Ibunda, Penentu Kokohnya Peradaban Manusia

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam kemajuan peradaban umat manusia. Maju- mundurnya peradaban suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan fungsi ibu didalamnya.

Sebelum kita membahas lebih lanjut , ada baiknya kita menjabarkan terlebih dahulu apa sebenarnya pengertian dari peradaban.

Pengertian peradaban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesai (KKBI) adalah :

  1. Kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin:
  2. Hal yg menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa

Sedangkan arti peradaban menurut salah satu ahlinya (Alfred Weber) adalah:

Peradaban mengacu kepada pengetahuan praktis dan intelektual serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang fungsinya untuk mengendalikan alam. Berbeda dengan Kebudayaan yang tersusun atas serangkaian nilai, prinsip, normatif, dan juga ide yang sifatnya unik Aspek tersebut lebih kepada sifat kumulatif dan lebih siap untuk disebar, lebih rentang kepada suatu penilaian, dan juga lebih berkembang jika dibandingkan dengan aspek kebudayaan. Peradaban sifatnya impersonal dan objektif, sedangkan kebudayaan tersebut sifatnya personal, subjektif dan unik.

Peradaban identik dengan gagasan tentang kemajuan sosial, baik dalam bentuk kemenangan akal dan rasionalitas terhadap dogma maupun doktrin agama, memudarnya norma – norma lokal tradisional dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan alam dan teknologi.

Ciri-ciri umum sebuah peradaban adalah sebagai berikut.

  • Pembangunan kota-kota baru dengan tata ruang yang baik, indah, dan modern
  • Sistem pemerintahan yang tertip karena terdapat hukum dan peraturan.
  • Berkembangnya beragam ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju seperti astronomi, kesehatan, bentuk tulisan, arsitektur, kesenian, ilmu ukur, keagamaan, dan lain-lainnya.
  • Masyarakat dalam berbagai jenis pekerjaan, keahlian, dan strata sosial yang lebih kompleks

Peradaban sudah dimulai dari jaman dahulu yang sering kali disebut dengan peradaban kuno dan terus berkembang hingga perkembangan peradaban saat ini yang didominasi oleh teknologi tinggi.

Perubahan sistem kehidupan, norma dan teknologi tersebut  tentu tidak lepas dari peran serta yang besar dari seorang ibu. Seorang ibu mengandung selama 9 bulan, melahirkan, menyusui, dan merawat anak- anaknya. Ibu juga merupakan madrasah pertama dan utama bagi buah hatinya.

Kepribadian dan karakter anak tidak lepas dari pola asuh ibunda.

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu. (HR. Al Bukhari).

Kedudukan seorang ibu sangat mulia dalam islam. Hal ini tidak lain disebabkan begitu besar peran seorang ibu dalam menciptakan suatu generasi penerus bangsa.

Kokoh tidaknya peradaban ditentukan dari ibunda. Dan kita sebagai seorang ibu dapat mulai menyiapkan generasi pembangun peradaban yang tinggi bahkan sejak ananda belum dilahirkan. Cara – cara yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Masa kehamilan

Sejak masih mengandung, seorang ibu telah berperan besar dalam perkembangan calon bayi. Ibu yang sehat dan bahagia akan menularkan energi positif tersebut ke janin yang sedang dikandungnya. Hal- hal yang dapat dipersiapkan sejak ananda masih dalam kandungan:

      a. Makan makanan bergizi

Sebuah jiwa baru lahir didalam perut seorang ibu. Ia butuh untuk berkembang dan memerlukan nutrisi untuk itu. Terkadang bila proses kehamilan cukup bermasalah, akan tidak memungkinkan untuk makan dalam jumlah banyak. Sehingga solusinya adalah  sesering mungkin untuk makan dalam jumlah sedikit namun bergizi.

Usahakan memilih makanan yang mengandung tinggi lemak omega 3 dan DHA yang mampu membantu dalam meningkatkan perkembangan otak janin secara optimal seperti ikan tuna, salmon, dan jenis ikan tawar. Anda juga dapat mengkonsumsi minyak ikan sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi janin anda. Sari kurma dan madu yang kaya akan multivitamin juga menjadi pilihan yang baik.

      b. Rangsang perkembangan otaknya

Otak ananda sudah mengalami perkembangan sejak masih berada dalam kandungan. Bahkan pada minggu ke-10, otaknya sudah mulai berfungsi. Sebagai bunda kita dapat membantu meningkatkan perkembangan otak ananda sejak dalam kandungan antara lain dengan :

  • Mengajaknya berbicara

Tahukah bunda bahwa sejak didalam kandungan buah hati kita sudah dapat mendengar suara kita? Bahkan berdasarkan penelitian, suara ibu dapat mempercepat denyut jantung janin karena lesatan sel syaraf janin. Ketika janin mendengar suara ibu maka denyut jantung janin akan bergerak aktif. Saat ritme jantung janin aktif, janin akan menyimpan kata-kata yang dikenal dengan istilah stimulasi kognitif.

  • Melakukan pengenalan secara visual dan auditori

Menurut penelitian yang dilakukan Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychology, cahaya redup yang didekatkan pada ibu akan mampu merangsang bayi. Namun cahaya hendaknya diberikan secara bertahap. Hindari pemberian cahaya yang terlalu terang karena akan mengganggu kenyamanan bayi.

Selain itu,pengenalan suara seperti musik klasik dan lantunan ayat suci alquran juga dapat merangsang perkembangan otak bayi.

Saya sendiri sejak kandungan berusia empat bulan sudah memperdengarkan ayat –ayat suci alquran melalui headphone yang saya sambungkan dengan pemutar lagu. Saya berharap lantunan ayat alquran akan meningkatkan kecerdasannya sekaligus bertujuan untuk  mengenalkannya dengan agama sejak dini.

  1. Kelahiran buah hati

Begitu besar perjuangan seorang ibu. Proses melahirkan bukanlah hal yang mudah. Terkadang ada seorang ibu yang harus meregang nyawa saat akan melahirkan buah hatinya. Proses melahirkan secara normal akan ditandai dengan kontraksi yang luar biasa namun fase pemulihan akan cenderung cepat. Bila seorang ibu melahirkan secara caesar biasanya proses pemulihan akan lebih lama. Namun ada kalanya seorang ibu bahkan terpaksa melewati dua fase tersebut, ia merasakan kontraksi dan ternyata pada akhirnya anaknya harus dilahirkan melalui proses caesar.

Seorang Ibu pada dasarnya hanya ingin memberikan yang terbaik pada anaknya terlepas dari seperti apakah proses bersalin yang dilakukannya. Namun seringkali proses persalinan tidaklah semudah yang diinginkan. Jadi keputusan proses melahirkan baik secara normal dan caesar sebaiknya lebih didasarkan pada pertimbangan kesehatan ibu dan calon bayi.

  1. Masa menyusui

Setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Asi memiliki semua zat penting yang dibutuhkan oleh sang bayi dalam pertumbuhannya seperti protein, AA, DHA, Omega 6, Laktosa, Taurin, Laktobasilus, vitamin A, Kolostrum, lemak, zat besi, laktoferin dan lisozim. Asi juga mengandung protein “whey” yaitu sejenis protein yang mudah diserap usus.

Keberhasilan seorang ibu menyusui dimulai dari saat bayi dilahirkan. Semakin sering bayi menyusui maka semakin banyak ASI yang akan dihasilkan oleh ibunda

  1. Madrasah (sekolah) utama bagi ananda

Seorang ibu merupakan orang pertama yang mengenalkan norma kepada ananda. Ibunda merupakan sekolah paling utama dalam membentuk karakter anak. Ibu bertanggung jawab dalam mendidik dan menanamkan berbagai perilaku mulia.

Agar dapat mendidik anak, baik pendidikan moril maupun fisik,  seorang ibu harus memiliki pengetahuan umum yang mendukung. Kesabaran seorang ibu juga diperlukan dan diperoleh tidak melalui proses pembelajaran yang sebentar. Oleh karena itu seorang ibu seyogyanya tidak boleh malas mengupgrade kemampuannya untuk menjadi pendidik bagi anak- anaknya.

Tidak ada ibu yang sempurna. Yang ada hanya ibu yang terus belajar dan berusaha memberikan untuk anandanya. Tanpa seorang ibu, kehidupan umat manusia tidak dapat berlanjut. Tanpa keperdulian seorang ibu, tidak akan ada generasi yang gemilang, sehat jasmani dan rohani. Tanpa didikan yang baik dari sesorang ibu, akan terbentuk karakter manusia yang mendukung kehancuran peradaban manusia.

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

 

Tetap Produktif di Waktu Sempit

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa teman seringkali bertanya bagaimana sih cara saya mengatur waktu. Seorang istri, ibu dari dua anak yang masih kecil, bekerja di kota Jakarta yang sebagian besar waktu habis karena kemacetan jalan, memiliki bisnis online shop di bidang fashion, tapi masih sempat- sempatnya menulis di blog dan platform lainnya. Belum lagi ditambah berbagai aktifitas agama dan sosial lainnya.

Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

Pernah dengar ungkapan diatas? Bisa dibilang ungkapan tersebut merupakan salah satu guideline saya dalam menjalani hidup. Memicu saya untuk selalu berusaha memilah – milah mana kegiatan yang bermanfaat.

Pada hakikatnya kunci manajemen waktu adalah pengendalian diri. Kita mengendalikan diri  sehingga dapat mengatur waktu dengan baik.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi kiat-kiat dalam management waktu antara lain:

1. Menentukan target awal tahun

Di awal tahun biasanya saya menentukan target dalam satu tahun. Kemudian baru dibuat to do list untuk mencapai target tersebut.

2. Menyusun jadwal kegiatan

Hal  penting yang tak pernah saya tinggalkan adalah menyusun jadwal. Jadwal yang disusun tersebut dapat berisi kegiatan rutin ataupun bagian dari to do list yang telah dibuat di awal tahun.

Biasanya di akhir minggu, say telah menyusun jadwal untuk seminggu berikutnya.
Misalnya dalam hal pekerjaan, biasanya saya telah membuat target pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu minggu. Target tersebut yang kemudian dituangkan ke dalam jadwal harian. Namun jadwal tersebut fleksibel apabila  ada kerjaan yang sifatnya adhoc ataupun urgent.

Dalam hal rumah tangga, setiap akhir minggu saya juga membuat jadwal makanan untuk seminggu ke depan. Jadwal makanan tersebut terpisah antara kakak dan adik, tergantung jenis makanan yang lebih disukai anak-anak. Saya juga membuat jadwal kegiatan anak – anak, seperti jadwal permainan bagi si kecil untuk meningkatkan tumbuh kembangnya, jadwal belajar untuk kakak dan jadwal murajaah untuk keduanya.

Dalam hal bisnis, biasanya saya membuat rencana produksi dalam tiga bulan ke depan. Untuk jadwal pemasaran dan lainnya disusun seminggu sampai dua minggu berikutnya. Ini akan memudahkan pekerjaan bagian admin online shop dan agar proses pemasaran sinkron dengan jadwal produksi.

Untuk personal life, saya kerap membuat jadwal aktifitas lainnya seperti jadwal hapalan Quran, jadwal quality time bersama ananda, jadwal sosialisasi bersama teman dan kerabat dsb.

3.  Memanfaatkan waktu luang

Agar jadwal yang telah disusun dapat terlaksana secara maksimal, saya banyak memanfaatkan waktu luang untuk melakukan banyak hal.

Saat perjalanan pergi pulang kantor, saya biasa menargetkan untuk membaca Al Quran dan menghapal Quran. Saya juga menyempatkan waktu untuk menulis novel ataupun artikel. Selain itu saya juga sering menyisipkan melakukan kegiatan urgent lainnya terkait urusan administrasi rumah tangga, memeriksa pelajaran ananda, urusan bisnis dan masih banyak lagi.

Saat istirahat siang di kantor juga kerap dimanfaatkan untuk olahraga, menambah ilmu agama, persiapan sertifikasi, belajar bisnis, namun tetap kuselipkan waktu bersosialisasi dengan rekan sejawat.

4. Menghindari menunda kerjaan

Diakui terkadang saat rasa malas atau lelah datang, keinginan untuk menunda kegiatan atau tidak melaksanakan jadwal yang dibuat sangatlah besar. Namun  selalu berusaha keras untuk tidak menunda kerjaan karena tertundanya suatu kerjaan akan berefek pada keterlambatan pekerjaan lainnya. Dan secara keseluruhan dapat merusak target yang telah dibuat sebelumya.

5.Membiasakan membuat note atau catatan

Satu hal yang tidak kalah penting adalah memiliki aplikasi note di ponsel. Setiap kali ada ide terlintas baik untuk bahan tulisan, model baju, inspirasi pemasaran, ide kegiatan anak – anak, akan langsung ditulis dalam note di ponsel. Hal ini sangat membantu dalam pengembangan tulisan, penyusunan jadwal dan bahan diskusi dengan suami, teman ataupun tim.

6. Mengutamakan kegiatan prioritas/ bermanfaat

Saya selalu membiasakan untuk mengutamakan kegiatan yang sifatnya prioritas. Kegiatan mana yang sifatnya urgent atau kegiatan yang lebih mendatangkan pahala seperti hapalan Quran lebih menjadi prioritas untuk dikerjakan terlebih dahulu.

Saya juga berusaha untuk tidak melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat seperti nonton korea Dan sinetron. Bagi saya tidak masalah kalau kegiatan dilakukan tersebut dilakukan sesekali untuk sekedar refreshing atau sebagai me time. Namun kalau rutin dilakukan akan menimbulkan ketergantungan dan menghabiskan banyak waktu yang seharusnya dapat dialokasikan untuk kegiatan  lain yang lebih produktif.

7. Menjadikannya sebagai kebiasaan

Alah Bisa Karena Biasa. 

Tentu kita sering mendengar pepatah tersebut. Apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, maka pekerjaan akan terasa mudah dan bahkan terasa Ada yang berbeda saat tidak dikerjakan lagi. Maka hal baik tersebut akan menjadi suatu kebiasaan baik.

Pada dasarnya saya termasuk orang yang tidak bisa diam. Oleh karena itulah saya ingin energi tersebut dialihkan untuk mengerjakan sesuatu yang bernilai produktif. Dan tentunya semua ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjadi orang yang lebih baik.

Yuk, kita sama – sama berusaha 😊

Indahnya berbagi🙏

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

 

Ibu bahagia, kunci kecerdasan ananda

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Pada edisi sebelumnya, aku telah membahas tentang keberadaan bunda sebagai center of emotion dalam keluarga Jangan lupa “me time” ya bunda 😊, Kali ini kita akan membahas bagaimana kaitannya emosi seorang bunda dengan kecerdasan anak.

When mama aint happy, aint nobody happy.

Pernah dengar ungkapan itu? Itu sebuah lagu lama. Inti lagunya cukup tepat menggambarkan bagaimana besarnya peran seorang bunda dalam keluarga. ketika seorang ibu tidak bahagia, baik secara sadar maupun tidak, akan menyalurkan energy negative (marah, benci, kesal). Keluarga akan tertular merasakan perasaan negative juga.  Sebaliknya bila seorang ibu bahagia maka akan menciptakan suasana yang menyenangkan. Kondisi harmonis bisa tercipta dan ternyata ujungnya dapat meningkatkan kecerdasan ananda. Kenapa bisa?

Sebelum pembahasan lebih lanjut, mari kita bahas dulu peran seorang ibu dalam rumah tangga :

1.Manager Urusan Rumah Tangga

Sebuah keluarga tentu membutuhkan seseorang yang dapat mengatur segala kebutuhan rumah tangga. Jika ayah memiliki peran sebagai pencari nafkah, ibu bertugas mengelola segala urusan rumah tangga termasuk keuangan keluarga. Seorang bunda mengatur segala kebutuhan keluarga, sandang dan pangan. Seorang ibu rumah tangga seyogyanya merupakan pengelola keuangan yang sangat handal, yang dapat memaksimalkan berapapun pendapatan yang diperoleh dari suaminya. Seorang working mom seyogyanya merupakan manager yang handal yang dapat mendelegasikan Dan mengatur support system dirumah sehingga Urusan administrasi dapat berjalan baik tanpa kehadiran langsung dirinya.

2. Koki

Bunda merupakan koki utama yang menyediakan makanan untuk keluarga. Bunda menyiapkan makanan utama, minuman dan cemilan. Percayalah meskipun masakan bunda tidak selezat koki professional tapi makanan seorang ibu akan selalu dirindukan oleh ananda.

 

3. Dokter sekaligus perawat

Pernah dengar ungkapan seorang ibu tidak boleh sakit? Jangan diartikan secara harfiah ya. Itu hanya menunjukkan betapa pentingnya peran seorang ibu. Bila ibunda sakit, roda kegiatan keluarga dapat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lantas bagaimana kalau anggota keluarga lain yang sakit? Disinilah biasanya kehadiran seorang ibu sangat dibutuhkan. Seorang ibu seyogyanya dapat mengetahui pertolongan pertama saat Ananda sakit. Tahu kapan saatnya ananda perlu dibawa ke rumah sakit atau cukup diobati dengan obat yang dijual bebas ataupun obat traditional. Seorang ibu akan sangat telaten merawat suami atau anak yang sakit. Meminumkan obat, mengompres, memandikan selayaknya perawat rumah sakit.

4. Pendidik bagi ananda

Ibunda merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sehebat  dan semahal apapun sekolah yang bunda pilih untuk anak, tetap saja seorang ibu tidak dapat berlepas tangan dalam mendidik anak-anaknya. Ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak terkait pendidikan dasar agama, moral, intelektual, psikologis Dan sosial. Ibu akan mengajarkan mana perilaku baik dan perilaku buruk. Karakter dan perilaku ananda tergantung dari asuhan bunda.

5. Psikologi, motivator, fashion designer dsb.

Masih begitu banyak peran bunda yang lain. Bisa dibilang seluruh aspek kehidupan keluarga tidak lepas dari peran serta bunda didalamnya.

Terus apa kaitan antara tingkat emosional bunda dengan kecerdasan Ananda?

Seorang bunda yang kebutuhan emosionalnya terkendali akan menjalankan perannya dengan baik. Ia akan dapat mengelola urusan rumah tangga dengan baik sehingga seluruh kebutuhan keluarga tercukupi. Ibunda akan mencari cara untuk menyediakan makanan yang sehat dan menyenangkan anaknya.

Ibunda yang bahagia juga akan mencari metode yang tepat dalam mendidik anaknya. Ia akan mencari cara yang paling tepat untuk meningkatkan kecerdasan Ananda. Ia akan mengamati metode pembelajaran yang tepat untuk anaknya apakah secara visual, auditori ataupun kinestetik. Ia dapat mengobservasi jenis kecerdasan ananda dan menentukan langkah – langkah yang tepat untuk meningkatkan kecerdasan anaknya (Meningkatkan kecerdasan anak)

Pada akhirnya ibu yang bahagia akan menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk bermain, belajar dan bersosialisasi.

Selanjutnya yang jadi pertanyaan, bagaimana menjadi ibu yang bahagia? Hanya bunda yang bisa merumuskannya. Karena kebahagiaan datangnya dari hati kita bukan dari lingkungan sekitar. Yuk sama- sama belajar menjadi bunda yang bahagia 😊

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Jangan lupa “me time” ya bunda 😊

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa waktu yang lalu aku membaca artikel tentang perbedaan antara otak laki – laki dan perempuan. Jadi otak laki – laki dan perempuan dibangun dengan struktur yang berbeda sehingga memiliki pola pikir logis, persepsi, analisis, emosi, suara serta ruang yang berbeda pula. Salah satu dari perbedaan kemampuan yang yang dimiliki oleh wanita dibandingkan pria adalah kemampuan multi tasking.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan seorang wanita bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Saat ayah yang sedang konsen membaca tv tidak akan sadar dengan tangisan bayi nya yang menangis disampingnya, ssebaliknya seorang ibu dapat memasak, menyuapi, menonton tv dan berdiskusi dalam satu waktu.

Menurut penjelasan para pakar, hal tersebut disebabkan wanita cenderung akan selalu menghubungkan satu hal dengan yang lainnya, sementara laki-laki tidak.

Bila diibaratkan otak pria tersebut bagaikan ruangan arsip besar dengan kotak-kotak yang tersusun rapi. Pria cenderung berpikir secara sistematis dan membagi masalah kedalam kotak- kotak tersebut. Inilah yang menjelaskan mengapa pria tidak bisa mengerjakan dua hal sekaligus dalam satu waktu.

Berbeda dengan otak perempuan yang seperti ruangan server dengan kabel warna warni yang saling berhubungan. Jaringan tersebut akan aktif dalam satu waktu menghasilkan hasil yang luar biasa. Kabel – kabel tersebut terdiri dari kabel anak, kabel investasi, kabel tetangga, kabel suami, kabel pekerjaan dan lainnya yang saling berhubungan.

Penjabaran tersebut sangat tepat menjelaskan kenapa seorang ibu terlihat tidak bisa diam. Begitu banyak hal yang menjadi pikirannya. Suami, anak, masakan, tagihan, keuangan, kesehatan dan masih banyak lagi. Seorang working mom juga tidak berbeda, bahkan ia harus menambahkan kabel urusan pekerjaan kedalam otaknya.

Ibarat komputer, otak tidak bisa dipaksa bekerja terus. Otak perlu diistirahatkan sejenak untuk mengisi energinya kembali. Oleh karena itulah me time sangat diperlukan buat seorang ibu.

Apa sebenarnya me time tersebut? Me time bisa dikatakan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan yang bisa menimbulkan perasaan bahagia.

Me time dibutuhkan bagi full time mom yang sehari – hari berhubungan dengan rutinitas rumah tangga. Setiap harinya seluruh waktu dan pikiran dicurahkan untuk keluarganya. Lama kelamaan ibu bisa stress dan depresi tanpa disadari.
Begitu pula halnya dengan working mom. Begitu banyak urusan yang dipikirkannya sejak dini hari hingga tengah malam. Mulai dari urusan suami, anak- anak, domestik rumah tangga, pekerjaan kantor yang tetap menuntut perhatian penuh kelamaan bisa membuat otak lelah dan jenuh.

Ibu merupakan center of emotion dalam rumah tangga. Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaan bagi suami dan anak-anaknya. Sebaliknya ibu yang stress dan depresi akan menciptakan ketidakbahagiaan dalam keuarga. Hal inilah yang membuat seorang ibu harus pintar menyusun jadwal harian dalam hidupnya termasuk memasukkan me time kedalamnya.

Me time bagi seorang ibu bisa bermacam – macam. Ada seorang ibu yang menggunakan me timenya dengan kumpul bersama temannya. Ada yang pergi ke salon, menonton, travelling dan lainnya. Semua dikembalikan kepada individu masing- masing.

Kalau aku sendiri, buatku me time simple saja. Biasanya aku memilih kegiatan berdasarkan apa yang membuatku jenuh. Bila aku sedang jenuh dengan kehidupan rumah tangga, urusan- urusan domestik, tangisan dan teriakan anak- anak, maka aku membutuhkan tempat yang tenang untuk membaca. Kalau memungkinkan dengan menginap di hotel didaerah pegunungan dan menghabiskan waktu dengan membaca fiksi. Kalau tidak memungkinkan ya cukup membaca di kamar ber ac yang tenang tanpa gangguan selama sekitar stengah hari sampai dengan sehari.

Berbeda halnya bila kejenuhan timbul akibat pekerjaan dikantor yang relatif menggunakan otak kiri, maka aku akan mencari aktivitas otak kanan sebagai me time. Misalnya menyibukkan diri dengan online shopku. Bisa dibilang bisnis fashion yang kugeluti saat ini merupakan penyaluran dari keruwetan otak kiri. Kegiatan menentukan model, warna, dan aksesories lainnya sudah merupakan me time buatku.

Paling sering sih aku memilih aktifitas menulis sebagai me time. Apalagi  saat jadwal sedang padat-padatnya.  Bagiku, menulis  puisi atau fiksi sudah cukup mengurai benang ruwet di otak. Dan kegiatan tersebut bahkan bisa dilakukan di MRT sepulang kerja😁

Akhir kata, terlepas dari apapun kegiatan me time yang bunda pilih, percayalah bahwa me time penting untuk menjaga kewarasan kita. Jadi bila bunda kesulitan mencari waktu me time disebabkan padatnya jadwal harian, cobalah diskusikan dengan suami. Carilah me time yang menyenangkan bagimu dan sesuai dengan kondisi keluargamu.

Btw, karena ga ada foto lain, aku pajang foto me time ala- membaca 😁 Itung itung, sekalian promosi buku sendiri 😍

IMG_20191224_205638

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia

Anakku terlambat bicara?

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa waktu lalu aku terlibat diskusi yang cukup seru dengan rekan sekantor. Ia bercerita tentang kekhawatirannya akan anaknya yang diduga mengalami speech delay atau terlambat bicara. Ingatanku terlempar pada sekitar 1,5 – 2 tahun silam. Kala itu pun aku didera kebingungan karena melihat anak keduaku yang cenderung sedikit bicara. Pada saat itu pun aku menghawatirkan kalau Khaleev mengalami speech delay.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan speech delay? Dan apakah ciri- cirinya?

Dari hasil penelusuran mbah google dan diskusi dengan dokter, Speech delay  atau terlambat bicara adalah kondisi ketika seorang anak mendapatkan suatu kesulitan dalam hal mengekspresikan perasaan atau keinginannya pada orang lain. Speech delay bisa disebabkan karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif/ekspresif, autis atau gangguan pada organ mulut.

Tanda bahaya (red flags) yang harus segera dilakukan adalah evaluasi bicara dan bahasa, yaitu seperti:

  • Pada usia 12 bulan bila si Kecil tidak babbling, menunjuk atau tidak mengukuti gerak-gerik Anda yang merawat.
  • Usia 15 bulan bila si Kecil tidak melihat atau menunjuk 5 dari 10 objek atau orang yang disebutkan dan tidak mengucapkan minimal 3 kata.
  • Usia 18 bulan, si Kecil tidak mengikuti 1 instruksi dan tidak mengatakanmama, papa, dada.
  • Usia 2 tahun, bila si Kecil tidak menunjuk pada gambar atau anggota tubuh yang dusebutkan dan tidak mengucapkan minimal 25 kata.
  • Usia 2,5 tahun, si Kecil tidak merespon secara verbal, mengangguk atau menggelengkan kepala pada sebuah pertanyaan dan tidak dapat mengkombinasi dua kata.
  • Usia 3 tahun, si Kecil tidak memahami dan mengikuti perintah, tidak mengucapkan paling sedikit 200 kata, tidak dapat menyebutkan keinginanannya dan mengulang kalimat sebagai respon dari pertanyaan.

Alasan kami menduga Khaleev mengalami speech delay karena saat itu kami melihat perbedaan yang cukup mencolok antara kemampuan berbicara khaleev dibandingkan dengan kakaknya, Kiya. Di usia yang hampir menginjak 2 tahun, Khaleev belum bisa mengucapkan 2 kata sekaligus seperti aku makan. Hal yang sangat berbeda dengan kakaknya yang sudah bisa bercerita tentang pasukan bergajah Abrahah pada usia 1,5 tahun.

Melihat kondisi yang ada, kami melakukan beberapa hal antara lain :

  1. Memeriksakan Khaleev ke dokter THT.

Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Dokter Lola Yucola di Rumah Sakit Pondok Indah, Khaleev tidak mengalami masalah pada indra pendengaran dan organ mulut. Beliau lalu menyarankan agar kami berkonsultasi dengan psikolog/psikiater anak.

  1. Berkonsultasi dengan Psikiater Anak

Selanjutnya, kami melakukan sesi perjanjian dengan psikiater anak di klinik tumbuh kembang Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah. Dokter yang kami temui adalah dr. Gitayanti Hadisukanto, Sp.KJ(K). Dalam sesi konsultasi tersebut, Dokter Gita melakukan interview untuk mendapatkan informasi dan melakukan observasi atas Khaleev.

Beberapa pertanyaan yang dilontarkan dokter Gita :

  1. Apakah Khaleev suka menonton TV? Alhamdulillah kami tidak memperkenalkan TV kepada Khaleev sampai ia berusia 2 tahun.
  2. Apakah orang –orang disekelilingnya menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia saat berkomunikasi? Kami hampir tidak pernah menggunakan bahasa asing ataupun bahasa daerah saat berkomunikasi di rumah.
  3. Apakah orang – orang disekelilingnya malas mengajaknya berbicara? Alhamdulillah keluarga dekat dan mbak Khaleev tergolong orang – orang cerewet dan tidak pernah lelah untuk mengajaknya berbicara.
  4. Apakah orang – orang di sekelilingnya terlalu mengakomodir keinginannya? Misalnya  saat ia belum mengucapkan suatu permintaan dengan sempurna namun keinginannya sudah diberikan? Dalam hal ini, memang kami sekeluarga sering melakukannya. Misalnya ia baru mengucapkan “inum” dan kami sudah memberikan gelas berisi minuman kepadanya.
  5. Apakah Khaleev mau untuk memegang cairan, mau menginjak cairan atau tanah, menjilat sisa makanan di bibirnya dst ? Memang khaleev cenderung tidak mau menyentuh atau menginjak sesuatu yang menurutnya menjijikkan. Kami juga biasanya langsung mengelap tepi bibirnya yang kotor, alih – alih membiarkannya menjilat dengan lidahnya.

Selain mengajukan beberapa pertanyaan, dokter juga melakukan observasi kepada Khaleev seperti mengajaknya berkenalan, mengecek fisiknya dst.

Dari hasil interview dan observasi, ternyata Dr Gita justru lebih konsen kepada kemampuan adaptasi dibandingkan pada kemampuan bicara Khaleev. Khaleev memang cukup tertutup. Ia cenderung tidak mau bersalaman atau berdekatan dengan orang yang tidak dikenalnya. Lalu dokter menyarankan agar Khaleev mengikuti terapi sensorik motoric di Sekolah Tumbuh Kembang Anak, Pela 9. Dokter menyampaikan bahwa kemampuan sensorik motoriknya harus dikembangkan lagi. Kebiasaan kami yang membiarkannya hidup terlalu bersih, segera membersihkan mulutnya saat kotor ternyata berkontribusi memperlambat perkembangan sensorik motoriknya. Nanti apabila kemampuan sensorik motoriknya telah berkembang sesuai tahapan usianya, baru bisa mulai terapi wicara. Karena ternyata perkembangan sensorik motoric yang terlambat menyebabkan kemampuan bicaranya juga ikut terlambat.

  1. Mengikuti kelas terapi sensorik motoric di Sekolah Pela Pusat, Kebayoran lama.

Dalam kelas terapi tersebut, Khaleev didampingi oleh seorang terapis untuk diarahkan melakukan beberapa jenis permainan. Ruangan kelasnya besar dan memiliki banyak jenis mainan. Dalam setiap jam terapi, ada beberapa anak yang bersama – sama ada di ruangan tersebut dengan terapis masing –masing.  Khaleev ikut kelas setiap hari sabtu sehingga kami bisa ikut mendampingi.

Untuk mempercepat perkembangannya, aku juga membeli beberapa jenis mainan seperti yang ada di kelas terapi dan membuat jadwal permainan harian di rumah untuk Khaleev.

Setelah beberapa bulan mengikuti terapi, perkembangan sensorik motoric Khaleev bertambah. Namun kemampuan adaptasinya masih belum begitu baik. Ia tetap tidak mau ditinggal untuk bermain sendiri di dalam ruangan. Kemampuan berbahasanya juga masih belum bertambah.

  1. Mengikuti kelas terapi wicara Sekolah Pela Pusat, Kebayoran lama.

Setelah berkonsultasi dan berdiskusi lagi dengan dokter Gita, akhirnya dokter memperbolehkan Khaleev untuk ikut terapi wicara. Terapi tersebut dilakukan di ruangan kecil, dimana terapisnya  duduk berhadapan dengan khaleev. Terapisnya akan bermain bersama dengannya sambil mengajarkan kosakata. Berbeda dengan terapi sensorik motoric yang biasanya diisi dengan drama tangisan, Khaleev sangat menikmati kelas terapi wicara ini. Kepribadiannya yang introvert membuat ia lebih nyaman berada hanya berdua dengan terapis tanpa bersama teman- temannya yang lain.

Kemampuan berbahasa Khaleev juga meningkat cukup cepat. Setelah 3 bulan, terapisnya menyampaikan kalau Khaleev tidak mengalami keterlambatan bicara dan sudah tidak perlu ikut terapi lagi karena kemampuan berkomunikasinya sudah sesuai dengan tahapan usianya.

Setelah berbagai macam observasi dan diskusi yang dilakukan, akhirnya kami menarik benang merahseputar keterlambatan Khaleev berbicara yaitu :

1. Masalah terbesar Khaleev ternyata pada kepercayaan dirinya. Ia tidak percaya diri untuk berbicara dan menyuarakan keinginannya.

2. Pola asuh yang kami terapkan sebelumnya, yang cenderung terlalu mengakomodir keinginannya dan bukan kebutuhannya ternyata  berperan membuatnya malas bicara.

Saat ini Khaleev sudah berusia 3,5 tahun. Dan ia bukan sekedar bisa mengobrol namun sudah dapat berdiskusi banyak hal. Bahkan kadang – kadang ia sudah dapat berdebat atau ngeles untuk beberapa hal. ^_^

Sampai dengan saat ini kami masih belajar dan melakukan berbagai hal yang dapat merangsang kepercayaan dirinya, seperti mengikutkan sekolah saat weekend bersama kakaknya, melakukan simulasi – simulasi dengan reward dan punishment dalam memotivasinya melakukan sesuatu.

Belakangan ia sedang sibuk mendengarkan dan mengikuti bacaan surat – surat pendek. Namun seperti biasa, ia tidak percaya diri untuk setoran hapalan. Dan sebagai orang tua kami tidak lelah menyemangati, mendukungnya, mengiminginya dengan hadiah atau mengurangi kegemarannya agar ia mau menunjukkan kemampuannya. Dan tada …. inilah hasil beberapa video rekamannya

Jadi apabila bunda ada yang saat ini sedang berada di posisi kami 1,5 tahun yang lalu, sehingga muncul pertanyaan seperti apakah benar anakku mengalami keterlambatan bicara? Apa yang harus dilakukan? Coba amati dengan baik. Jangan jadikan pembanding dengan saudara atau temannya sebagai acuan untuk menentukan apakah ananda memang mengalami seperti dugaan bunda. Apabila masih kurang yakin, bunda bisa minta bantuan profesional seperti dokter atau psikolog.

Dan yang sangat penting diingat :

Every children has their own pace. Dont compare to others ^_^

Semoga kisah ini dapat memberikan sedikit pencerahan.

Indahnya berbagi  ^_^

Ketika sang embak tidak kembali

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Pada edisi terdahulu aku pernah membahas soal tips dan trik mendapatkan pengasuh anak (Asisten Rumah Tangga… Kisahmu Kini…) Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang masalah per asisten rumah tangga yang kualami pasca lebaran tahun ini.

Seperti biasa, sekitar sebulan sebelum lebaran, aku akan mulai bertanya kepada para asisten yang membantu dirumah apakah mereka akan kembali kerumah setelah mudik lebaran atau tidak. Hal ini berguna bagiku untuk menyusun rencanaselanjutnya. Adapun alternatif yang telah kurencanakan :

  1. Apabila sang pengasuh tidak akan kembali ke rumahku setelah lebaran,  mengingat anak keduaku masih batita, maka kami harus segera mendapatkan gantinya. Berdasarkan pengalaman, waktu tunggu untuk memperoleh pengganti sekitar 2 minggu setelah lebaran. Padahal aku dan suami hanya cuti 3-5 hari setelah lebaran. Maka solusi yang dapat diambil adalah kami akan menggunakan jasa infal dalam periode 14 – 30 hari (dimulai 5 hari sebelum lebaran sd pengasuh baru diperoleh).

(+) Kami sekeluarga bisa memaksimalkan hari -hari terakhir ramadhan untuk beribadah dan quality time  bersama anak. Tentunya karena tidak terganggu urusan cuci mencuci, bebersih dan bebenah rumah yang cukup melelahkan.

(-) Biaya admin dan gaji infal cukup besar. Selain itu, untuk edisi mudik yang mobilitasnya cukup tinggi (misalnya pindah- pindah  kota) akan cukup menambah kerepotan karena harus mempersiapkan untuk transportasi dan akomodasi mbak infal.

2. Apabila sang pengasuh akan kembali ke rumah setelah lebaran, maka akan ada pengaturan waktu untuk cuti secara bergantian  antara aku dengan suami agar ada yang menjaga anak sampai sekembalinya si pengasuh.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, yang antara lain meliputi tanya jawab dengan pengasuh, uji kesungguhan dst (mirip- mirip tes wawancara pekerja gitu deh), pengasuh anakku yang kecil yakin untuk kembali bekerja dirumah setelah mudik. Namun dia minta untuk cuti selama 2 minggu. Sebelum mengabulkan keinginannya, aku tetap berusaha untuk memastikan keinginannya untuk kembali. Karena aku tidak mau apabila sudah ditunggu namun ternyata ia hanya janji surga.

Karena akhirnya sang pengasuh tetap bersikeras akan kembali ke rumah, maka kami mengambil alternatif kedua, yaitu tidak mengambil infal dan menjadwalkan cuti yang bergantian dengan suami. Karena suami hanya bisa cuti di tanggal 10-11 Juni 2019, maka aku memutuskan untuk masuk di kedua hari itu dan cuti di 3 hari berikutnya. Sesuai janjinya, si mbak akan datang tanggal 12 Juni 2019.

All went as planned. Everything looks perfect until the big day.  Malam sebelum tanggal 12, si mbak wa dan menginfokan kalau esok ia akan naik travel jam 9 pagi. Prediksi tiba di rumahku malam hari. Paginya sekitar jam 10 pagi, aku mengirimkan chat untuk menanyakan apakah ia sudah berangkat namun tidak kunjung dibalas. Berkali- kali ditelpon juga ia tidak mengangkat. Sekitar sejam kemudian, ia baru membalas chat dan menginfokan kalau ia tidak dapat kembali kerumah hari itu karena KTP belum selesai diurus di kampung. Aku menawarkan agar KTP dikirim saja, namun ia mengemukakan berbagai alasan antara lain menunggu acara pernikahan sepupu.

Pada akhirnya ia bilang bahwa baru bisa pulang paling cepat seminggu lagi dan mempersilakanku untuk mencari penggantinya bila tidak dapat menunggu. Shock. Bisa dibilang saat itu aku sangat kaget dan marah. Sejak awal juga aku tidak pernah memintanya untuk kembali bekerja di rumah, malahan ia yang terkesan sedikit memaksa untuk menerimanya kembali. Dan sekarang tiba- tiba dia membatalkan keinginannya dengan kondisi yang tidak aku persiapkan sebelumnya.

Aku bergegas menghubungi puluhan penyalur dan yayasan yang kukenal namun kebanyakan  masih kosong. Kalaupun ada stok, kurang cocok dengan kualifikasi yang kubutuhkan. Yang bisa kulakukan selanjutnya hanya pasrah, berdoa dan menyiapkan alernatif berikutnya yaitu membawa anak-anak kekantor suami atau kekantorku apabila belum diperoleh pengasuh sampai dengan saatnya aku harus masuk kerja.

Beberapa hari kemudian, aku berhasil mendapatkan pengasuh untuk si kecil. Namun ternyata cobaan belum selesai karena baru sehari ia minta berhenti dengan alasan sakit darah rendah. Selain itu ternyata ia juga memiliki penyakit kulit yang membuatku tidak ingin menahannya lagi.

Alhamdulillah saat ini sang mbak pengasuh yang baru sudah ada untuk si kecil. So far lumayan cocok dan memiliki beberapa kelebihan daripada pengasuh sebelumnya. Mudah- mudahan drama art berhenti dulu untuk beberapa lama dan semoga untuk selamanya. Aminnnnn

Berkaca dari kejadian diatas, ada beberapa hal yang dapat kujadikan pelajaran :

  1. Persiapkan perencanaan sedetail mungkin. Seharusnya sejak awal aku sudah mempersiapkan alternatif apabila si mbak hanya janji-janji surga
  2. Jangan baper. Ini penting banget. Boleh saja percaya janji si mbak, namun bila ternyata ia tidak menepati, biarkan saja. Jangan marah dan stress, karena hanya akan menghabiskan energi. Fokus saja untuk mencari pengganti.
  3. Selalu ada hikmah dibalik setiap cobaan. Do the best dan let Allah do rest. Karena kejadian apapun selalu ada sisi positifnya.

Foto dibawah ini adalah foto yang diambil di pagi hari sebelum si emak rempong harus membawa krucil kekantor karena tidak ada mbak untuk menjaga  <_>

IMG20190617063318-01

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia

 

 

 

 

Asisten Rumah Tangga… Kisahmu Kini…

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Apabila ditanya apakah hal yang paling ditakuti oleh saya sebagai seorang working mom selain menyangkut kesehatan ananda? Maka jawabannya adalah saat pengasuh anak mengatakan akan berhenti bekerja dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan tidak betah, orang tua sakit, akan menikah sampai ada yang berkilah ingin mencari pengalaman baru. Dan ternyata saat saya menanyakan hal yang sama kepada kepada teman- teman sesama wanita bekerja yang juga memiliki anak masih kecil, jawabannya tidak jauh berbeda.

Permasalahan seputar pengasuh ananda ini sudah menjadi polemik bagi seorang working mom. Keberadaannya yang harus meninggalkan anandanya untuk bekerja tentunya membutuhkan orang yang dapat diandalkan untuk menggantikannya mengasuh ananda selama ia bekerja. Dan idealnya pengasuh ini bukanlah sekedar memberi makan, menemani main atau menjaga jaga tapi seyogyanya merupakan perpanjangan tangan seorang bunda. Yang artinya mereka juga dapat menjadi perpanjangan tangan orang tuanya, mengajarkan hal yang secara rutin dibiasakan sejak kecil.

Tapi pada prakteknya ternyata seorang pengasuh seringkali tidak bekerja lama di suatu tempat. Layaknya generasi millenia, seringkali mereka hanya bertahan sehari, sebulan, 3 bulan atau maksimal sepanjang garansi yang diberikan oleh yayasan atau penyalur. Jarang sekali yang bisa bekerja di suatu tempat selama setahun atau bahkan bertahun – tahun.

Turn over  yang tinggi tentunya kemudian menjadi permasalahan bagi ibu bekerja . Ketergantungan yang tinggi terhadap sang pengasuh alias Asisten rumah tangga (ART) ataupun baby sitter ini membuat bunda harus segera memperoleh gantinya bila mereka berhenti bekerja. Pertanyaan berikutnya, bagaimanakah cara mendapatkan pengasuh tersebut?

Secara umum, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh asisten rumah tangga, yaitu melalui makelar/penyalur dan yayasan.  Ada kelebihan dan kekurangan dari masing- masing cara tersebut. Berikut kita bahas lebih lanjut yaa

1. Penyalur

(+) Jasa administrasi yang tidak begitu besar. Jasa administrasi biasanya merupakan poin cukup penting saat seorang bunda memilih menggunakan jasa penyalur daripada yayasan. Biayanya saat ini berkisar antara Rp.750.000 sd 1.250.000.

(+) Penyalur langsung terlibat dalam mencari pengasuh. Biasanya pengasuh yang ditawarkan merupakan saudara, kerabat atau kenalan yang diperoleh langsung dari kampung. sehingga apabila ada masalah lebih cepat ditangani karena penyalur mengetahui keluarga pengasuh tersebut.

(-) Stok yang terbatas. Apabila pengasuh yang dipekerjakan ingin berhenti dengan berbagai alasan sedangkan waktu garansi masih belum habis, relatif sulit mendapatkan gantinya. Ini merupakan masalah cukup besar bagi seorang working mom. Hal ini terjadi terkadang saat keinginan pengasuh  untuk berhenti sudah sangat besar dan tidak dapat ditahan lagi yang berimbas kerja malas-malasan atau sampai kabur, sedangkan penyalur belum mendapatkan gantinya.

(-) Keamanan kurang terjaga. Penyalur biasanya merupakan perorangan yang tidak terdaftar secara resmi. Jadi apabila pengasuh terlibat kriminal dan bahkan mungkin bekerjasama dengan penyalurnya, maka akan sulit untuk dilaporkan kepada yang berwajib.

2. Yayasan

(+) Stok pengasuh cukup banyak. Biasanya yayasan akan memberikan garansi selama beberapa waktu dan saat pengasuh atau asisten rumah tangga ingin berhenti, bunda bisa langsung memilih ganti. Ini sangat membantu apabila asisten atau pengasuh minta berhenti mendadak. Karena berdasarkan pengalaman, saat sudah ingin berhenti mereka tidak bisa ditahan lama lagi untuk mendapatkan ganti. Semakin ditahan lama, pengasuh akan kerja asal-asalan atau bahkan kabur. Tentunya ini menjadi masalah untuk bunda yang memiliki bayi masih bayi atau kecil dan tidak bisa cuti lama.

(+) Biasanya yayasan sudah terdaftar secara resmi. sehingga bila ternyata ada permasalahan misalnya Pengasuh mencuri atau kabur, bisa langsung ditangani mereka dan bahkan bisa langsung menghubungi pihak berwajib.

(-) Kekurangannya adalah biaya administrasi yang cukup besar. Kisaran administrasi saat ini Rp. 1.800.000 – 3.000.000 untuk masa penggantian 2 – 6 bulan.

(-) Terkadang ada beberapa yayasan yang melakukan perjanjian dengan pekerjanya. Yayasan tersebut akan memberikan fee kepada pekerja apabila pekerja bersangkutan kembali ke yayasan setelah masa garansi habis. Yayasan kemudian akan menyalurkannya kepada majikan baru dan akan mendapatkan admin kembali. Hal ini membuat para pekerja hanya akan bekerja selama 2-3 bulan atau sampai dengan garansi habis dengan tujuan agar mendapatkan tambahan uang dari admin fee. Imbasnya, para pengasuh tersebut hanya akan bertahan kerja dalam hitungan bulan ditempat bunda.

Setelah menentukan cara mendapatkannya,selanjutnya yang perlu bunda pikirkan adalah cara menyeleksi para pengasuh tersebut. Berdasarkan pengalaman saya menggunakan baby sitter ataupun asisten selama 10 tahun, saya menggunakan beberapa pertimbangan untuk memperkerjakan seorang art  :

  1. Penampilan fisik. Kenapa ini menjadi pertimbangan utama saya? Bukan saya mendiskriminasikan orang berdasarkan tampilannya, namun ini lebih kepada kebutuhan saya dalam mempekerjakan mereka. Apabila saya mencari  pengasuh untuk merawat anak, maka saya menginginkan pengasuh anak saya harus terlihat bersih. Tidak ada penyakit kulit, kuku tangan harus bersih, rambut terikat rapi dst. Selain itu, kriteria fisik pengasuh saat anak saya bayi  akan berbeda dengan saat anak saya telah batita juga. Untuk mengasuh anak yang sudah batita, saya lebih memilih pengasuh yang masih muda dan kurus. Ini mengingat usia anak yang sedang aktif sehingga memerlukan pengasuh yang cekatan. Yang tentunya hal ini tidak berlaku untuk pengasuh bayi.
  2. Pengalaman kerja. Biasanya untuk mengasuh anak yang masih bayi, saya mensyaratkan pengasuh yang sudah memiliki kemampuan mengasuh bayi sebelumnya. Sebaliknya saat memilih pengasuh untuk anak saya yang sudah batita, saya lebih memilih pengasuh yang belum begitu berpengalaman namun mau belajar.
  3. Asal daerah. Kriteria ini lebih ke subyektifitas saya. Selama ini, saya pernah beberapa kali mempekerjakan asisten rumah tangga dari suku tertentu dan ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.  Sehingga untuk sekarang saya lebih memprioritaskan untuk mempekerjakan baby sitter atau art dari daerah tertentu.
  4. Lulus dalam wawancara. Hal yang wajib dilakukan sebelum memutuskan untuk menerima mereka bekerja adalah mereka harus lulus wawancara dengan saya. Biasanya wawancara saya lakukan melalui telepon atau video call. Karena keterbatasan waktu, saya memang tidak mendatangi langsung lokasi yayasannya. Saya mengandalkan komunikasi melalui telepon dan whattsap untuk memilih pekerja, baru kemudian pekerja tersebut diantar oleh yayasan ke rumah saya. Beberapa pertanyaan yang biasa saya tanyakan antara lain : Nama dan umur pekerja, daerah asal pekerja, Pendidikan terakhir, anak keberapa, apa tujuan bekerja, pengalaman bekerja sebelumnya (berapa lama bekerja ditempat sebelumnya, apakah majikan sebelumnya bekerja atau tidak, apa yang dilakukan ditempat sebelumnya, dst).
  5. Selain poin 1-4, pada akhirnya saya mengandalkan intuisi dalam membuat keputusan untuk mengambil pekerja tersebut. Terkadang saya sering terpaksa memperkerjakan seorang ART padahal sudah tidak sreg dari awal. Dan ternyata akhirnya ternyata benar bahwa ART itu tidak baik, misalnya mencuri, berbohong dst.

Demikian sedikit pengalaman yang bisa saya bagi terkait Asisten Rumah Tangga ataupun Baby Sitter. Semoga membantu yaaaaa ^_^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Baby Blues & Post Partum Depression

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Tulisan kali ini saya buat  terinspirasi dari cerita teman- teman yang baru kembali bekerja setelah cuti melahirkan selama tiga bulan lamanya. Masa selepas melahirkan sampai dengan dua bulan pertama setelah ananda lahir diwarnai oleh berbagai cerita terkait proses melahirkan, Asi yang belum keluar, pengasuh yang sulit didapat dan masih banyak lagu. Namun setelah cukup lama saling tukar cerita, saya baru menyadari kalau ternyata banyak ibu muda tidak memiliki cukup pengetahuan tentang masalah psikologis yang kerapkali dialami oleh ibunda yang baru melahirkan. Banyak bunda yang merasakan dampaknya namun tidak tahu apakah yang sedang terjadi dengannya dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam dunia kesehatan, masalah psikologis  yang terjadi pasca melahirkan dikenal dengan Baby Blues dan Post Partum Depression.

Apakah itu ??
Baby blues sydrom merupakan masalah gangguan emosional pada ibu yang baru melahirkan. Kondisi tersebut biasanya hanya terjadi sesaat atau sekitar 3-6 hari. Paling lama, baby blues bisa berlangsung selama dua minggu. Ini adalah bentuk depresi pasca-kelahiran yang paling ringan.
Saya sendiri pernah mengalami baby blues pada  kehamilan anak pertama. Pada saat itu, Kiya (anak saya-red) yang baru berusia lima hari tertular batuk pilek yang saya derita. Saat itu saya merasa sangat bersalah. Dan sebagai akibatnya saya sampai menangis di bawah meja sambil terus menyalahkan diri. Untunglah keluarga sigap mengambil peran untuk menghentikan perasaan tidak karuan yang saya alami. Suami dengan segala usaha berusaha menyenangkan hati saya, Mama menceritakan pengalamannya dulu yang membuat saya tidak merasa sebagai ibu terburuk di dunia dan anggota keluarga lain terus menunjukkan perhtian dan dukungannya. Dan alhamdulillah syndrom yang saya alami hanya berlangsung satu hari.

Lalu bagaimana dengan Postpartum Depression (PPD) ? Pada dasarnya gejala keduanya mirip, yang membedakan adalah dampak dan waktunya. Baby Blues syndrom gejalanya lebih ringan dan lebih singkat dibandingkan PPD. Gejala Baby Blues juga tidak sampai membuat ibu kehilangan kemampuan untuk mengasuh anaknya atau melakukan kegiatan sehari-hari.
Sebaliknya, Postpartum Depression (PPD) memiliki gejala yang lebih serius. Biasanya terjadi lebih dari dua minggu setelah melahirkan. Ibunda yang mengidap PPD biasanya merasa kehilangan nafsu makan atau justru makan berlebihan. Ibu bisa juga mengalami kesulitan tidur atau justru tidur berlebihan. Ibu dengan PPD juga akan merasa kehilangan harapan, putus asa dan kurang gairah hidup. Ibu akan merasakan rasa malu, bersalah yang berlebihan dan kurang kepercayaan diri untuk mengasuh anak. Bahkan terkadang dampak PPD bisa sangat berbahaya, yaitu ibu bisa menyakiti anaknya sendiri.
Salah satu teman sejawat saya ada yang mengidap PPD. Ia memperoleh buah hati melalui serangkaian proses yang cukup melelahkan. Mulai dari berbagai usaha yang dilakukan dalam program kehamilan hingga masa kehamilan yang cukup berat sehingga membuatnya harus bed rest berbulan- bulan lamanya. Alhamdulillah buah hatinya lahir dalam keadaan sehat ke dunia. Namun ternyata kemudian ia merasakan kelelahan yang luar biasa, bukan hanya secara fisik namun lebih ke mental. Ia  sampai pada titik tidak ingin memberikan ASI kepada bayinya. Ia juga merasakan perasaan tidak disayang terutama bila suaminya sedikit larut dalam pekerjaannya. Perasaan tersebut dirasakan selama dua bulan dan bahkan terkadang muncul kembali. Untunglah suaminya cukup aware dengan kondisinya sehingga kondisinya tidak berlarut-larut.

Kondisi PPD bila dibiarkan berlarut- larut dapat menimbulkan akibat yang cukup berbahaya. Beberapa kasus dimana ibu menyakiti bayinya ternyata merupakan dampak dari PPD yang tidak segera diatasi oleh suami dan orang terdekatnya. Tidak sedikit suami dan keluarga yang menyepelekan masalah ini dan beranggapan permasalahan psikologis yang menimpa ibunda  akan selesai seiring anak bertambah usia

Jadi apakah yang harus dilakukan?
Pesan untuk suami, hendaknya cukup sensitif dengan kondisi yang dialami oleh istrinya. Seorang ibunda yang sedang mengalami fase baru dalam hidupnya tentu akan merasakan berbagai hal, termasuk diantaranya ketakutan, kelelahan dan perasaan negatif lainnya. Berikan telinga untuk mendengar keluhannya, berikanlah pelukan untuk menenangkan keresahannya, berikan bahu sebagai tempatnya bersandar, berikanlah  dukungan dan bantuan baik secara fisik maupun moril.

Amati keadaannya. Minta bantuan anggota keluarga yang lain atau lingkungan sekitarnya. Namun bila kondisi terus berlanjut dan semakin buruk, maka lebih baik melibatkan pihak lain, misalnya dokter.

Salam,

Rilia

PPD

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge writing indiscript creative Perempuan Menulis Bahagia

Meningkatkan kecerdasan anak

Setelah kita memahami berbagai tipe kecerdasan anak sebagaimana yang telah dibahas pada artikel sebelumnya (Benarkah anakku bodoh?), dan sebelum melangkah lebih lanjut mengenai langkah-langkah yang dapat diterapkan untuk meningkatkan kecerdasan tersebut,  ada baiknya kita memahami terlebih dahulu tentang gaya belajar anak

1. Auditori

Apakah anak bunda akan memahami lebih cepat bila mendengarkan instruksi? Ketika mengeja sebuah kata cenderung mengungkapkan secara fonetik? Bila iya, maka anak bunda merupakan tipe pembelajar auditori. Maka metode yang paling tepat dipilih adalah melalui suara, bisa melalui musik, dsb.

2. Visual

Apakah anak suka mengingat gambar dan diagram? Apakah ia mengingat film dengan mendeskripsikan bagian favoritnya dengan menyebutkan banyak adegan berbeda? Apakah ia suka berkhayal? Jika anak bunda lebih suka mengingat sesuatu yang ia lihat daripada yang ia dengar, mungkin ia seorang pembelajar visual. Alat bantu yang cukup tepat untuk tipe pembelajar visual adalah melalui tontonan atau buku.

3. Kinestetik

Apakah anak belajar dengan melakukan gerakan fisik? Apakah ia sangat aktif dan susah untuk duduk diam? ketika berbicara, apakah anak bunda banyak bergerak dan menggunakan tubuhnya untuk membuat isyarat? Apakah ia lebih senang menunjukkan barang kepada anda daripada menjelaskannya? Jika ya, mungkin ia seorang pembelajar kinestetik. Aktifitas fisik adalah karakter utama anak dengan tipe ini. Ia ingin seluruh tubuhnya terlibat dalam proses belajar. Ajarlah ia berhitung secara fisik dengan menaiki tangga. Ketika membaca biarkan ia mengetukkan jari, berjalan kesana-kemari, bergoyang dan berguncang.

Kini setelah memahami gaya pembelajar anak, kita dapat memilih metode yang paling tepat untuk memaksimalkan kecerdasan anak.  Mari kita bahas satu persatu beberapa cara untuk mengoptimalkan setiap kecerdasan yang ada :

1. Kecerdasan Lingusitik (Kecerdasan Bahasa)

Ciri dari anak yang memiliki kecerdasan bahasa antara lain mudah mengingat kata, suka sejak usia masih dini, suka menceritakan apa yang dibaca dan pengalamannya, suka sekali membaca buku.

Cara yang cukup efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan bahasa adalah dengan bercerita dan berdiskusi film tentang buku bacaan dan film yang ditonton, bermain teka – teki silang dan membiasakan menulis diary.

2. Kecerdasan Matematis – Logis (Logical – Mathematical Intelligence)

Ciri dari anak yang memiliki kecerdasan Matematis – Logis antara lain rasa ingin tahunya tinggi,senang menghitung, senang mengklasifikasikan, tekun dan suka membaca, memberi dan menuntut argumen yang rasional.

Cara yang dapat ditempuh untuk mengoptimalkan kecerdasan ini adalah dengan menyiapkan barang-barang bekas untuk mengasah kreatifitas, menyediakan mainan yang tepat seperti puzzle; permainan angka; bongkar pasang, melibatkan anak dalam beberapa persoalan keluarga misalnya memperbaiki mobil dst.

3. Kecerdasan Ruang (Spatial Intelligence)

Ciri dari anak yang memiliki kecerdasan ruang antara lain mudah belajar melalui penglihatan, suka menggambar,  pengamat yang baik, pemimpi yang suka tenggelam dalam pikirannya sendiri.

Ayah bunda dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak dengan menyediakan berbagai peralatan seni seperti alat lukis untuk yang menyukai gambar, kamera untuk untuk yang menyukai fotografi. Berikan kesempatan anak untuk mendekor ruangannya sendiri.

4. Kemampuan Kinestetik (Bodily – Kinesthetic intelligence)

Ciri dari anak yang memiliki kecerdasan kinestetik adalah menyukai aktifitas yang menggunakan anggota tubuh, gemar berbicara dengan kedua tangannya, bermain boneka sambil mengajaknya bicara dan sulit duduk diam saat belajar ataupun makan.

Cara untuk  mengoptimalkan kecerdasan ini antara lain dengan  membuat kue bersama- sama, memperbanyak aktifitas fisik seperti olahraga; naik gunung, mengikuti berbagai kursus membuat keramik, menenun dst.

5. Kecerdasan Musikal (Musical intelligence)

Ciri dari anak yang memiliki kecerdasan musikal adalah peka terhadap bunyi- bunyian, kemajuan yang cepat dalam memainkan alat musik, menyanyikan lagu dengan tangga nada yang tepat dan mudah sekali menghapal lagu atau qira’ah.

Anak dengan tipe ini dapat dioptimalkan kecerdasannya dengan mengikutkan dalam kursus alat musik dan suara, bernyanyi sambil bergoyang, sering mendengarkan musik dan qiraah.

6. Kecerdasan interpersonal (Interpersonal intelligence)

Ciri anak yang memiliki kecerdasan interpersonal antara lain bisa berhubungan baik, suka menjalin komunikasi dengan orang lain, memiliki keterampilan bekerjasama dan menunjukkan kemampuan memimpin.

Ayah bunda dapat membantu meningkatkan kecerdasan anak dengan berkunjung ke tetangga dan kerabat, menyantuni orang yang terkena musibah, pelatihan leadershipdst.

7. Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal intelligence)

Ciri anak yang memiliki kecerdasan intrapersonal adalah disiplin tinggi dan suka bekerja sendiri, tidak suka berbaur tapi tidak anti sosial, kreatif, introspektif, sangat mandiri dan berorientasi pada target.

Cara yang cukup efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan ini adalah dengan melatih anak berpikir mengenai diri sendiri, membiasakan anak menuliskan isi hati, mendengarkan perasaan dan ide-idenya, bertukar pikiran mengenai kekuatan, kelemahan dan minat anak, mendorong anak mengekspresikan emosinya.

8. Kecerdasan lingkungan (Naturalist intelligence)

Ciri anak yang memiliki kecerdasan lingkungan antara lain perduli pada hewan dan binatang, mampu membedakan atau melihat kesamaan setiap fenomena alam, terpengaruh emosinya terhadap pengelolaan alam yang tidak benar dan antusias ke museum, kebun binatang atau ke hutan.

Cara yang cukup efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan ini adalah dengan mendorongnya memelihara binatang peliharaan, membuat taman kecil, mengajak untuk mengamati langit di malam hari, mengajaknya ke museum, cagar alam dan kebun binatang.

9. Kecerdasan eksistensial (Existensial intelligence)

Ciri anak yang memiliki kecerdasan eksistensial antara lain suka mengajukan pertanyaan tentang Tuhan dan  kehidupan, memperhatikan makhluk hidup dan alam sekitar.

Cara yang cukup efektif untuk mengoptimalkan kecerdasan ini adalah dengan mengenalkan kitab suci, kisah nabi,  biografi orang terkenal dan mengaitkan berbagai gejala alam dengan kebesaran Tuhan.

Nah, sudah selesai membaca ciri-ciri diatas? Kira-kira anak-anak kita memiliki kecerdasan yang mana ya? Yuk, kita cari tau dan coba lakukan hal-hal yang bisa mengoptimalkan kecerdasannya.

d60bba8de5e5e9c689a19059f7e51cf1

*sumber : Multiple intellligence (Howard Gardner), Yayasan Kita dan Buah Hati

Benarkah anakku bodoh?

“Kenapa ya anakku kok susah sekali diajarin baca?”

“Kalau anakku malah susah banget berhitung. Pengen nangis rasanya kalau udah ngajarin dia. Ga bisa- bisa terus.”

“Kalau anakku paling susah kalo disuruh olahraga. Lari sedikit saja sudah ngos-ngosan.”

Sound familiar dengan percakapan diatas? Iya, itu pembicaraan yang banyak terjadi di kalangan ibu-ibu. Obrolan yang berlanjut pada keluhan dan terkadang malah akhirnya berujung kekecewaan pada anaknya. Ada ibu yang merasa kenapa anaknya tidak memiliki kelebihan yang cukup menonjol. Selanjutnya bisa muncul pertanyaan “Duh, bagaimana ya kalau anakku tidak bisa survive di masa depan?”

Bunda, ketahuilah bahwa tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak yang kecerdasannya tidak digali sejak dini hingga tersia- sia.

Menurut Howard Gardner, manusia tidak memiliki satu kecerdasan melainkan 9 kecerdasan. Untuk lebih mengenali jenis kecerdasan tersebut, mari kita bahas satu – persatu :

  1. Kecerdasan linguistik (Linguistic Intelligence) merupakan kemampuan untuk menggunakan dan mengolah kata-kata secara efektif saat berbicara atau menulis.
  2. Kecerdasan matematis – logis (Logical – Mathematical Intelligence). Kemampuan ini berkaitan dengan penggunaan bilangan dan logika.
  3. Kecerdasan ruang (spatial intelligence) merupakan kemampuan untuk menangkap  ruang visual secara tepat dan kemampuan untuk mengenal bentuk dan benda secara tepat.
  4. Kemampuan kinestetik (bodily – kinesthetic intelligence) merupakan menggunakan tubuh atau gerak tubuh untuk mengekspresikan gagasan dan perasaan.
  5. Kecerdasan musikal (Musical intelligence) merupakan kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan dan menikmati musik dan suara, peka terhadap ritme, melodi,dan intonasi serta kemampuan memainkan alat musik.
  6. Kecerdasan interpersonal (Interpersonal intelligence) merupakan kemampuan untuk mengerti dan menjadi peka terhadap perasaan, intensi, motivasi, watak dan temperamen orang lain.
  7. Kecerdasan intrapersonal (Intrapersonal intelligence) merupakan kemampuan berkaitan dengan pengetahuan akan diri sendiri dan kemampuan untuk bertindak secara adaptif berdasar pengalaman diri serta mampu berefleksi dan keseimbangan diri, kesadaran tinggi akan gagasan-gagasan.
  8. Kecerdasan lingkungan (Naturalist intelligence) merupakan kemampuan untuk mengenali dan mengklasifikasi tanaman, binatang dan fenomena alam.
  9. Kecerdasan eksistensial (Existensial intelligence) merupakan kemampuan menyangkut kepekaan dan kemampuan seseorang untuk menjawab persoalan- persoalan terkait eksistensi manusia.

Kecerdasan tersebut diatas dapat digolongkan lagi sebagai berikut :

  1. Kecerdasaan akademik (kecerdasan yang digunakan untuk menilai skor IQ) yaitu kecerdasan linguistic and mathematics.
  2. Kecerdasan spesialis yaitu kecerdasan musik, spasial (gambar), kecerdasan kinestetik (tubuh) dan kecerdasan natural.
  3. Kecerdasan tambahan yaitu kecerdasan personal dan kecerdasan sosial.

Di beberapa negara, seperti Indonesia, lembaga pendidikan resmi baru mengapresiasi kecerdasan akademik. Inilah yang menjelaskan mengapa banyak orang tua berpikiran anaknya kurang pintar di sekolah. Hal tersebut karena kecerdasan yang dimiliki anaknya mungkin tidak terkait dengan bidang akademik namun lebih kepada kecerdasan lainnya.

Setiap orang terlahir cerdas dengan cara yang berbeda.  Dengan demikian, kecerdasan dapat ditingkatkan dengan pola pembelajaran dan pengembangan diri yang sesuai dengan kelebihan setiap individu.

Jadi sekali lagi,  tidak ada anak yang bodoh. Yang ada hanyalah anak dengan kecerdasan yang berbeda dengan temannya. Bila sebagai orang tua kita memahami keunikan kecerdasan anak, maka kita dapat mengarahkannya untuk menggunakan kecerdasan secara maksimal. Dengan mengenali kelemahannya, dapat membantunya untuk mengembangkan diri. Dengan motivasi dan pembelajaran yang memadai, anak bisa memiliki kompetensi cukup untuk tiap kecerdasan.

Jadi bagaimanakah peran serta kita sebagai orang tua untuk memaksimalkan kecerdasan anak? akan kita bahas dalam artikel berikutnya

Sumber : Multiple intellligence (Howard Gardner) dan Meningkatkan kecerdasan anak (Claire Gordon & Lynn Huggins – Cooper).