Ibunda, Penentu Kokohnya Peradaban Manusia

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Seorang ibu memiliki peran yang sangat besar dalam kemajuan peradaban umat manusia. Maju- mundurnya peradaban suatu bangsa ditentukan oleh keberadaan dan fungsi ibu didalamnya.

Sebelum kita membahas lebih lanjut , ada baiknya kita menjabarkan terlebih dahulu apa sebenarnya pengertian dari peradaban.

Pengertian peradaban menurut Kamus Besar Bahasa Indonesai (KKBI) adalah :

  1. Kemajuan (kecerdasan, kebudayaan) lahir batin:
  2. Hal yg menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa

Sedangkan arti peradaban menurut salah satu ahlinya (Alfred Weber) adalah:

Peradaban mengacu kepada pengetahuan praktis dan intelektual serta sekumpulan cara yang bersifat teknis yang fungsinya untuk mengendalikan alam. Berbeda dengan Kebudayaan yang tersusun atas serangkaian nilai, prinsip, normatif, dan juga ide yang sifatnya unik Aspek tersebut lebih kepada sifat kumulatif dan lebih siap untuk disebar, lebih rentang kepada suatu penilaian, dan juga lebih berkembang jika dibandingkan dengan aspek kebudayaan. Peradaban sifatnya impersonal dan objektif, sedangkan kebudayaan tersebut sifatnya personal, subjektif dan unik.

Peradaban identik dengan gagasan tentang kemajuan sosial, baik dalam bentuk kemenangan akal dan rasionalitas terhadap dogma maupun doktrin agama, memudarnya norma – norma lokal tradisional dan perkembangan pesat ilmu pengetahuan alam dan teknologi.

Ciri-ciri umum sebuah peradaban adalah sebagai berikut.

  • Pembangunan kota-kota baru dengan tata ruang yang baik, indah, dan modern
  • Sistem pemerintahan yang tertip karena terdapat hukum dan peraturan.
  • Berkembangnya beragam ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih maju seperti astronomi, kesehatan, bentuk tulisan, arsitektur, kesenian, ilmu ukur, keagamaan, dan lain-lainnya.
  • Masyarakat dalam berbagai jenis pekerjaan, keahlian, dan strata sosial yang lebih kompleks

Peradaban sudah dimulai dari jaman dahulu yang sering kali disebut dengan peradaban kuno dan terus berkembang hingga perkembangan peradaban saat ini yang didominasi oleh teknologi tinggi.

Perubahan sistem kehidupan, norma dan teknologi tersebut  tentu tidak lepas dari peran serta yang besar dari seorang ibu. Seorang ibu mengandung selama 9 bulan, melahirkan, menyusui, dan merawat anak- anaknya. Ibu juga merupakan madrasah pertama dan utama bagi buah hatinya.

Kepribadian dan karakter anak tidak lepas dari pola asuh ibunda.

“Seseorang datang kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, kepada siapakah aku harus berbakti pertama kali?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘Kemudian siapa lagi?’ Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Ibumu!’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Ibumu.’ Orang tersebut bertanya kembali, ‘Kemudian siapa lagi,’ Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘Kemudian ayahmu. (HR. Al Bukhari).

Kedudukan seorang ibu sangat mulia dalam islam. Hal ini tidak lain disebabkan begitu besar peran seorang ibu dalam menciptakan suatu generasi penerus bangsa.

Kokoh tidaknya peradaban ditentukan dari ibunda. Dan kita sebagai seorang ibu dapat mulai menyiapkan generasi pembangun peradaban yang tinggi bahkan sejak ananda belum dilahirkan. Cara – cara yang dapat dilakukan antara lain:

  1. Masa kehamilan

Sejak masih mengandung, seorang ibu telah berperan besar dalam perkembangan calon bayi. Ibu yang sehat dan bahagia akan menularkan energi positif tersebut ke janin yang sedang dikandungnya. Hal- hal yang dapat dipersiapkan sejak ananda masih dalam kandungan:

      a. Makan makanan bergizi

Sebuah jiwa baru lahir didalam perut seorang ibu. Ia butuh untuk berkembang dan memerlukan nutrisi untuk itu. Terkadang bila proses kehamilan cukup bermasalah, akan tidak memungkinkan untuk makan dalam jumlah banyak. Sehingga solusinya adalah  sesering mungkin untuk makan dalam jumlah sedikit namun bergizi.

Usahakan memilih makanan yang mengandung tinggi lemak omega 3 dan DHA yang mampu membantu dalam meningkatkan perkembangan otak janin secara optimal seperti ikan tuna, salmon, dan jenis ikan tawar. Anda juga dapat mengkonsumsi minyak ikan sehingga memenuhi kebutuhan nutrisi janin anda. Sari kurma dan madu yang kaya akan multivitamin juga menjadi pilihan yang baik.

      b. Rangsang perkembangan otaknya

Otak ananda sudah mengalami perkembangan sejak masih berada dalam kandungan. Bahkan pada minggu ke-10, otaknya sudah mulai berfungsi. Sebagai bunda kita dapat membantu meningkatkan perkembangan otak ananda sejak dalam kandungan antara lain dengan :

  • Mengajaknya berbicara

Tahukah bunda bahwa sejak didalam kandungan buah hati kita sudah dapat mendengar suara kita? Bahkan berdasarkan penelitian, suara ibu dapat mempercepat denyut jantung janin karena lesatan sel syaraf janin. Ketika janin mendengar suara ibu maka denyut jantung janin akan bergerak aktif. Saat ritme jantung janin aktif, janin akan menyimpan kata-kata yang dikenal dengan istilah stimulasi kognitif.

  • Melakukan pengenalan secara visual dan auditori

Menurut penelitian yang dilakukan Journal of the American Academy of Child & Adolescent Psychology, cahaya redup yang didekatkan pada ibu akan mampu merangsang bayi. Namun cahaya hendaknya diberikan secara bertahap. Hindari pemberian cahaya yang terlalu terang karena akan mengganggu kenyamanan bayi.

Selain itu,pengenalan suara seperti musik klasik dan lantunan ayat suci alquran juga dapat merangsang perkembangan otak bayi.

Saya sendiri sejak kandungan berusia empat bulan sudah memperdengarkan ayat –ayat suci alquran melalui headphone yang saya sambungkan dengan pemutar lagu. Saya berharap lantunan ayat alquran akan meningkatkan kecerdasannya sekaligus bertujuan untuk  mengenalkannya dengan agama sejak dini.

  1. Kelahiran buah hati

Begitu besar perjuangan seorang ibu. Proses melahirkan bukanlah hal yang mudah. Terkadang ada seorang ibu yang harus meregang nyawa saat akan melahirkan buah hatinya. Proses melahirkan secara normal akan ditandai dengan kontraksi yang luar biasa namun fase pemulihan akan cenderung cepat. Bila seorang ibu melahirkan secara caesar biasanya proses pemulihan akan lebih lama. Namun ada kalanya seorang ibu bahkan terpaksa melewati dua fase tersebut, ia merasakan kontraksi dan ternyata pada akhirnya anaknya harus dilahirkan melalui proses caesar.

Seorang Ibu pada dasarnya hanya ingin memberikan yang terbaik pada anaknya terlepas dari seperti apakah proses bersalin yang dilakukannya. Namun seringkali proses persalinan tidaklah semudah yang diinginkan. Jadi keputusan proses melahirkan baik secara normal dan caesar sebaiknya lebih didasarkan pada pertimbangan kesehatan ibu dan calon bayi.

  1. Masa menyusui

Setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi buah hatinya. Asi memiliki semua zat penting yang dibutuhkan oleh sang bayi dalam pertumbuhannya seperti protein, AA, DHA, Omega 6, Laktosa, Taurin, Laktobasilus, vitamin A, Kolostrum, lemak, zat besi, laktoferin dan lisozim. Asi juga mengandung protein “whey” yaitu sejenis protein yang mudah diserap usus.

Keberhasilan seorang ibu menyusui dimulai dari saat bayi dilahirkan. Semakin sering bayi menyusui maka semakin banyak ASI yang akan dihasilkan oleh ibunda

  1. Madrasah (sekolah) utama bagi ananda

Seorang ibu merupakan orang pertama yang mengenalkan norma kepada ananda. Ibunda merupakan sekolah paling utama dalam membentuk karakter anak. Ibu bertanggung jawab dalam mendidik dan menanamkan berbagai perilaku mulia.

Agar dapat mendidik anak, baik pendidikan moril maupun fisik,  seorang ibu harus memiliki pengetahuan umum yang mendukung. Kesabaran seorang ibu juga diperlukan dan diperoleh tidak melalui proses pembelajaran yang sebentar. Oleh karena itu seorang ibu seyogyanya tidak boleh malas mengupgrade kemampuannya untuk menjadi pendidik bagi anak- anaknya.

Tidak ada ibu yang sempurna. Yang ada hanya ibu yang terus belajar dan berusaha memberikan untuk anandanya. Tanpa seorang ibu, kehidupan umat manusia tidak dapat berlanjut. Tanpa keperdulian seorang ibu, tidak akan ada generasi yang gemilang, sehat jasmani dan rohani. Tanpa didikan yang baik dari sesorang ibu, akan terbentuk karakter manusia yang mendukung kehancuran peradaban manusia.

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

 

Tetap Produktif di Waktu Sempit

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa teman seringkali bertanya bagaimana sih cara saya mengatur waktu. Seorang istri, ibu dari dua anak yang masih kecil, bekerja di kota Jakarta yang sebagian besar waktu habis karena kemacetan jalan, memiliki bisnis online shop di bidang fashion, tapi masih sempat- sempatnya menulis di blog dan platform lainnya. Belum lagi ditambah berbagai aktifitas agama dan sosial lainnya.

Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.”

Pernah dengar ungkapan diatas? Bisa dibilang ungkapan tersebut merupakan salah satu guideline saya dalam menjalani hidup. Memicu saya untuk selalu berusaha memilah – milah mana kegiatan yang bermanfaat.

Pada hakikatnya kunci manajemen waktu adalah pengendalian diri. Kita mengendalikan diri  sehingga dapat mengatur waktu dengan baik.

Kali ini saya ingin sedikit berbagi kiat-kiat dalam management waktu antara lain:

1. Menentukan target awal tahun

Di awal tahun biasanya saya menentukan target dalam satu tahun. Kemudian baru dibuat to do list untuk mencapai target tersebut.

2. Menyusun jadwal kegiatan

Hal  penting yang tak pernah saya tinggalkan adalah menyusun jadwal. Jadwal yang disusun tersebut dapat berisi kegiatan rutin ataupun bagian dari to do list yang telah dibuat di awal tahun.

Biasanya di akhir minggu, say telah menyusun jadwal untuk seminggu berikutnya.
Misalnya dalam hal pekerjaan, biasanya saya telah membuat target pekerjaan yang harus diselesaikan dalam satu minggu. Target tersebut yang kemudian dituangkan ke dalam jadwal harian. Namun jadwal tersebut fleksibel apabila  ada kerjaan yang sifatnya adhoc ataupun urgent.

Dalam hal rumah tangga, setiap akhir minggu saya juga membuat jadwal makanan untuk seminggu ke depan. Jadwal makanan tersebut terpisah antara kakak dan adik, tergantung jenis makanan yang lebih disukai anak-anak. Saya juga membuat jadwal kegiatan anak – anak, seperti jadwal permainan bagi si kecil untuk meningkatkan tumbuh kembangnya, jadwal belajar untuk kakak dan jadwal murajaah untuk keduanya.

Dalam hal bisnis, biasanya saya membuat rencana produksi dalam tiga bulan ke depan. Untuk jadwal pemasaran dan lainnya disusun seminggu sampai dua minggu berikutnya. Ini akan memudahkan pekerjaan bagian admin online shop dan agar proses pemasaran sinkron dengan jadwal produksi.

Untuk personal life, saya kerap membuat jadwal aktifitas lainnya seperti jadwal hapalan Quran, jadwal quality time bersama ananda, jadwal sosialisasi bersama teman dan kerabat dsb.

3.  Memanfaatkan waktu luang

Agar jadwal yang telah disusun dapat terlaksana secara maksimal, saya banyak memanfaatkan waktu luang untuk melakukan banyak hal.

Saat perjalanan pergi pulang kantor, saya biasa menargetkan untuk membaca Al Quran dan menghapal Quran. Saya juga menyempatkan waktu untuk menulis novel ataupun artikel. Selain itu saya juga sering menyisipkan melakukan kegiatan urgent lainnya terkait urusan administrasi rumah tangga, memeriksa pelajaran ananda, urusan bisnis dan masih banyak lagi.

Saat istirahat siang di kantor juga kerap dimanfaatkan untuk olahraga, menambah ilmu agama, persiapan sertifikasi, belajar bisnis, namun tetap kuselipkan waktu bersosialisasi dengan rekan sejawat.

4. Menghindari menunda kerjaan

Diakui terkadang saat rasa malas atau lelah datang, keinginan untuk menunda kegiatan atau tidak melaksanakan jadwal yang dibuat sangatlah besar. Namun  selalu berusaha keras untuk tidak menunda kerjaan karena tertundanya suatu kerjaan akan berefek pada keterlambatan pekerjaan lainnya. Dan secara keseluruhan dapat merusak target yang telah dibuat sebelumya.

5.Membiasakan membuat note atau catatan

Satu hal yang tidak kalah penting adalah memiliki aplikasi note di ponsel. Setiap kali ada ide terlintas baik untuk bahan tulisan, model baju, inspirasi pemasaran, ide kegiatan anak – anak, akan langsung ditulis dalam note di ponsel. Hal ini sangat membantu dalam pengembangan tulisan, penyusunan jadwal dan bahan diskusi dengan suami, teman ataupun tim.

6. Mengutamakan kegiatan prioritas/ bermanfaat

Saya selalu membiasakan untuk mengutamakan kegiatan yang sifatnya prioritas. Kegiatan mana yang sifatnya urgent atau kegiatan yang lebih mendatangkan pahala seperti hapalan Quran lebih menjadi prioritas untuk dikerjakan terlebih dahulu.

Saya juga berusaha untuk tidak melakukan kegiatan yang kurang bermanfaat seperti nonton korea Dan sinetron. Bagi saya tidak masalah kalau kegiatan dilakukan tersebut dilakukan sesekali untuk sekedar refreshing atau sebagai me time. Namun kalau rutin dilakukan akan menimbulkan ketergantungan dan menghabiskan banyak waktu yang seharusnya dapat dialokasikan untuk kegiatan  lain yang lebih produktif.

7. Menjadikannya sebagai kebiasaan

Alah Bisa Karena Biasa. 

Tentu kita sering mendengar pepatah tersebut. Apabila suatu pekerjaan telah terbiasa dilakukan, maka pekerjaan akan terasa mudah dan bahkan terasa Ada yang berbeda saat tidak dikerjakan lagi. Maka hal baik tersebut akan menjadi suatu kebiasaan baik.

Pada dasarnya saya termasuk orang yang tidak bisa diam. Oleh karena itulah saya ingin energi tersebut dialihkan untuk mengerjakan sesuatu yang bernilai produktif. Dan tentunya semua ini merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjadi orang yang lebih baik.

Yuk, kita sama – sama berusaha 😊

Indahnya berbagi🙏

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

 

Ibu bahagia, kunci kecerdasan ananda

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Pada edisi sebelumnya, aku telah membahas tentang keberadaan bunda sebagai center of emotion dalam keluarga Jangan lupa “me time” ya bunda 😊, Kali ini kita akan membahas bagaimana kaitannya emosi seorang bunda dengan kecerdasan anak.

When mama aint happy, aint nobody happy.

Pernah dengar ungkapan itu? Itu sebuah lagu lama. Inti lagunya cukup tepat menggambarkan bagaimana besarnya peran seorang bunda dalam keluarga. ketika seorang ibu tidak bahagia, baik secara sadar maupun tidak, akan menyalurkan energy negative (marah, benci, kesal). Keluarga akan tertular merasakan perasaan negative juga.  Sebaliknya bila seorang ibu bahagia maka akan menciptakan suasana yang menyenangkan. Kondisi harmonis bisa tercipta dan ternyata ujungnya dapat meningkatkan kecerdasan ananda. Kenapa bisa?

Sebelum pembahasan lebih lanjut, mari kita bahas dulu peran seorang ibu dalam rumah tangga :

1.Manager Urusan Rumah Tangga

Sebuah keluarga tentu membutuhkan seseorang yang dapat mengatur segala kebutuhan rumah tangga. Jika ayah memiliki peran sebagai pencari nafkah, ibu bertugas mengelola segala urusan rumah tangga termasuk keuangan keluarga. Seorang bunda mengatur segala kebutuhan keluarga, sandang dan pangan. Seorang ibu rumah tangga seyogyanya merupakan pengelola keuangan yang sangat handal, yang dapat memaksimalkan berapapun pendapatan yang diperoleh dari suaminya. Seorang working mom seyogyanya merupakan manager yang handal yang dapat mendelegasikan Dan mengatur support system dirumah sehingga Urusan administrasi dapat berjalan baik tanpa kehadiran langsung dirinya.

2. Koki

Bunda merupakan koki utama yang menyediakan makanan untuk keluarga. Bunda menyiapkan makanan utama, minuman dan cemilan. Percayalah meskipun masakan bunda tidak selezat koki professional tapi makanan seorang ibu akan selalu dirindukan oleh ananda.

 

3. Dokter sekaligus perawat

Pernah dengar ungkapan seorang ibu tidak boleh sakit? Jangan diartikan secara harfiah ya. Itu hanya menunjukkan betapa pentingnya peran seorang ibu. Bila ibunda sakit, roda kegiatan keluarga dapat tidak berjalan sebagaimana mestinya. Lantas bagaimana kalau anggota keluarga lain yang sakit? Disinilah biasanya kehadiran seorang ibu sangat dibutuhkan. Seorang ibu seyogyanya dapat mengetahui pertolongan pertama saat Ananda sakit. Tahu kapan saatnya ananda perlu dibawa ke rumah sakit atau cukup diobati dengan obat yang dijual bebas ataupun obat traditional. Seorang ibu akan sangat telaten merawat suami atau anak yang sakit. Meminumkan obat, mengompres, memandikan selayaknya perawat rumah sakit.

4. Pendidik bagi ananda

Ibunda merupakan madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sehebat  dan semahal apapun sekolah yang bunda pilih untuk anak, tetap saja seorang ibu tidak dapat berlepas tangan dalam mendidik anak-anaknya. Ibu memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak terkait pendidikan dasar agama, moral, intelektual, psikologis Dan sosial. Ibu akan mengajarkan mana perilaku baik dan perilaku buruk. Karakter dan perilaku ananda tergantung dari asuhan bunda.

5. Psikologi, motivator, fashion designer dsb.

Masih begitu banyak peran bunda yang lain. Bisa dibilang seluruh aspek kehidupan keluarga tidak lepas dari peran serta bunda didalamnya.

Terus apa kaitan antara tingkat emosional bunda dengan kecerdasan Ananda?

Seorang bunda yang kebutuhan emosionalnya terkendali akan menjalankan perannya dengan baik. Ia akan dapat mengelola urusan rumah tangga dengan baik sehingga seluruh kebutuhan keluarga tercukupi. Ibunda akan mencari cara untuk menyediakan makanan yang sehat dan menyenangkan anaknya.

Ibunda yang bahagia juga akan mencari metode yang tepat dalam mendidik anaknya. Ia akan mencari cara yang paling tepat untuk meningkatkan kecerdasan Ananda. Ia akan mengamati metode pembelajaran yang tepat untuk anaknya apakah secara visual, auditori ataupun kinestetik. Ia dapat mengobservasi jenis kecerdasan ananda dan menentukan langkah – langkah yang tepat untuk meningkatkan kecerdasan anaknya (Meningkatkan kecerdasan anak)

Pada akhirnya ibu yang bahagia akan menciptakan lingkungan yang menyenangkan untuk bermain, belajar dan bersosialisasi.

Selanjutnya yang jadi pertanyaan, bagaimana menjadi ibu yang bahagia? Hanya bunda yang bisa merumuskannya. Karena kebahagiaan datangnya dari hati kita bukan dari lingkungan sekitar. Yuk sama- sama belajar menjadi bunda yang bahagia 😊

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia’

Jangan lupa “me time” ya bunda 😊

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Beberapa waktu yang lalu aku membaca artikel tentang perbedaan antara otak laki – laki dan perempuan. Jadi otak laki – laki dan perempuan dibangun dengan struktur yang berbeda sehingga memiliki pola pikir logis, persepsi, analisis, emosi, suara serta ruang yang berbeda pula. Salah satu dari perbedaan kemampuan yang yang dimiliki oleh wanita dibandingkan pria adalah kemampuan multi tasking.

Hal inilah yang kemudian menyebabkan seorang wanita bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu. Saat ayah yang sedang konsen membaca tv tidak akan sadar dengan tangisan bayi nya yang menangis disampingnya, ssebaliknya seorang ibu dapat memasak, menyuapi, menonton tv dan berdiskusi dalam satu waktu.

Menurut penjelasan para pakar, hal tersebut disebabkan wanita cenderung akan selalu menghubungkan satu hal dengan yang lainnya, sementara laki-laki tidak.

Bila diibaratkan otak pria tersebut bagaikan ruangan arsip besar dengan kotak-kotak yang tersusun rapi. Pria cenderung berpikir secara sistematis dan membagi masalah kedalam kotak- kotak tersebut. Inilah yang menjelaskan mengapa pria tidak bisa mengerjakan dua hal sekaligus dalam satu waktu.

Berbeda dengan otak perempuan yang seperti ruangan server dengan kabel warna warni yang saling berhubungan. Jaringan tersebut akan aktif dalam satu waktu menghasilkan hasil yang luar biasa. Kabel – kabel tersebut terdiri dari kabel anak, kabel investasi, kabel tetangga, kabel suami, kabel pekerjaan dan lainnya yang saling berhubungan.

Penjabaran tersebut sangat tepat menjelaskan kenapa seorang ibu terlihat tidak bisa diam. Begitu banyak hal yang menjadi pikirannya. Suami, anak, masakan, tagihan, keuangan, kesehatan dan masih banyak lagi. Seorang working mom juga tidak berbeda, bahkan ia harus menambahkan kabel urusan pekerjaan kedalam otaknya.

Ibarat komputer, otak tidak bisa dipaksa bekerja terus. Otak perlu diistirahatkan sejenak untuk mengisi energinya kembali. Oleh karena itulah me time sangat diperlukan buat seorang ibu.

Apa sebenarnya me time tersebut? Me time bisa dikatakan sebagai kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan kejenuhan yang bisa menimbulkan perasaan bahagia.

Me time dibutuhkan bagi full time mom yang sehari – hari berhubungan dengan rutinitas rumah tangga. Setiap harinya seluruh waktu dan pikiran dicurahkan untuk keluarganya. Lama kelamaan ibu bisa stress dan depresi tanpa disadari.
Begitu pula halnya dengan working mom. Begitu banyak urusan yang dipikirkannya sejak dini hari hingga tengah malam. Mulai dari urusan suami, anak- anak, domestik rumah tangga, pekerjaan kantor yang tetap menuntut perhatian penuh kelamaan bisa membuat otak lelah dan jenuh.

Ibu merupakan center of emotion dalam rumah tangga. Ibu yang bahagia akan menularkan kebahagiaan bagi suami dan anak-anaknya. Sebaliknya ibu yang stress dan depresi akan menciptakan ketidakbahagiaan dalam keuarga. Hal inilah yang membuat seorang ibu harus pintar menyusun jadwal harian dalam hidupnya termasuk memasukkan me time kedalamnya.

Me time bagi seorang ibu bisa bermacam – macam. Ada seorang ibu yang menggunakan me timenya dengan kumpul bersama temannya. Ada yang pergi ke salon, menonton, travelling dan lainnya. Semua dikembalikan kepada individu masing- masing.

Kalau aku sendiri, buatku me time simple saja. Biasanya aku memilih kegiatan berdasarkan apa yang membuatku jenuh. Bila aku sedang jenuh dengan kehidupan rumah tangga, urusan- urusan domestik, tangisan dan teriakan anak- anak, maka aku membutuhkan tempat yang tenang untuk membaca. Kalau memungkinkan dengan menginap di hotel didaerah pegunungan dan menghabiskan waktu dengan membaca fiksi. Kalau tidak memungkinkan ya cukup membaca di kamar ber ac yang tenang tanpa gangguan selama sekitar stengah hari sampai dengan sehari.

Berbeda halnya bila kejenuhan timbul akibat pekerjaan dikantor yang relatif menggunakan otak kiri, maka aku akan mencari aktivitas otak kanan sebagai me time. Misalnya menyibukkan diri dengan online shopku. Bisa dibilang bisnis fashion yang kugeluti saat ini merupakan penyaluran dari keruwetan otak kiri. Kegiatan menentukan model, warna, dan aksesories lainnya sudah merupakan me time buatku.

Paling sering sih aku memilih aktifitas menulis sebagai me time. Apalagi  saat jadwal sedang padat-padatnya.  Bagiku, menulis  puisi atau fiksi sudah cukup mengurai benang ruwet di otak. Dan kegiatan tersebut bahkan bisa dilakukan di MRT sepulang kerja😁

Akhir kata, terlepas dari apapun kegiatan me time yang bunda pilih, percayalah bahwa me time penting untuk menjaga kewarasan kita. Jadi bila bunda kesulitan mencari waktu me time disebabkan padatnya jadwal harian, cobalah diskusikan dengan suami. Carilah me time yang menyenangkan bagimu dan sesuai dengan kondisi keluargamu.

Btw, karena ga ada foto lain, aku pajang foto me time ala- membaca 😁 Itung itung, sekalian promosi buku sendiri 😍

IMG_20191224_205638

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia

Marzia

Prolog

Dia memiliki segalanya. Orang tua yang penyayang. Harta yang bergelimang. Kekasih yang baik hati yang mampan dan tampan. Sahabat sekaligus teman masa kecil yang loyal.

Tapi itu dulu. Saat ini apa yang ia punya? Yang ia miliki hanyalah kenyataan bahwa ia telah kehilangan. Walau satu hal yang pasti, ia tidak kehilangan kekayaan. Karena harta yang ia miliki setidaknya tidak akan habis bila ia hanya duduk bermuram durja. Dan tidak akan habis juga bila ia gunakan untuk mengejar mimpinya yang sedikit tertunda. Tidak ada kata terlambat walau kini ia akan pergi dengan hati terluka. Hati yang tidak akan pernah utuh lagi sebagaimana semula.

Bab 1 Pertemuan Pertama

Zia mengernyit saat merasakan cairan kental berwarna hitam pekat itu mengaliri tenggorokan. Ia meletakkan gelas minuman yang baru berkurang sedikit sekali.

Gadis cantik itu mendengus. Ternyata kopi yang digembar gemborkan nikmat tersebut tidak lebih enak dari kopi instant yang dijual dipasaran, hanya menjual kemasan keren dan iklan yang bombastis semata.

Zia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menekan tombol speed dial 1.

“Saya tunggu di lobby ya.” Gadis tersebut lalu meletakkan selembar lima puluh ribu di atas meja sebagai tip. Ia kemudian berdiri, menatap pantulan dirinya dari kaca besar yang melapisi tembok diseberangnya. Senyum puas tergambar diwajahnya sebelum ia melangkah meninggalkan cafe dengan dekorasi modern tersebut.

Matahari bersinar sangat terik di langit jakarta siang. Kawasan sudirman yang seakan tidak pernah absen dengan kemacetan. Di kiri dan kanan jalan terlihat …. galian jalan makin menambah kesemrawutan.

Marzia mengalihkan pandangan dari laptop dihadapannya. Namun alih- alih menghilangkan kepenatan, ia malah semakin stress melihat betapa semrawutnya jalanan.

6 tahun telah berlalu. Jakarta tidak berubah. Panasnya, semrawutnya, bisingnya, kesibukannya dan kejamnya. Seulas senyum miris tersungging di bibir gadis itu. Ia menggeleng pelan. Bukan Jakarta yang kejam. Tapi manusia yang tinggal di dalamnya. Dan bodohnya ia begitu mencintai orang- orang kejam itu.

Zia menarik nafas panjang. Memalingkan wajah kembali ke laptop saat dering pesan masuk berbunyi di ponselnya. Dahinya mengernyit saat membaca pesan tersebut lalu kemudian menyebutkan sederetan kata yang merupakan alamat tersebut kepada Pak hari, sopirnya.

—///

Mobil melambat saat memasuki sebuah cafe kecil di bilangan kota depok. Zia keluar dari mobil dan merenggangkanntubuhnya. Lumayan juga waktu yang ditempuh. Hampir dua jam menembus kemacetan kota jakarta dan sekitarnya.

Mata gadis itu memindai mencari sosok yang telah mengiriminkan pesan untuk datang kemari. Dan sosok itu ia temukan sedang sibuk menatap ponsel. Sebatang rokok terselip di jarinya.

Zia berjalan gegas, mengambil rokok dan menekan rokok di asbak hingga mati. Hanya dalam hitungan detik bahkan sebelum sosok itu menyadarinya.

Makian langsung keluar dari bibir mungilnya.
“Astaqfirullah Joanna, mulutnya di rem sedikit kenapa? Sekali-kali mulut lo itu perlu dicuci pake cuka biar bersih.”

“Sialan. Lo pikir mulut gw besi berkarat apa!” Gadis itu kemudian berdiri, memeluk Zia singkat sambil tetap mengoceh.

Joanna Ariesta. Gadis imut dengan potongan rambut pendek itu hari ini mengenakan kaos selebor dengan celana pendek.

Mata Ziamelotot saat menyadari betapa pendeknya celana yang dikenakan teman sekaligus asisten kepercayaannya itu.
“Ya ampun Jo, baju rumah kok lo pake kesini? Paha lo kemana-mana itu. Wajar tadi banyak cowok yang ngeliat kearah sini.

Joanna terkekeh
“Marzia Hilya, apa perlu gw perjelas kalau mata cowok-cowok itu mulai melotot sejak elo masuk keruangan ini? “
Joanna berdecak. Ia tidak pernah tidak merasa kagum pada penampilan gadis didepannya ini.

Teman kesayangannya itu hari ini mengenakan gamis berwarna tosca. Selembar hijab berwarna serupa meliingkari wajah tirusnya. Sederhana namun berkelas. Sangat pantas dikenakan desainer berbakat sepertinya.

Marzia hanya tersenyum sambil duduk di kursi didepan Joanna.
“Jadi, apa hal istimewa disini yang membuatku harus kehilangan dua jam berhargaku hanya untuk menempuh perjalanan kesini?”

“Kayanya mendingan lo pesan dulu deh baru kita ngobrol.” Jo melambaikan tangan memanggil waitress yang berada tidak jauh dari mereka.

“Lo mau makan apa?”

Marzia menggeleng “Kopi saja.”

Jo lalu menyebutkan sebuah nama sambil menunjuk gelas didepannya.

“So?” tanya Zia setelah pelayan tersebut pergi.

“Sebentar. Gw ke kamar mandi dulu.” Jo bangun dan bergegas menuju kamar mandi.

Zia mengedarkan pandang. Cafe ini menarik. Interiornya didominasi warna bata dengan tanaman di beberapa sudut ruangan. Gambar dan hiasan mobil klasik memjadi hiasan utama. Kafe kecil yang nyaman.

“Silakan Bu, selamat menikmati.” Ujar pelayan yang mengantarkan makanan. Secangkir kopi dan sepotong round scones. Dari tampilannya cukup menarik.

Dengan antusias Zia menghirup aroma dan kemudian menyesap minuman kesayangannya tersebut. Sedetik kemudian ia tertegun. Ia kembali meneguk isinya. Gadis itu tersenyum.

Tangannya terulur mengambil round scones dan menggigitnya. segigit demi segigit hingga habis.

“Gimana, enak kan?” Tanya Joana sambil duduk.

Zia mengangguk antusias.
“Keren lo, Jo. Bisa aja nemu kopi seenak ini di tempat antah berantah begini.”

“Hus, bisa abis lo sama netizen disini kalau dengar becandaan lo begitu.

Zia mengibaskan tangan
“So, dimana pemilik tempat ini? Gw mau ajakin kerjasama. Kalau perlu, seluruh tim kita angkut ke …

“Calm down, Jo. Lo harus berstrategi kalau ngadepin ownernya. Kalau ngeliat lo kaya gini, salah-salah dia bisa jual mahal.”

“Kenapa emgnya? Lo kenal ownernya?”

“Ya, he’s freaky hot Don Juan.”

Marzia mengernyit bingung

“Baru diomongin keluar orangnya. Tuh si doi.”
Jo menunjuk seorang pria yang sedang melangkah cepat keluar ruangan.

“Hei tunggu.” Spontan Marzia mengejar pria itu, tanpa sempat Joanna cegah.

Pria itu berbalik menghadap Marzia. Pria berambut coklat itu menatap dengan netra abu nya.

Dan seketika Marzia kehilangan kata.

Hai Hai… akyu bikin cerita baru lagi. Tapi…buat yang penasaran sama ceritanya, novel ini ga bakal bisa ditemui di Wattpad. Jadi, aku sednag nyobain platform nulis baru buatan anak negeri, Ketix namanya.

So, buat yang penasaran sama lanjutan cerita Marzia, boleh dibaca di Ketix yaaa

See you☺️

 

 

 

 

Precious

Prolog

“Jadi apa rencanamu setelah lulus sarjana?” Papa menarik kursi di sebelahku dan duduk. Beliau mengambil remote tv yang tergeletak di atas meja dan menurunkan volume televisi yang sedari tadi setia mendampingiku menyelesaikan skripsi.

Aku menghentikan ketikanku, lalu ganti memperhatikan Papa. “Masih yang lama, Pa. Aku ingin melanjutkan pendidikan profesi,” jawabku mantap.

“Kamu tetap tidak berubah pikiran? Kan lebih baik mengambil S-2 Manajemen kemudian melamar menjadi bankir, mengikuti jejak Papa. Dengan kemampuanmu, Papa yakin kamu tidak akan mengalami kesulitan untuk bisa seperti Papa dulu.”

Papa masih saja berusaha merayuku. Dan dengan tekad sekuat baja serta impian setinggi awan khas anak kuliah yang sebentar lagi lulus, aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak, Pa. Bankir isn’t my passion. Aku ingin berkarier jadi auditor. Dan pada saatnya nanti aku bisa mendirikan kantor akuntan publik sendiri,” tandasku mantap.

“Kamu siap hidup mandiri di luar kota? Ngekos di tempat yang tidak senyaman rumahmu ini? Jakarta biaya hidupnya tinggi dan Papa sudah pensiun, Nak. Kita tidak punya  banyak dana untuk membuatmu hidup sejahtera di ibu kota.”

Aku tersenyum. Kupegang tangan Papa. “Papa nggak usah kuatir. Aku akan berhemat dan berusaha keras untuk membuktikan aku mampu. Hasil penjualan mobil hanya delapan puluh persen digunakan untuk biaya kuliah dan sisanya akan kutabung untuk keperluan mendesak. Percayalah padaku, Pa!”

Papa memandang dengan tatapan khawatir namun aku membalasnya dengan tatapan penuh percaya diri. Mata pria yang menjadi cinta pertamaku tersebut akhirnya menyipit membentuk garis lurus, bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Papa percaya dan akan selalu berdoa untukmu.” Papa berdiri dan menepuk bahuku sebelum meninggalkanku.

Aku memandangi punggung Papa yang semakin menjauh dengan senyuman lebar.
Yeayyyy, akhirnya anak bungsu yang disebut paling manja di rumah akan membuktikan kemandiriannya.

Jakartaaaaa… I’m coming!!!!

My Lovely Boss

Hidup ini bukanlah sekadar tuntutan pekerjaan.
Ada banyak warna-warni indah lain di dalamnya.

“Kamu pikir ini kantor nenek moyangmu? Bikin kertas kerja kok nggak beres begini!” suara Desi, manajerku, melengking tinggi diikuti suara benda berat dilemparkan ke dekat kakiku.

Aku menelan ludah. Hari sudah pukul tiga dini hari. Mata yang semula hampir terpejam langsung segar kembali. Sebenarnya tanpa perlu berteriak pun suara manajerku adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan yang luas ini. Karena memang hanya kami yang tersisa di kantor dini hari ini.

“Lekas perbaiki! Pokoknya sebelum pulang sudah harus ada di mejaku!” perintahnya sambil menyeret tubuh gempalnya pergi.

Aku menunduk mengambil ordner berisi kertas kerja pemeriksaanku. Beberapa halaman terlepas dari cincinnya karena tergesek lantai.

Kuhela napas panjang. Ini malam Minggu. Bahkan sudah masuk Minggu dini hari. Di saat anak muda normal sedang malam Minggu-an, menghabiskan waktu dengan pacar, aku malah terjebak di sini bersama bosku tercinta. Manajer yang dijuluki setan oleh orang-orang yang pernah bekerja di bawahnya. Kesalahan sedikit saja bisa membuatnya mengamuk seperti setan. Contohnya aku. Hanya karena salah memasukkan kode aset pada kertas kerja pemeriksaan, dia sudah marah kesetanan seperti ini.

Aku mengambil ponsel dari atas meja dan membuka aplikasi Whattsap dan mengirimkan pesan ke grup cewek-cewek sableng. Semoga saja sudah ada yang terbangun.

Me : Guys, maaf aku nggak bisa ikutan lagi. Aku masih di kantor dan masih harus memperbaiki revisi si setan.

Ginny : Astaqfirullah, lo masih di kantor? Gue pikir lo udah ngorok di kamar.

Sesuai sudah kuduga, Ginny segera membalas chat-ku. Satu-satunya teman sekantor sekaligus satu kos denganku ini memang terbiasa bangun sangat pagi.

Me : Lo kayak nggak tahu bos gue aja. Mana mungkin gue bisa pulang kalo kerjaan belum kelar.

Ginny : Ya gimana mau kelar? Lo kan megang klien banyak banget. Kabur aja!

Dinda : Astaganaga Arieska!!!!! Jangan bilang lo mau ngebatalin janji lagi untuk jalan sama kita-kita? Ini udah keenam kalinya dalam dua bulan ini. It means kita udah nggak  ketemuan 1,5 bulan!”

Ginny : Jangankan lo yang nggak serumah sama dia, Gin. Gue yang kamarnya cuma tinggal ngesot saja sudah seminggu nggak ketemu!

Dinda : Gimana lo mau punya cowok kalau begini terus, Ka?”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Miris banget rasanya. Aku, Arieska Zevanna, tahun ini berumur 24 tahun. Sudah tiga tahun satu bulan aku menjomlo, tepatnya semenjak menetap di ibu kota Jakarta. Alasannya? Tahun pertama sibuk kuliah dan tahun berikutnya terlalu sibuk bekerja. Klise banget! But its true!

Sekarang begini, bagaimana caranya aku bisa menjalin hubungan dengan seorang pria bila sebagian besar waktuku dihabiskan untuk bekerja. Hampir tujuh kali 24 jam aku bekerja? Lebay? Nope!!

Teman segengku semenjak kuliah di Jakarta yang berlanjut hingga sekarang ada tiga  orang. Dinda, Ginny, dan Laksmi. Kami bertemu saat aku meneruskan kuliah di Jakarta,  kemudian kami melamar di beberapa tempat kerja. Dinda yang memang orang Jakarta dan tinggal di Rawamangun diterima bekerja di Multinational Company, sebuah perusahaan kosmetik. Laksmi yang datang dari Solo diterima sebagai PNS di daerah Kuningan dan indekos di daerah sana. Sedangkan aku dan Ginny yang orangtuanya tinggal di Bandung menjadi auditor di salah satu big four Kantor Akuntan Publik terbesar di dunia dan memilih indekos di dekat kantor.

Omong-omong soal hubungan asmara, awalnya kami berempat senasib. Maka jadilah geng kami dinamakan Jomlo Ceria. Namun tidak lama kemudian, Laksmi jadian dan disusul Dinda, sehingga nama gengnya berubah jadi Single Ceria.

Jomlo yang tersisa hanya aku dan Ginny. Namun nasib Ginny masih lebih baik ketimbang aku. Manajernya nggak hobi ngajak lembur. Jadi saat ini walaupun masih jomlo, ia bisa dekat dengan seorang pria. Hubungan tanpa status sih ceritanya. Ya mungkin hanya menunggu waktu agar hubungannya diresmikan.

Sedangkan aku? Sebenarnya hubungan percintaanku tidak semenyedihkan itu. Ada beberapa pria yang melakukan pendekatan padaku. Namun hubungannya tidak maju-maju, hanya sebatas telepon dan chatting. Ya gimana mau maju, nge-date saja aku nggak punya waktu!

Kuabaikan grup Whattsapp yang mulai ramai dengan bergabungnya Laksmi. Kalau aku hanya chatting-an, kapan aku bisa memperbaiki review-an bosku yang supergalak itu?

Aku mulai mencetak beberapa kertas kerja yang sudah selesai diperbaiki. Saat berjalan menuju mesin pencetak, aku melihat manajerku sedang berdiskusi dengan partner. Sepertinya perlu kujelaskan sedikit tentang jenjang karier di kantorku. Dimulai dari level terendah, yaitu kacung seperti aku atau yang disebut auditor. Lalu selanjutnya senior auditor, asisten manajer, manajer, dan partner. Sistemnya per proyek. Sehingga untuk setiap proyek, kesempatan berganti bos sangat besar. Namun malangnya, aku belum pernah mendapat kesempatan lepas dari duet maut partner dan manajerku ini. Mereka belum menikah dan hobi banget lembur. Jadi jangan heran kalau setiap hari mereka biasa bekerja hingga dini hari. Dan tentunya aku sebagai kacung harus ikut lembur bersama mereka.

Dari raut wajah dan gesture tubuh mereka sepertinya diskusinya cukup seru. Kulirik jam di pergelangan tangan. Aku heran. Sekarang sudah jam lima pagi dan mereka masih sangat antusias, tidak terlihat mengantuk sama sekali.

Kuletakkan dokumen yang telah dicetak di atas meja. Lebih baik aku solat subuh dulu sebelum melanjutkan pekerjaan. Toh aku hanya tinggal membolongi kertas, memasukkannya ke dalam ordner dan menandatangani kolom prepared.

Selesai solat, kusempatkan melihat ponsel yang kutinggal di meja. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mbak Desi. Mungkin tadi dia mencari ke kubikelku namun aku tidak ada karena sedang solat. Nanti saja kutemui sambil memberikan file kertas kerja yang telah diperbaiki.

Jam tepat menunjukkan pukul 06.00 pagi saat tugasku akhirnya selesai. Bergegas kubereskan laptop sebelum membawa dokumen ke meja kerja Mbak Desi. Bibirku komat-kamit berdoa semoga ibu satu itu tidak ada di ruangannya sehingga aku bisa segera pulang.

Dan alhamdulillah kali ini doaku terkabul. Ruangan Mbak Desi kosong. Bergegas aku meletakkan dokumen dan segera keluar. Kusambar tas dan setengah berlari menuju lift. Pintu lift terbuka bersamaan dengan teriakan yang memanggil namaku. Suara Mbak Desi.

Aku langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol Ground.

Me : Girls, gue berhasil kabur. Tapi jam ketemuannya diundur yaaa… gue ngantuk!

Laksmi : Alhamdulillah, iya tidur dulu aja, Ries. Sampai ketemu nanti yaaa.

Dinda : Nek, jangan lama-lama ya tidurnya. Jam sebelas ketemu di Foodcourt PS ya!

Ginny : Tenang, nanti gue gedor-gedor pintunya biar bangun.

Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar, menuju tempat antrean taksi resmi di gedung ini. Namun belum sempat aku naik ke taksi, seseorang menepuk bahuku. Mbak Desi.

“Hei, kamu sudah di bawah toh? Tadi aku panggil-panggil tapi kamu nggak ada. Kupikir kamu sudah lama pulang. Oke, selamat istirahat ya. Sampai berjumpa besok.” Ia melangkah pergi. Namun sesaat kemudian ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya menghadapku.

“Oh ya, kertas kerjamu harus direvisi kembali. Ada perubahan kesimpulan. Senin pagi langsung ke tempat saya ya.” Ia melenggang pergi, meninggalkanku yang mendadak mual saat mendengar kata-katanya. Kukepalkan tanganku. Stres!

Please, somebody help me!!!

Penasaran? Boleh intip lanjutannya di wattpad @Riliaputri

Karena Takdir Akan Menemukan Jalannya

“If you want to walk fast, walk alone. But if you want to walk far, walk together”
Hal itulah yang memotivasi kami, alumni SP16 untuk menerbitkan novel bersama.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kami membukukan karya kami dalam antologi “Karena takdir akan menemukan jalannya”. Dalam buku tersebut kami menuturkan berbagai kisah tentang keindahan cinta. Kami menguraikan beberapa cerita tentang takdir cinta manusia.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
“Cinta tidak akan berubah rasanya meskipun hanya disimpan. Tidak berkurang nilainya.
Yang membedakan adalah kisahmu. Apakah engkau dapat bertahan memendam rasa ataukah engkau memilih untuk berjuang walau belum tahu akhirnya.
Pilihanmu akan menentukan kisah cintamu.”

Quotes tersebut terdapat dalam salah satu kisah yang ada didalam buku antologi tersebut.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Penasaran? Yuk order di 081210018025
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
See ya 😍
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
IMG-20181130-WA0004