Sinopsis :
Rafli Gilang Aditya tergila -gila dengan Annalicia Raesha. Begitu pula sebaliknya. Tidak perlu waktu lama bagi mereka saat memutuskan untuk membangun mahligai perkawinan.
Kehidupan pernikahan mereka terasa sangat sempurna. Pasangan yang sangat mencintai, anak yang manis, karir yang baik. Semuanya terasa begitu sempurna. Namun mereka lupa satu hal. Untuk selalu merawat cinta mereka.
Hingga akhirnya badai menghampiri mereka. Membuat mereka berpikir bahwa perpisahan adalah yang terbaik untuk keluarga mereka, untuk masa depan putra mereka. Daripada mereka tidak bahagia dan buah hati mereka tersiksa melihat pertengkaran yang selalu menghantui kehidupan mereka.
Namun benarkah perpisahan jalan terbaik untuk mereka?
Prolog
Cinta bukanlah hanya saat engkau terjatuh begitu dalam
Namun saat engkau berjuang membangun bersamanya
Dari masa ke masa
“Ceraikan aku, Raf !” Teriak Anna melengking. Ia menangis histeris sambil berlari ke dalam kamar.
Rafli duduk di sofa ruang tengah sambil menunduk. Wajahnya kalut. Jemari tangannya saling bertaut. Sesekali tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Sebelum akhirnya ia menarik rambutnya frustasi.
Rumahnya seperti neraka. Tangis istrinya berpadu dengan lengkingan tangis Reza, anaknya. Belum ditambah suara baby sitternya yang mencoba menenangkan Reza yang terus menangis ketakutan.
Dia tahu pertengkaran kali ini cukup keterlaluan. Mereka saling berteriak, memaki, menggebrak meja dan bahkan melempar barang. Mereka lupa kalau ada manusia kecil yang jiwanya suci dan berhati lembut, anak mereka yang ikut menonton kegaduhan ini. Mereka sungguh lupa.
Rafli melangkah gontai menuju kamar anaknya. Dibukanya kamar Reza. Pemandangan didalamnya sangat menyedihkan. Anaknya sudah lebih tenang. Namun ia menangis sambil duduk meringkuk didekat jendela, tidak ingin ditemani oleh baby sitternya.
Rafli memeluk anaknya dari belakang. Tubuh kecil itu sedikit menegang, namun masih belum mau membalikkan tubuhnya. Tangannya mencengkeram gorden dengan kuat.
“Maafkan Ayah, sayang … Maaf …Reza takut ya?” Rafli mencium bagian belakang kepala anaknya sambil berbisik. Berulang kali ia mengucapkan permintaan maaf kepada anaknya.
Pelan genggaman tangan Reza mulai terurai. Rafli membopong tubuh kecil itu sambil mencium tubuhnya. Reza menangis kencang saat tubuhnya digendong Rafli. Tangan kecilnya memeluk tubuh Reza. Putra kecilnya terus menangis sampai akhirnya tubuhnya lunglai. Ia tertidur kecapaian. Sesekali sedu sedannya masih keluar dari bibirnya.
Rafli meletakkan Reza diatas tempat tidur. Ia memandangi putra kecilnya dengan hati gundah. Ia tak pernah menyangka prahara akan menerpa keluarganya seperti ini. Keluarga mereka sangat bahagia. Sebelumnya.
Benar kata orang. Jatuh cinta itu mudah namun lebih sulit membangun cinta. Dan mereka melupakan itu. Sangat lupa. Hingga akhirnya mereka terbentur pada berbagai kesalahpahaman yang membuat mereka saling menyakiti. Dan saling terluka.
Rafli berjalan perlahan menuju kamarnya. Membuka pintunya untuk kemudian mendapati wanita yang dahulu ia janjikan untuk hidup bahagia, menangis terisak. Duduk diapit berbagai pakaian yang berjejer di samping koper, menunggu untuk dimasukkan.
Ia mengulurkan tangan dengan ragu, menyentuh bahu istrinya.
“Maaf … ” bisiknya pelan
Anna menghindari tangan Rafli dan bergeser menjauh. Wanita itu meneruskan kesibukannya memasukkan barang-barang kedalam koper.
“Kamu mau kemana?”
“Terserah aku. Yang pasti tidak disini,” Tukasnya
“Ohya, Reza aku bawa.” Anna berjalan mengangkat koper menuju pintu, membukanya dan membantingnya dengan keras.
“Na, jangan memutuskan dalam keadaan emosi.” Rafli mengejar dan menarik tangan Anna.
Anna mengibaskan tangan Rafli dan berjalan menuju kamar Reza.
“Na, jangan bawa Reza. Kasian dia.”
“Jauh lebih kasian bila aku meninggalkannya dengan ayahnya yang tukang selingkuh. Reza masih dibawah umur dan seorang ibu punya hak untuk merawatnya bila kita nanti bercerai.” Tandasnya
Rafli tergugu. Kepalanya pusing. Ia mencari sofa dan duduk sambil memejamkan mata. Tangannya bergerak memijit keningnya. Sekelebat bayangan muncul dibenaknya. Ia menghembuskan nafas panjang. Seandainya saja ia dapat mengulang waktu …
Seandainya ….
Penasaran?
Yuk baca lebih lengkap di wattpad username @Riliaputri
