
Tulisan kali ini saya buat terinspirasi dari cerita teman- teman yang baru kembali bekerja setelah cuti melahirkan selama tiga bulan lamanya. Masa selepas melahirkan sampai dengan dua bulan pertama setelah ananda lahir diwarnai oleh berbagai cerita terkait proses melahirkan, Asi yang belum keluar, pengasuh yang sulit didapat dan masih banyak lagu. Namun setelah cukup lama saling tukar cerita, saya baru menyadari kalau ternyata banyak ibu muda tidak memiliki cukup pengetahuan tentang masalah psikologis yang kerapkali dialami oleh ibunda yang baru melahirkan. Banyak bunda yang merasakan dampaknya namun tidak tahu apakah yang sedang terjadi dengannya dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam dunia kesehatan, masalah psikologis yang terjadi pasca melahirkan dikenal dengan Baby Blues dan Post Partum Depression.
Apakah itu ??
Baby blues sydrom merupakan masalah gangguan emosional pada ibu yang baru melahirkan. Kondisi tersebut biasanya hanya terjadi sesaat atau sekitar 3-6 hari. Paling lama, baby blues bisa berlangsung selama dua minggu. Ini adalah bentuk depresi pasca-kelahiran yang paling ringan.
Saya sendiri pernah mengalami baby blues pada kehamilan anak pertama. Pada saat itu, Kiya (anak saya-red) yang baru berusia lima hari tertular batuk pilek yang saya derita. Saat itu saya merasa sangat bersalah. Dan sebagai akibatnya saya sampai menangis di bawah meja sambil terus menyalahkan diri. Untunglah keluarga sigap mengambil peran untuk menghentikan perasaan tidak karuan yang saya alami. Suami dengan segala usaha berusaha menyenangkan hati saya, Mama menceritakan pengalamannya dulu yang membuat saya tidak merasa sebagai ibu terburuk di dunia dan anggota keluarga lain terus menunjukkan perhtian dan dukungannya. Dan alhamdulillah syndrom yang saya alami hanya berlangsung satu hari.
Lalu bagaimana dengan Postpartum Depression (PPD) ? Pada dasarnya gejala keduanya mirip, yang membedakan adalah dampak dan waktunya. Baby Blues syndrom gejalanya lebih ringan dan lebih singkat dibandingkan PPD. Gejala Baby Blues juga tidak sampai membuat ibu kehilangan kemampuan untuk mengasuh anaknya atau melakukan kegiatan sehari-hari.
Sebaliknya, Postpartum Depression (PPD) memiliki gejala yang lebih serius. Biasanya terjadi lebih dari dua minggu setelah melahirkan. Ibunda yang mengidap PPD biasanya merasa kehilangan nafsu makan atau justru makan berlebihan. Ibu bisa juga mengalami kesulitan tidur atau justru tidur berlebihan. Ibu dengan PPD juga akan merasa kehilangan harapan, putus asa dan kurang gairah hidup. Ibu akan merasakan rasa malu, bersalah yang berlebihan dan kurang kepercayaan diri untuk mengasuh anak. Bahkan terkadang dampak PPD bisa sangat berbahaya, yaitu ibu bisa menyakiti anaknya sendiri.
Salah satu teman sejawat saya ada yang mengidap PPD. Ia memperoleh buah hati melalui serangkaian proses yang cukup melelahkan. Mulai dari berbagai usaha yang dilakukan dalam program kehamilan hingga masa kehamilan yang cukup berat sehingga membuatnya harus bed rest berbulan- bulan lamanya. Alhamdulillah buah hatinya lahir dalam keadaan sehat ke dunia. Namun ternyata kemudian ia merasakan kelelahan yang luar biasa, bukan hanya secara fisik namun lebih ke mental. Ia sampai pada titik tidak ingin memberikan ASI kepada bayinya. Ia juga merasakan perasaan tidak disayang terutama bila suaminya sedikit larut dalam pekerjaannya. Perasaan tersebut dirasakan selama dua bulan dan bahkan terkadang muncul kembali. Untunglah suaminya cukup aware dengan kondisinya sehingga kondisinya tidak berlarut-larut.
Kondisi PPD bila dibiarkan berlarut- larut dapat menimbulkan akibat yang cukup berbahaya. Beberapa kasus dimana ibu menyakiti bayinya ternyata merupakan dampak dari PPD yang tidak segera diatasi oleh suami dan orang terdekatnya. Tidak sedikit suami dan keluarga yang menyepelekan masalah ini dan beranggapan permasalahan psikologis yang menimpa ibunda akan selesai seiring anak bertambah usia
Jadi apakah yang harus dilakukan?
Pesan untuk suami, hendaknya cukup sensitif dengan kondisi yang dialami oleh istrinya. Seorang ibunda yang sedang mengalami fase baru dalam hidupnya tentu akan merasakan berbagai hal, termasuk diantaranya ketakutan, kelelahan dan perasaan negatif lainnya. Berikan telinga untuk mendengar keluhannya, berikanlah pelukan untuk menenangkan keresahannya, berikan bahu sebagai tempatnya bersandar, berikanlah dukungan dan bantuan baik secara fisik maupun moril.
Amati keadaannya. Minta bantuan anggota keluarga yang lain atau lingkungan sekitarnya. Namun bila kondisi terus berlanjut dan semakin buruk, maka lebih baik melibatkan pihak lain, misalnya dokter.
Salam,
Rilia

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge writing indiscript creative Perempuan Menulis Bahagia