Belakangan ini, bahasan mengenai coworking space menjadi topik yang cukup hangat di komunitas saya. Dan tiba- tiba ingatan saya terlempar pada masa bertahun lalu, tepatnya sekitar 12 tahun yang lalu saat saya masih bekerja sebagai auditor di salah satu big four accounting firm di dunia. Saat itu perusahaan tempat saya bekerja telah menerapkan coworking space. Konsep tersebut memang biasanya diterapkan oleh kantor yang memiliki karyawan sangat mobile, seperti kantor akuntan publik dan konsultan. Hal tersebut dilakukan mengingat para profesional ini lebih sering berada di luar (kantor kliennya) sehingga ruang kerjanya dikantor sendiri tidak banyak digunakan.
Di kantor yang mempekerjakannya, para profesional tersebut tidak memiliki meja kerja sendiri. Mereka bebas untuk memilih meja yang masih available dengan cara memesannya selama beberapa waktu. Setelah di booked, meja dan saluran telephone tersebut akan tercatat sebagai sebagai miliknya yang dapat ditelusuri melalui sistem komputer.
Saat ini, dunia pekerjaan yang semakin dinamis mendorong banyak perusahaan yang mulai menerapkan coworking space. Dalam bahasa indonesia, coworking space dapat diartikan sebagai ruang kerja bersama. Menurut wikipedia, coworking space berarti tempat untuk orang- orang dari organisasi berbeda berbagi ruang untuk bekerja. Biasanya, bentuknya adalah suatu ruangan terbuka yang cukup luas untuk menampung sekian banyak orang.
Coworking space pertama kali dikenal oleh publik saat ada kemunculan organisasi nirlaba yang bernama C-Base di tahun 1995. Istilah coworking space sendiri dicetuskan oleh Bernard Brian Dekoven pada tahun 1999. Namun tempat kerja yang benar-benar memakai nama coworking space baru muncul di San Fransisco pada tanggal 9 Agustus 2005.
Konsep coworking space ini sangat ideal diterapkan untuk cost efficiency. Sehingga tidak diperlukan ruangan kantor yang besar untuk menampung karyawan yang cukup banyak. Penggunaan konsep seperti ini juga dapat mendorong kolaborasi antar bagian yang lebih baik, dimana karyawan memiliki fleksibilitas untuk memilih tempatnya bekerja.
Namun ibarat mata uang, selalu ada dua sisi dalam setiap hal. Dibalik kelebihannya, coworking space ini juga memiliki sisi negatif. Riset yang dilakukan oleh Virginia State University dan North Carolina State University di Amerika Serikat mengungkap bahwa persentase pegawai yang bekerja di ruang kantor tanpa sekat memiliki tingkat kemungkinan mengambil cuti sakit sebesar 62% dibanding yang bekerja di ruang bersekat. Menurut penelitian yang dipublikasikan di Scandinavian Journal of Work, Environment, and Health, , kuman penyakit lebih mudah menyebar di area kerja terbuka, memudahkan semua orang berinteraksi secara langsung.
Bukan hanya tingkat penyakit yang meningkat, ruang kantor tanpa sekat juga bisa mempengaruhi hal lain, yakni produktivitas. Ruang kerja tanpa sekat dan padat orang sangat rentan memunculkan stres. Berkurangnya ruang privasi akan memicu stress. Kondisi stres sudah pasti akan meningkatkan risiko seseorang terjangkit penyakit karena imunitas tubuh yang menurun.
Berdasarkan penelitian juga, para pegawai yang bekerja di ruang tanpa sekat cenderung kurang termotivasi, merasa tak puas dengan pekerjaan, serta merasa kurang privasi. Diperkirakan, masalah-masalah semacam ini muncul karena pegawai merasa terganggu oleh orang lain di sekitarnya.
Jadi pada perusahaan yang seperti apakah konsep coworking space ini cocok diterapkan? Pada akhirnya hal tersebut dikembalikan kepada kebijakan perusahaan masing- masing. Bila cost effeciency merupakan prioritas utama, maka pemilihan coworking space merupakan hal yang tepat.
Namun bila masih memungkinkan pilihan lain, saya pribadi termasuk yang kurang mendukung coworking space. Karena saya meyakini bahwa setiap orang membutuhkan ruang privasinya. Menurut saya, kantor itu ibarat rumah kedua. Minimal delapan jam dihabiskan oleh karyawan di kantor. Tentunya hal itu membuat kita harus menata tempat yang nyaman dalam bekerja yang akhirnya berujung pada peningkatan produktifitas.
Lalu bagaimana dengan profesional yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk bekerja di kantor klien? Saya selalu mengibaratkan saat pemeriksaan di kantor klien sebagai sebuah perjalanan. Setiap petualang membutuhkan rumah untuk pulang. Maka ketika kantor tidak lagi menyisakan ruang privasi berarti akan menghilangkan rumah untuk pulang.
The magic thing about home is that it feels good to leave and it feels even better to come back home
*sumber riset dari berisatu.com, dewaweb.com