Setelah berbulan- bulan mati suri, alhamdulillah akhirnya aku bisa kembali megupdate blog ini. Bisa dibilang bukan cuma blog ini yang lama ga ditengok, tapi IG, wattpad dan ketix pun lama terabaikan. Alasannya karena dari awal tahun aku diberikan berbagai ujian oleh Allah Swt. Dimulai dari asisten yang keduanya mendadak pulang kampung, perjuangan mendapatkan prt yang cocok, si kecil yang tidak mau ditinggal ibunya pasca pengasuhnya pulang, Mama yang sakit, operasi hingga pasca operasi.
Dan kisah pun berlanjut setelah itu. Belum lama dari mama operasi, Pak Jokowi mengumumkan kalau di indonesia sudah ada yang positif corona. Kali ini aku ingin sedikit membahas tentang Corona. Bukan dari perspektif kesehatan tentunya, karena aku tidak punya kapasitas untuk itu. Ataupun sudut pandang bidang lainnya, karena aku bukanlah ahli di suatu bidang. Aku hanya ingin membahas dari sudut pandang orang biasa. Sudut pandang seorang ibu yang bahagianya sesederhana melihat keluarganya aman dan nyaman.
Corona mulai familiar ditelingaku pada akhir Desember 2019 dan semakin santer sesudahnya. Berita tentang ganasnya virus tersebut, jumlah korban yang sangat banyak, tingkah para warga untuk melindungi dirinya terlihat cukup mencengangkan dan menakutkan. Melihat foto korban meninggal, bahkan ada satu keluarga yang meninggal dan semua jasadnya dimasukkan ke dalam plastik menimbulkan krngerian tersendiri. Melihat gambar -gambar orang yang berjalan dengan menggunakan jas hujan diseluruh tubuhnya, ada yang kepalanya sampai ditutup galon minum membuatku cukup bertanya-tanya, apakah sebegitunya menyeramkan ya?
Di pertengahan bulan januari, suami sudah mulai mewanti- wanti untuk selalu mengenakan masker, selalu membersihkan tangan dengan sanitizer dan mulai mengurangi jalan- jalan saat weekend. Tapi karena melihat keadaan sekitar yang cenderung santai, aku menjadi kurang konsisten dalam menggunakan hand satinizer dan masker. Karena kesannya aku psycho sendiri. Apalagi respon pemerintah pun terlihat santai, bahkan mengeluarkan pernyataan bahwa virus bisa ditangkal dengan jamu atau makan nasi kucing. Akses keluar kota dan negeri pun masih dibuka dan bahkan diberikan diskon untuk harga tiket serta penginapan.
Meskipun cerita dari Wuhan terdengar begitu menakutkan namun kerap kuabaikan karena terkesan tidak berdampak pada negeri ini. Pada akhir bulan Januari, tiba- tiba kami menjumpai keanehan. Mendadak gula hilang dari pasaran. Benar Saat itu seperti titik balik bagiku. Saat itulah aku memutuskan untuk mulai serius mengantisipasi imbas corona yang mulai masuk ke negeri ini. Kami mulai membeli masker, sanitizer dan barang – barang kebutuhan pokok lainnya. Tidak banyak, hanya untuk kebutuhan darurat keluarga kami.
Dan setelah cukup lama dalam ketidakpastian dan harap- harap cemas, akhirnya pada tanggal 2 Maret 2020, Presiden Jokowi resmi mengumumkan bahwa sudah ada penderita Covid- 19 di Indonesia. Dan seperti yang dapat diduga, respon masyarakat luar biasa. Bahkan yang cukup membuatku miris, di lingkungan kantor saja masih banyak yang merespon berlebihan. Ada beberapa kolega di kantor yang kupikir seharusnya sangat melek dengan perkembangan dunia ternyata justru terlihat sibuk bolak balik mencari masker ke klinik. Astaqfirullah, bila orang berpendidikan dengan akses teknologi tak terbatas saja tidak aware dengan covid-19 bagaimana dengan rakyat kurang berpendidikan dengan akses teknologi sangat terbatas? Bagaimana masyarakat didaerah terpencil? Dan imbas dari pengumuman pemerintah selanjutnya adalah panic selling. Hampir semua tempat perbelanjaan ramai. Beberapa barang- barang kebutuhan pokok habis. Alhamdulillah saat itu kami memiliki persediaan yang cukup setidaknya sampai pemerintah dapat menormalkan lagi distribusi kebutuhan sembako bagi masyarakat.
Kemudian ritme kehidupan pelan mulai berubah. Tanggal 6 Maret, kantorku mulai memberlakukan working from home. Kantor suami pun menerapkan hal yang sama. Dan setelah itu ketakutan pelan –pelan mulai menyelinap ke jiwa. Berbagai berita korban jiwa yang terus meningkat, harga minyak yang turun drastic, keadaan ekonomi yang makin memburuk merupakan konsumsi jiwa setiap harinya.
Keluarga kami juga mulai menerapkan aturan kebersihan yang sangat ketat. Aturan yang kami terapkan antara lain :
- Tidak boleh ada anggota keluarga yang keluar rumah, kecuali untuk jalan didalam komplek itu pun dengan pendampingan.
- Setiap orang yang keluar rumah harus cuci tangan dan kaki sebelum memasuki rumah.
- Setiap barang yang diterima dirumah harus diletakkan dahulu di box yang disediakan. Kemudian bungkusnya didisinfektan dan didiamkan selama beberapa lama baru kemudian dibuka. Isi paket langsung dicuci dengan sunlight. Apabila paketnya makanan jadi maka langsung dipanaskan dan diganti wadahnya.
- Belanja sebagian besar dilakukan secara online. Hanya aku dan suami yang diperbolehkan keluar komplek. Setiap sabtu/ minggu sore aku dan suami pergi keluar untuk belanja buah dan kebutuhan lainnya. Kami harus langsung mandi sesampai di rumah.
Dan ternyata mau seketat apapun usaha yang dilakukan manusia, tetap tidak dapat menjamin tidak akan tertular virus Covid-19. Aku akan share sedikit kisah saat aku harus menjalani isolasi mandiri karena berpotensi sebagai ODP/ Orang tanpa gejala.
Beberapa minggu lalu aku harus pergi ke kantor karena ada keperluan yang tidak dapat diwakilkan. Saat Itu kepergianku ke tempat ramai untuk pertama kalinya setelah sebulan. Aku berada dikantor tidak lama hanya sekitar 20 menit. Saat dikantor menuju ke lantai tempat kerja, aku melewati 2 gedung, jalan, selasar, lift. Di tiap lantai bawah dan tiap lantai diharuskan mengisi absen tulis selain absen id card. Pulpen disediakan. Kantor hanya membuka 3-4 lantai perhari (karena kantor dibuka 3 hari). Persyaratan yang boleh datang ke kantor harus sehat dan wajib menggunakan masker. Ada pemeriksaan suhu tubuh juga sebelum masuk.
Aku datang ke kantor pada hari Rabu tanggal 15 April 2020. Saat itu aku juga menerapkan prosedur pengamanan diri yang cukup ketat. Aku mengenakan masker, menggunakan jas hujan sebagai APD, membawa tusuk gigi yang aku gunakan setiap menyentuh tombol lift dan selalu menggunakan sanitizer selesai menyentuh apapun. Saat pulang sebelum masuk mobil aku juga membuka jas hujan, mengganti jilbab dan sepatu terlebih dahulu.
Hari jumat sore kami diinfokan kalau ternyata ada PDP yang ke kantor juga pada hari yang sama dengan kedatanganku ke Kantor. Saat dia kekantor belum sakit dan baru sakit di hari kamis. PDP tersebut ternyata selantai denganku, hanya beda divisi. Kantor langsung melakukan penelusuran dan diperoleh daftar orang yang melakukan kontak langsung. Untuk yang kontak langsung dengan PDP itu harus rapid test sedangkan sisanya cukup isolasi mandiri dirumah.
Saat itu aku sempet shock. Aku termasuk yang tidak kontak langsung tapi ada kemungkinan untuk terkena karena akses menuju dan berada di lantai yang sama dengan PDP. Yang membuat lebih psiko, informasi diperoleh setelah beberapa hari berlalu dan aku terlanjur kontak dengan keluarga. Dan yang membuat lebih shock bahwa ternyata teman – teman yg rapid test banyak yang positif utk sementara😭 (harus menunggu hasil swab dl).
Tapi kemudian aku berusaha berpikir positif. Aku pikir untuk apa stress, yang bisa kulakukan hanya tawakal dan meningkatkan imun sekeluarga. Kalau pun ternyata aku terlanjur tertular, bila imunitas kami bagus, insya Allah dalam 14 hari virusnya akan mati sendiri. Alhamdulillah tepat hari ini 14 hari sudah berlalu, yang berarti insya Allah aku dan keluarga aman dari penularan covid dari teman yang menjadi PDP tersebut.
Lesson learnednya adalah, dalam kondisi yang serba tidak menentu ini, yang bisa kita lakukan hanyalah :
- Prepare yourself as best as you can. Lingkaran penderita Covid sudah semakin mengecil mendekati kita. Kita tidak bisa menghindar akan mungkin ada saatnya kita akan bertemu dengan penderita covid. Jadi yang bisa dilakukan adalah langkah pencegahan dari kita. Seperti menggunakan masker, jas hujan, selalu membersihkan tangan/ menggunakan sanitizer setiap selesai menyentuh sesuatu, ganti kostum dan sepatu sebelum pulang kermh dsb. Apabila qadarullah kita akhirnya ODP maka jangan stress. Tingkatkan imun, olahraga, makan dan istirahat cukup. Bertawakal saja.
- Menyibukkan diri dengan kegiatan positif. Lebih baik kita mengalihkan pikiran kita dari hal – hal negative kearah positif. Misalnya di bulan puasa ini kita bisa lebih banyak beribadah. Selain itu kita juga kita memiliki kelebihan materi bisa digunakan untuk membantu sekitar kehidupannya saat ini mungkin sangat berat akibat COvid -19. Insya Allah akan mendatangkan kebaikan bagi semua dan menjadi lading pahala bagi kita.
- Sabar dan tawakkal. Ini Fase yang cukup sulit. Namun insya Allah apapun kesulitan yang kita hadapi di saat ini akan diberikan jalan keluarnya oleh Allah Swt selama kita ikhtiar, bersabar dan tawakkal. Do your best and lets Allah do the rest 😊





