey” yaitu sejenis protein yang mudah diserap usus.

Keberhasilan seorang ibu menyusui dimulai dari saat bayi dilahirkan. Semakin sering bayi menyusui maka semakin banyak ASI yang akan dihasilkan oleh ibunda

  1. Madrasah (sekolah) utama bagi ananda

Seorang ibu merupakan orang pertama yang mengenalkan norma kepada ananda. Ibunda merupakan sekolah paling utama dalam membentuk karakter anak. Ibu bertanggung jawab dalam mendidik dan menanamkan berbagai perilaku mulia.

Agar dapat mendidik anak, baik pendidikan moril maupun fisik,  seorang ibu harus memiliki pengetahuan umum yang mendukung. Kesabaran seorang ibu juga diperlukan dan diperoleh tidak melalui proses pembelajaran yang sebentar. Oleh karena itu seorang ibu seyogyanya tidak boleh malas mengupgrade kemampuannya untuk menjadi pendidik bagi anak- anaknya.

Tidak ada ibu yang sempurna. Yang ada hanya ibu yang terus belajar dan berusaha memberikan untuk anandanya. Tanpa seorang ibu, kehidupan umat manusia tidak dapat berlanjut. Tanpa keperdulian seorang ibu, tidak akan ada generasi yang gemilang, sehat jasmani dan rohani. Tanpa didikan yang baik dari sesorang ibu, akan terbentuk karakter manusia yang mendukung kehancuran peradaban manusia.

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

 

Tetap Produktif di Waktu Sempit

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa teman seringkali bertanya bagaimana sih cara saya mengatur waktu. Seorang istri, ibu dari dua anak yang masih kecil, bekerja di kota Jakarta yang sebagian besar waktu habis karena kemacetan jalan, memiliki bisnis online shop di bidang fashion, tapi masih sempat- sempatnya menulis di blog dan platform lainnya. Belum lagi ditambah berbagai aktifitas agama dan sosial lainnya.

Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

Pernah dengar ungkapan diatas? Bisa dibilang ungkapan tersebut merupakan salah satu guideline saya dalam menjalani hidup. Memicu saya untuk selalu berusaha memilah – milah mana kegiatan yang bermanfaat.

Pada hakikatnya kunci manajemen waktu adalah pengendalian diri. Kita mengendalikan diri  sehingga dapat mengatur waktu dengan baik.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi kiat-kiat dalam management waktu antara lain:

1. Menentukan target awal tahun

Di awal tahun biasanya saya menentukan target dalam satu tahun. Kemudian baru dibuat to do list untuk mencapai target tersebut.

2. Menyusun jadwal kegiatan

Hal  penting yang tak pernah saya tinggalkan adalah menyusun jadwal. Jadwal yang disusun tersebut dapat berisi kegiatan rutin ataupun bagian dari to do list yang telah dibuat di awal tahun.

Biasanya di akhir minggu, say telah menyusun jadwal untuk seminggu berikutnya.
Misalnya dalam hal pekerjaan, biasanya saya telah membuat target pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu minggu. Target tersebut yang kemudian dituangkan ke dalam jadwal harian. Namun jadwal tersebut fleksibel apabila  ada kerjaan yang sifatnya adhoc ataupun urgent.

Dalam hal rumah tangga, setiap akhir minggu saya juga membuat jadwal makanan untuk seminggu ke depan. Jadwal makanan tersebut terpisah antara kakak dan adik, tergantung jenis makanan yang lebih disukai anak-anak. Saya juga membuat jadwal kegiatan anak – anak, seperti jadwal permainan bagi si kecil untuk meningkatkan tumbuh kembangnya, jadwal belajar untuk kakak dan jadwal murajaah untuk keduanya.

Dalam hal bisnis, biasanya saya membuat rencana produksi dalam tiga bulan ke depan. Untuk jadwal pemasaran dan lainnya disusun seminggu sampai dua minggu berikutnya. Ini akan memudahkan pekerjaan bagian admin online shop dan agar proses pemasaran sinkron dengan jadwal produksi.

Untuk personal life, saya kerap membuat jadwal aktifitas lainnya seperti jadwal hapalan Quran, jadwal quality time bersama ananda, jadwal sosialisasi bersama teman dan kerabat dsb.

3.  Memanfaatkan waktu luang

Agar jadwal yang telah disusun dapat terlaksana secara maksimal, saya banyak memanfaatkan waktu luang untuk melakukan banyak hal.

Saat perjalanan pergi pulang kantor, saya biasa menargetkan untuk membaca Al Quran dan menghapal Quran. Saya juga menyempatkan waktu untuk menulis novel ataupun artikel. Selain itu saya juga sering menyisipkan melakukan kegiatan urgent lainnya terkait urusan administrasi rumah tangga, memeriksa pelajaran ananda, urusan bisnis dan masih banyak lagi.

Saat istirahat siang di kantor juga kerap dimanfaatkan untuk olahraga, menambah ilmu agama, persiapan sertifikasi, belajar bisnis, namun tetap kuselipkan waktu bersosialisasi dengan rekan sejawat.

4. Menghindari menunda kerjaan

Diakui terkadang saat rasa malas atau lelah datang, keinginan untuk menunda kegiatan atau tidak melaksanakan jadwal yang dibuat sangatlah besar. Namun  selalu berusaha keras untuk tidak menunda kerjaan karena tertundanya suatu kerjaan akan berefek pada keterlambatan pekerjaan lainnya. Dan secara keseluruhan dapat merusak target yang telah dibuat sebelumya.

5.Membiasakan membuat note atau catatan

Satu hal yang tidak kalah penting adalah memiliki aplikasi note di ponsel. Setiap kali ada ide terlintas baik untuk bahan tulisan, model baju, inspirasi pemasaran, ide kegiatan anak – anak, akan langsung ditulis dalam note di ponsel. Hal ini sangat membantu dalam pengembangan tulisan, penyusunan jadwal dan bahan diskusi dengan suami, teman ataupun tim.

6. Mengutamakan kegiatan prioritas/ bermanfaat

Saya selalu membiasakan untuk mengutamakan kegiatan yang sifatnya prioritas. Kegiatan mana yang sifatnya urgent atau kegiatan yang lebih mendatangkan pahala seperti hapalan Quran lebih menjadi prioritas untuk dikerjakan terlebih dahulu.

Saya juga berusaha untuk tidak melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat seperti nonton korea Dan sinetron. Bagi saya tidak masalah kalau kegiatan dilakukan tersebut dilakukan sesekali untuk sekedar refreshing atau sebagai me time. Namun kalau rutin dilakukan akan menimbulkan ketergantungan dan menghabiskan banyak waktu yang seharusnya dapat dialokasikan untuk kegiatan  lain yang lebih produktif.

7. Menjadikannya sebagai kebiasaan

Alah Bisa Karena Biasa. 

Tentu kita sering mendengar pepatah tersebut. Apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, maka pekerjaan akan terasa mudah dan bahkan terasa Ada yang berbeda saat tidak dikerjakan lagi. Maka hal baik tersebut akan menjadi suatu kebiasaan baik.

Pada dasarnya saya termasuk orang yang tidak bisa diam. Oleh karena itulah saya ingin energi tersebut dialihkan untuk mengerjakan sesuatu yang bernilai produktif. Dan tentunya semua ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjadi orang yang lebih baik.

Yuk, kita sama – sama berusaha 😊

Indahnya berbagi🙏

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

 

Ibu bahagia, kunci kecerdasan ananda

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Pada edisi sebelumnya, aku telah membahas tentang keberadaan bunda sebagai center of emotion dalam keluarga Jangan lupa “me time” ya bunda 😊, Kali ini kita akan membahas bagaimana kaitannya emosi seorang bunda dengan kecerdasan anak.

When mama aint happy, aint nobody happy.

Pernah dengar ungkapan itu? Itu sebuah lagu lama. Inti lagunya cukup tepat menggambarkan bagaimana besarnya peran seorang bunda dalam keluarga. ketika seorang ibu tidak bahagia, baik secara sadar maupun tidak, akan menyalurkan energy negative (marah, benci, kesal). Keluarga akan tertular merasakan perasaan negative juga.  Sebaliknya bila seorang ibu bahagia maka akan menciptakan suasana yang menyenangkan. Kondisi harmonis bisa tercipta dan ternyata ujungnya dapat meningkatkan kecerdasan ananda. Kenapa bisa?

Sebelum pembahasan lebih lanjut, mari kita bahas dulu peran seorang ibu dalam rumah tangga :

1.Manager Urusan Rumah Tangga

Sebuah keluarga tentu membutuhkan seseorang yang dapat mengatur segala kebutuhan rumah tangga. Jika ayah memiliki peran sebagai pencari nafkah, ibu bertugas mengelola segala urusan rumah tangga termasuk keuangan keluarga. Seorang bunda mengatur segala kebutuhan keluarga, sandang dan pangan. Seorang ibu rumah tangga seyogyanya merupakan pengelola keuangan yang sangat handal, yang dapat memaksimalkan berapapun pendapatan yang diperoleh dari suaminya. Seorang working mom seyogyanya merupakan manager yang handal yang dapat mendelegasikan Dan mengatur support system dirumah sehingga Urusan administrasi dapat berjalan baik tanpa kehadiran langsung dirinya.

2. Koki

Bunda merupakan koki utama yang menyediakan makanan untuk keluarga. Bunda menyiapkan makanan utama, minuman dan cemilan. Percayalah meskipun masakan bunda tidak selezat koki professional tapi makanan seorang ibu akan selalu dirindukan oleh ananda.

 

3. Dokter sekaligus perawat

Pernah dengar ungkapan seorang ibu tidak boleh sakit? Jangan diartikan secara harfiah ya. Itu hanya menunjukkan betapa pentingnya peran seorang ibu. Bila ibunda sakit, roda kegiatan keluarga dapat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lantas bagaimana kalau anggota keluarga lain yang sakit? Disinilah biasanya kehadiran seorang ibu sangat dibutuhkan. Seorang ibu seyogyanya dapat mengetahui pertolongan pertama saat Ananda sakit. Tahu kapan saatnya ananda perlu dibawa ke rumah sakit atau cukup diobati dengan obat yang dijual bebas ataupun obat traditional. Seorang ibu akan sangat telaten merawat suami atau anak yang sakit. Meminumkan obat, mengompres, memandikan selayaknya perawat rumah sakit.

4. Pendidik bagi ananda

Ibunda merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sehebat  dan semahal apapun sekolah yang bunda pilih untuk anak, tetap saja seorang ibu tidak dapat berlepas tangan dalam mendidik anak-anaknya. Ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak terkait pendidikan dasar agama, moral, intelektual, psikologis Dan sosial. Ibu akan mengajarkan mana perilaku baik dan perilaku buruk. Karakter dan perilaku ananda tergantung dari asuhan bunda.

5. Psikologi, motivator, fashion designer dsb.

Masih begitu banyak peran bunda yang lain. Bisa dibilang seluruh aspek kehidupan keluarga tidak lepas dari peran serta bunda didalamnya.

Terus apa kaitan antara tingkat emosional bunda dengan kecerdasan Ananda?

Seorang bunda yang kebutuhan emosionalnya terkendali akan menjalankan perannya dengan baik. Ia akan dapat mengelola urusan rumah tangga dengan baik sehingga seluruh kebutuhan keluarga tercukupi. Ibunda akan mencari cara untuk menyediakan makanan yang sehat dan menyenangkan anaknya.

Ibunda yang bahagia juga akan mencari metode yang tepat dalam mendidik anaknya. Ia akan mencari cara yang paling tepat untuk meningkatkan kecerdasan Ananda. Ia akan mengamati metode pembelajaran yang tepat untuk anaknya apakah secara visual, auditori ataupun kinestetik. Ia dapat mengobservasi jenis kecerdasan ananda dan menentukan langkah – langkah yang tepat untuk meningkatkan kecerdasan anaknya (Meningkatkan kecerdasan anak)

Pada akhirnya ibu yang bahagia akan menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk bermain, belajar dan bersosialisasi.

Selanjutnya yang jadi pertanyaan, bagaimana menjadi ibu yang bahagia? Hanya bunda yang bisa merumuskannya. Karena kebahagiaan datangnya dari hati kita bukan dari lingkungan sekitar. Yuk sama- sama belajar menjadi bunda yang bahagia 😊

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Jangan lupa “me time” ya bunda 😊

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa waktu yang lalu aku membaca artikel tentang perbedaan antara otak laki – laki dan perempuan. Jadi otak laki – laki dan perempuan dibangun dengan struktur yang berbeda sehingga memiliki pola pikir logis, persepsi, analisis, emosi, suara serta ruang yang berbeda pula. Salah satu dari perbedaan kemampuan yang yang dimiliki oleh wanita dibandingkan pria adalah kemampuan multi tasking.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan seorang wanita bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Saat ayah yang sedang konsen membaca tv tidak akan sadar dengan tangisan bayi nya yang menangis disampingnya, ssebaliknya seorang ibu dapat memasak, menyuapi, menonton tv dan berdiskusi dalam satu waktu.

Menurut penjelasan para pakar, hal tersebut disebabkan wanita cenderung akan selalu menghubungkan satu hal dengan yang lainnya, sementara laki-laki tidak.

Bila diibaratkan otak pria tersebut bagaikan ruangan arsip besar dengan kotak-kotak yang tersusun rapi. Pria cenderung berpikir secara sistematis dan membagi masalah kedalam kotak- kotak tersebut. Inilah yang menjelaskan mengapa pria tidak bisa mengerjakan dua hal sekaligus dalam satu waktu.

Berbeda dengan otak perempuan yang seperti ruangan server dengan kabel warna warni yang saling berhubungan. Jaringan tersebut akan aktif dalam satu waktu menghasilkan hasil yang luar biasa. Kabel – kabel tersebut terdiri dari kabel anak, kabel investasi, kabel tetangga, kabel suami, kabel pekerjaan dan lainnya yang saling berhubungan.

Penjabaran tersebut sangat tepat menjelaskan kenapa seorang ibu terlihat tidak bisa diam. Begitu banyak hal yang menjadi pikirannya. Suami, anak, masakan, tagihan, keuangan, kesehatan dan masih banyak lagi. Seorang working mom juga tidak berbeda, bahkan ia harus menambahkan kabel urusan pekerjaan kedalam otaknya.

Ibarat komputer, otak tidak bisa dipaksa bekerja terus. Otak perlu diistirahatkan sejenak untuk mengisi energinya kembali. Oleh karena itulah me time sangat diperlukan buat seorang ibu.

Apa sebenarnya me time tersebut? Me time bisa dikatakan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan yang bisa menimbulkan perasaan bahagia.

Me time dibutuhkan bagi full time mom yang sehari – hari berhubungan dengan rutinitas rumah tangga. Setiap harinya seluruh waktu dan pikiran dicurahkan untuk keluarganya. Lama kelamaan ibu bisa stress dan depresi tanpa disadari.
Begitu pula halnya dengan working mom. Begitu banyak urusan yang dipikirkannya sejak dini hari hingga tengah malam. Mulai dari urusan suami, anak- anak, domestik rumah tangga, pekerjaan kantor yang tetap menuntut perhatian penuh kelamaan bisa membuat otak lelah dan jenuh.

Ibu merupakan center of emotion dalam rumah tangga. Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaan bagi suami dan anak-anaknya. Sebaliknya ibu yang stress dan depresi akan menciptakan ketidakbahagiaan dalam keuarga. Hal inilah yang membuat seorang ibu harus pintar menyusun jadwal harian dalam hidupnya termasuk memasukkan me time kedalamnya.

Me time bagi seorang ibu bisa bermacam – macam. Ada seorang ibu yang menggunakan me timenya dengan kumpul bersama temannya. Ada yang pergi ke salon, menonton, travelling dan lainnya. Semua dikembalikan kepada individu masing- masing.

Kalau aku sendiri, buatku me time simple saja. Biasanya aku memilih kegiatan berdasarkan apa yang membuatku jenuh. Bila aku sedang jenuh dengan kehidupan rumah tangga, urusan- urusan domestik, tangisan dan teriakan anak- anak, maka aku membutuhkan tempat yang tenang untuk membaca. Kalau memungkinkan dengan menginap di hotel didaerah pegunungan dan menghabiskan waktu dengan membaca fiksi. Kalau tidak memungkinkan ya cukup membaca di kamar ber ac yang tenang tanpa gangguan selama sekitar stengah hari sampai dengan sehari.

Berbeda halnya bila kejenuhan timbul akibat pekerjaan dikantor yang relatif menggunakan otak kiri, maka aku akan mencari aktivitas otak kanan sebagai me time. Misalnya menyibukkan diri dengan online shopku. Bisa dibilang bisnis fashion yang kugeluti saat ini merupakan penyaluran dari keruwetan otak kiri. Kegiatan menentukan model, warna, dan aksesories lainnya sudah merupakan me time buatku.

Paling sering sih aku memilih aktifitas menulis sebagai me time. Apalagi  saat jadwal sedang padat-padatnya.  Bagiku, menulis  puisi atau fiksi sudah cukup mengurai benang ruwet di otak. Dan kegiatan tersebut bahkan bisa dilakukan di MRT sepulang kerja😁

Akhir kata, terlepas dari apapun kegiatan me time yang bunda pilih, percayalah bahwa me time penting untuk menjaga kewarasan kita. Jadi bila bunda kesulitan mencari waktu me time disebabkan padatnya jadwal harian, cobalah diskusikan dengan suami. Carilah me time yang menyenangkan bagimu dan sesuai dengan kondisi keluargamu.

Btw, karena ga ada foto lain, aku pajang foto me time ala- membaca 😁 Itung itung, sekalian promosi buku sendiri 😍

IMG_20191224_205638

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia

Certified Public Accountant

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Sekitar 15 tahun yang lalu, saat saya baru lulus kuliah PPAK, gelar Certified Public Accountant – CPA (saat itu di Indonesia namanya BAP – Bersertifikasi Akuntan Publik) terdengar begitu keren. Kenapa? karena CPA adalah pengakuan tertinggi dalam profesi akuntan publik Indonesia. Untuk mendapatkan gelar tersebut harus menempuh ujian yang terkenal sangat sulit sehingga banyak orang yang telah mengikuti ujian berkali – kali namun tetap tidak lulus. Pada tahun 2000-an syarat untuk memiliki gelar BAP harus lulus lima mata ujian. Impian saya saat itu ingin mendapatkan gelar BAP lalu mendirikan kantor akuntan publik. Walau kemudian impian tersebut ditunda dahulu karena ada hal lain yang lebih diprioritaskan.

Setelah berselang hampir 2 dasawarsa, setelah belasan tahun keluar dari KAP Ernst and Young, setelah 10 tahun berkarir sebagai auditor di SKK Migas, setelah bertahun- tahun melupakan impian tersebut, tiba-tiba saya diberikan ujian hidup oleh Allah Swt. Bahkan bisa dibilang tahun 2019 merupakan tahun terberat dalam sepanjang kehidupan karir saya. Setelah berbulan- bulan terpuruk, saya lalu mencoba mengalihkan pikiran dengan melakukan banyak hal baru. Dan tiba- tiba saya teringat kembali akan keinginan masa lalu. Saya ingin memiliki gelar Bersertifikasi Akuntan Publik.

Sekitar bulan April 2019, saya mulai mencari tahu kembali mengenai persyaratan untuk mendapatkan gelar tersebut. Berbagai informasi tentang persyaratan, waktu dan lain- lain mulai dikumpulkan. Informasi terlengkap didapat dari website resmi Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI).

Sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita mengenal lebih dalam tentang CPA dan persyaratannya.

Ujian Profesi Akuntan Publik yang juga disebut “CPA of Indonesia Exam” diselenggarakan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia berdasarkan UU RI Nomor 5 Tahun 2011 tentang Akuntan Publik dalam rangka untuk meyakinkan ketersediaan sumber daya manusia profesi Akuntan Publik yang memiliki kompetensi dan keahlian profesional yang dilandasi nilai-nilai, etika dan perilaku profesional sesuai standar internasional. CPA of Indonesia Exam terbagi dalam tiga tingkat, yaitu: Ujian Tingkat Dasar, Ujian Tingkat Profesional dan Ujian penilaian kompetensi rekan perikatan audit.

  1. Ujian tingkat dasar adalah ujian yang bersifat “entry exam” Ujian Profesi Akuntan Publik. Pada ujian ini seseorang akan diuji kemampuan dan pengetahuan dasarnya pada bidang akuntansi, auditing, keuangan dan bisnis sehingga diharapkan memiliki konsep dan pemahaman yang memadai untuk melanjutkan ujian pada tingkat profesional dan ujian tingkat penilaian kompetensi rekan perikatan audit. Peserta yang telah lulus ujian ini akan mendapatkan sertifikat “Associate Certified Public Accountant of Indonesia” (A-CPA).

Mata ujian tingkat dasar:

  1. Pengantar Auditing & Asuransi
  2. Akuntansi & Pelaporan Keuangan
  3. Pengantar Ekonomi Makro & Mikro
  4. Pengantar Manajemen, Perpajakan & Hukum Bisnis
  5. Akuntansi Biaya, Manajemen Keuangan & Sistem Informasi
  1. Ujian tingkat profesional

Ujian pada tingkat ini peserta akan diuji pengetahuan dan kompetensi bidang akuntansi, auditing, keuangan dan bisnis pada tingkat kemampuan intermediate, sehingga secara profesional mampu untuk menyelesaikan masalah secara mandiri dengan supervisi minimal.

Untuk dinyatakan telah menyelesaikan pada tingkat ini, peserta harus telah memiliki pengalaman kerja yang relevan pada bidang akuntansi, auditing, keuangan dan bisnis minimal 3 tahun. Ujian ini ditujukan untuk mendapatkan seseorang yang telah memiliki kompetensi memadai untuk menjalankan peran sebagai auditor profesional pada KAP atau peran lain yang relevan. Peserta yang telah menyelesaikan ujian ini dan memenuhi semua persyaratan akan mendapatkan sertifikat “Certified Public Accountant ” (CPA) .

Mata ujian tingkat profesional:

  1. Audit, Asuransi & Etika Profesi
  2. Akuntansi & Pelaporan Keuangan Lanjutan
  3. Akuntansi Manajemen, Manajemen Keuangan & Sistem Informasi
  4. Strategi Bisnis & Perpajakan Lanjutan
  5. Manajemen Risiko, Tata Kelola & Pengendalian Intenal
  1. Ujian Penilaian Kompetensi Rekan Perikatan Audit

Ujian pada tingkat lanjutan ini ditujukan mendapatkan seseorang yang memiliki kompetensi yang memadai untuk berperan sebagai Akuntan Publik. Pada ujian ini, sebelumnya peserta harus telah menyelesaikan ujian tingkat profesional dan pengalaman pada bidang audit dan asurans atas informasi keuangan. Peserta yang menyelesaikan ujian tingkat lanjutan akan mendapatkan Surat Tanda Lulus Ujian Profesi Akuntan Publik sebagaimana dimaksud dalam Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 tahun 2011 tentang Akuntan Publik.

Mata ujian penilaian kompetensi rekan perikatan audit: Auditing & Assurance Lanjutan.

Ketiga level ujian diatas sifatnya berjenjang, dimana harus lulus level tertentu sebelum dapat mengikuti ujian pada level selanjutnya. Keinginan saya saat ini adalah sebatas mendapatkan gelar CPA, yang berarti saya harus lulus ujian professional. Saya belum berencana mendirikan kantor akuntan publik dalam waktu dekat, sehingga tidak akan mengikuti ujian penilaian kompetensi rekan perikatan audit.

Dan ternyata IAPI memberikan kemudahan bagi para professional yang berpengalaman untuk langsung mengikuti ujian professional tanpa harus mengikuti ujian dasar terlebih dahulu, yaitu dengan mengikuti Recognition Prior Learning (RPL) for RNA.

Adapun persyaratan untuk mengikuti RPL for  RNA adalah telah memiliki Register Akuntan Negara (RNA) dan memiliki pengalaman di bidang auditing dan pelaporan keuangan minimal 3 tahun. Karena saya sudah memenuhi persyaratan tersebut, maka saya pun mendaftarkan diri untuk menjadi peserta RPL for RNA.

Saya mengikuti RPL for RNA pada tanggal 9-12 September 2019 bertempat di Hotel Puri Denpasar Jakarta. Biaya yang dikeluarkan sebesar Rp4.500.00 sudah termasuk ujian. Acara yang berlangsung selama 4 hari ini membahas 4 materi yaitu  :

  1. Manajemen Risiko, Tata Kelola dan Pengendalian Internal (MRTI)
  2. Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Lanjutan
  3. Akuntansi Manajemen, Manajemen Keuangan dan Teknologi Informasi (AMTI)
  4. Strategi Bisnis dan Pajak Lanjutan

Setiap hari akan dibahas 1 materi yang kemudian langsung  dilanjutkan dengan Post Test. Syarat kelulusan adalah minimal mendapatkan nilai 75 atas setiap mata ujian dalam post test tersebut. Jumlah peserta sekitar 50 orang yang didominasi oleh auditor akuntan publik.

Syukur Alhamdulillah, saya mendapatkan nilai rata- rata 85 atas 4 mata ujian yang diumumkan sekitar 1 bulan berikutnya. Setelah mengetahui kelulusan tersebut, saya segera mendaftarkan diri untuk mengikuti ujian 1 materi yang tersisa yaitu Audit, Asuransi dan Etika Profesi (AAEP). Persyaratan untuk mengikuti ujian tersebut adalah membayar biaya keanggotaan tahunan sebesar Rp300.000 dan biaya ujian sebesar Rp500.000.

Saya kemudian memilih tanggal 10 Oktober 2019 di Test Center Universitas Pancasila untuk melaksanakan ujian AAEP. Tes yang berlangsung selama 3 jam (Pukul 10.00 – 13.00 Wib) mengujikan 100 soal yang terdiri atas 98 soal pilihan ganda dan 2 soal esai. Sebenarnya kondisi saat mengikuti tes online tersebut saya dalam kondisi yang kurang fit karena sedang meriang (diagnose awal cacar- cerita lengkapnya bisa dibaca di Takdir)

Qadarullah, saya dinyatakan lulus saat pengumuman akhir November 2019. Karena saya sudah lulus 5 mata ujian CPA professional, maka tahapan yang berikutnya adalah menyiapkan dokumen untuk keperluan sertifikasi. Dokumen yang perlu disiapkan antara lain surat keterangan kerja dari kantor dengan menggunakan kop surat resmi institusi, surat pernyataan, pakta integritas dsb.

Sebelum diakhiri, hikmah yang bisa diambil dari pengalaman ini adalah jangan menyerah dalam mendapatkan apa yang kita inginkan. Sebenarnya saat akan mengikuti ujian CPA, saya merasa kurang percaya diri. Sudah lebih dari 12 tahun  tidak bersentuhan dengan dunia PSAK, audit laporan keuangan dan materi perkuliahan. Apalagi bila dibandingkan dengan teman- teman  peserta RPL for RNA yang kebanyakan sampai dengan saat ini masih berkecimpung di ranah akuntan publik ataupun per PSAK-an. Tapi Alhamdulillah dengan bantuan Allah Swt, tekad kuat yang diiringi usaha, saya bisa menjadi bagian dari 5% peserta ujian CPA yang langsung lulus seluruh mata ujian pada kesempatan pertama.

Demikian sedikit pengalaman saya.

Semoga bermanfaat dan menginspirasi ^_^

CPA

Anakku terlambat bicara?

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa waktu lalu aku terlibat diskusi yang cukup seru dengan rekan sekantor. Ia bercerita tentang kekhawatirannya akan anaknya yang diduga mengalami speech delay atau terlambat bicara. Ingatanku terlempar pada sekitar 1,5 – 2 tahun silam. Kala itu pun aku didera kebingungan karena melihat anak keduaku yang cenderung sedikit bicara. Pada saat itu pun aku menghawatirkan kalau Khaleev mengalami speech delay.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan speech delay? Dan apakah ciri- cirinya?

Dari hasil penelusuran mbah google dan diskusi dengan dokter, Speech delay  atau terlambat bicara adalah kondisi ketika seorang anak mendapatkan suatu kesulitan dalam hal mengekspresikan perasaan atau keinginannya pada orang lain. Speech delay bisa disebabkan karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif/ekspresif, autis atau gangguan pada organ mulut.

Tanda bahaya (red flags) yang harus segera dilakukan adalah evaluasi bicara dan bahasa, yaitu seperti:

  • Pada usia 12 bulan bila si Kecil tidak babbling, menunjuk atau tidak mengukuti gerak-gerik Anda yang merawat.
  • Usia 15 bulan bila si Kecil tidak melihat atau menunjuk 5 dari 10 objek atau orang yang disebutkan dan tidak mengucapkan minimal 3 kata.
  • Usia 18 bulan, si Kecil tidak mengikuti 1 instruksi dan tidak mengatakanmama, papa, dada.
  • Usia 2 tahun, bila si Kecil tidak menunjuk pada gambar atau anggota tubuh yang dusebutkan dan tidak mengucapkan minimal 25 kata.
  • Usia 2,5 tahun, si Kecil tidak merespon secara verbal, mengangguk atau menggelengkan kepala pada sebuah pertanyaan dan tidak dapat mengkombinasi dua kata.
  • Usia 3 tahun, si Kecil tidak memahami dan mengikuti perintah, tidak mengucapkan paling sedikit 200 kata, tidak dapat menyebutkan keinginanannya dan mengulang kalimat sebagai respon dari pertanyaan.

Alasan kami menduga Khaleev mengalami speech delay karena saat itu kami melihat perbedaan yang cukup mencolok antara kemampuan berbicara khaleev dibandingkan dengan kakaknya, Kiya. Di usia yang hampir menginjak 2 tahun, Khaleev belum bisa mengucapkan 2 kata sekaligus seperti aku makan. Hal yang sangat berbeda dengan kakaknya yang sudah bisa bercerita tentang pasukan bergajah Abrahah pada usia 1,5 tahun.

Melihat kondisi yang ada, kami melakukan beberapa hal antara lain :

  1. Memeriksakan Khaleev ke dokter THT.

Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Dokter Lola Yucola di Rumah Sakit Pondok Indah, Khaleev tidak mengalami masalah pada indra pendengaran dan organ mulut. Beliau lalu menyarankan agar kami berkonsultasi dengan psikolog/psikiater anak.

  1. Berkonsultasi dengan Psikiater Anak

Selanjutnya, kami melakukan sesi perjanjian dengan psikiater anak di klinik tumbuh kembang Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah. Dokter yang kami temui adalah dr. Gitayanti Hadisukanto, Sp.KJ(K). Dalam sesi konsultasi tersebut, Dokter Gita melakukan interview untuk mendapatkan informasi dan melakukan observasi atas Khaleev.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan dokter Gita :

  1. Apakah Khaleev suka menonton TV? Alhamdulillah kami tidak memperkenalkan TV kepada Khaleev sampai ia berusia 2 tahun.
  2. Apakah orang –orang disekelilingnya menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia saat berkomunikasi? Kami hampir tidak pernah menggunakan bahasa asing ataupun bahasa daerah saat berkomunikasi di rumah.
  3. Apakah orang – orang disekelilingnya malas mengajaknya berbicara? Alhamdulillah keluarga dekat dan mbak Khaleev tergolong orang – orang cerewet dan tidak pernah lelah untuk mengajaknya berbicara.
  4. Apakah orang – orang di sekelilingnya terlalu mengakomodir keinginannya? Misalnya  saat ia belum mengucapkan suatu permintaan dengan sempurna namun keinginannya sudah diberikan? Dalam hal ini, memang kami sekeluarga sering melakukannya. Misalnya ia baru mengucapkan “inum” dan kami sudah memberikan gelas berisi minuman kepadanya.
  5. Apakah Khaleev mau untuk memegang cairan, mau menginjak cairan atau tanah, menjilat sisa makanan di bibirnya dst ? Memang khaleev cenderung tidak mau menyentuh atau menginjak sesuatu yang menurutnya menjijikkan. Kami juga biasanya langsung mengelap tepi bibirnya yang kotor, alih – alih membiarkannya menjilat dengan lidahnya.

Selain mengajukan beberapa pertanyaan, dokter juga melakukan observasi kepada Khaleev seperti mengajaknya berkenalan, mengecek fisiknya dst.

Dari hasil interview dan observasi, ternyata Dr Gita justru lebih konsen kepada kemampuan adaptasi dibandingkan pada kemampuan bicara Khaleev. Khaleev memang cukup tertutup. Ia cenderung tidak mau bersalaman atau berdekatan dengan orang yang tidak dikenalnya. Lalu dokter menyarankan agar Khaleev mengikuti terapi sensorik motoric di Sekolah Tumbuh Kembang Anak, Pela 9. Dokter menyampaikan bahwa kemampuan sensorik motoriknya harus dikembangkan lagi. Kebiasaan kami yang membiarkannya hidup terlalu bersih, segera membersihkan mulutnya saat kotor ternyata berkontribusi memperlambat perkembangan sensorik motoriknya. Nanti apabila kemampuan sensorik motoriknya telah berkembang sesuai tahapan usianya, baru bisa mulai terapi wicara. Karena ternyata perkembangan sensorik motoric yang terlambat menyebabkan kemampuan bicaranya juga ikut terlambat.

  1. Mengikuti kelas terapi sensorik motoric di Sekolah Pela Pusat, Kebayoran lama.

Dalam kelas terapi tersebut, Khaleev didampingi oleh seorang terapis untuk diarahkan melakukan beberapa jenis permainan. Ruangan kelasnya besar dan memiliki banyak jenis mainan. Dalam setiap jam terapi, ada beberapa anak yang bersama – sama ada di ruangan tersebut dengan terapis masing –masing.  Khaleev ikut kelas setiap hari sabtu sehingga kami bisa ikut mendampingi.

Untuk mempercepat perkembangannya, aku juga membeli beberapa jenis mainan seperti yang ada di kelas terapi dan membuat jadwal permainan harian di rumah untuk Khaleev.

Setelah beberapa bulan mengikuti terapi, perkembangan sensorik motoric Khaleev bertambah. Namun kemampuan adaptasinya masih belum begitu baik. Ia tetap tidak mau ditinggal untuk bermain sendiri di dalam ruangan. Kemampuan berbahasanya juga masih belum bertambah.

  1. Mengikuti kelas terapi wicara Sekolah Pela Pusat, Kebayoran lama.

Setelah berkonsultasi dan berdiskusi lagi dengan dokter Gita, akhirnya dokter memperbolehkan Khaleev untuk ikut terapi wicara. Terapi tersebut dilakukan di ruangan kecil, dimana terapisnya  duduk berhadapan dengan khaleev. Terapisnya akan bermain bersama dengannya sambil mengajarkan kosakata. Berbeda dengan terapi sensorik motoric yang biasanya diisi dengan drama tangisan, Khaleev sangat menikmati kelas terapi wicara ini. Kepribadiannya yang introvert membuat ia lebih nyaman berada hanya berdua dengan terapis tanpa bersama teman- temannya yang lain.

Kemampuan berbahasa Khaleev juga meningkat cukup cepat. Setelah 3 bulan, terapisnya menyampaikan kalau Khaleev tidak mengalami keterlambatan bicara dan sudah tidak perlu ikut terapi lagi karena kemampuan berkomunikasinya sudah sesuai dengan tahapan usianya.

Setelah berbagai macam observasi dan diskusi yang dilakukan, akhirnya kami menarik benang merahseputar keterlambatan Khaleev berbicara yaitu :

1. Masalah terbesar Khaleev ternyata pada kepercayaan dirinya. Ia tidak percaya diri untuk berbicara dan menyuarakan keinginannya.

2. Pola asuh yang kami terapkan sebelumnya, yang cenderung terlalu mengakomodir keinginannya dan bukan kebutuhannya ternyata  berperan membuatnya malas bicara.

Saat ini Khaleev sudah berusia 3,5 tahun. Dan ia bukan sekedar bisa mengobrol namun sudah dapat berdiskusi banyak hal. Bahkan kadang – kadang ia sudah dapat berdebat atau ngeles untuk beberapa hal. ^_^

Sampai dengan saat ini kami masih belajar dan melakukan berbagai hal yang dapat merangsang kepercayaan dirinya, seperti mengikutkan sekolah saat weekend bersama kakaknya, melakukan simulasi – simulasi dengan reward dan punishment dalam memotivasinya melakukan sesuatu.

Belakangan ia sedang sibuk mendengarkan dan mengikuti bacaan surat – surat pendek. Namun seperti biasa, ia tidak percaya diri untuk setoran hapalan. Dan sebagai orang tua kami tidak lelah menyemangati, mendukungnya, mengiminginya dengan hadiah atau mengurangi kegemarannya agar ia mau menunjukkan kemampuannya. Dan tada …. inilah hasil beberapa video rekamannya

Jadi apabila bunda ada yang saat ini sedang berada di posisi kami 1,5 tahun yang lalu, sehingga muncul pertanyaan seperti apakah benar anakku mengalami keterlambatan bicara? Apa yang harus dilakukan? Coba amati dengan baik. Jangan jadikan pembanding dengan saudara atau temannya sebagai acuan untuk menentukan apakah ananda memang mengalami seperti dugaan bunda. Apabila masih kurang yakin, bunda bisa minta bantuan profesional seperti dokter atau psikolog.

Dan yang sangat penting diingat :

Every children has their own pace. Dont compare to others ^_^

Semoga kisah ini dapat memberikan sedikit pencerahan.

Indahnya berbagi  ^_^