Prolog
“Jadi apa rencanamu setelah lulus sarjana?” Papa menarik kursi di sebelahku dan duduk. Beliau mengambil remote tv yang tergeletak di atas meja dan menurunkan volume televisi yang sedari tadi setia mendampingiku menyelesaikan skripsi.
Aku menghentikan ketikanku, lalu ganti memperhatikan Papa. “Masih yang lama, Pa. Aku ingin melanjutkan pendidikan profesi,” jawabku mantap.
“Kamu tetap tidak berubah pikiran? Kan lebih baik mengambil S-2 Manajemen kemudian melamar menjadi bankir, mengikuti jejak Papa. Dengan kemampuanmu, Papa yakin kamu tidak akan mengalami kesulitan untuk bisa seperti Papa dulu.”
Papa masih saja berusaha merayuku. Dan dengan tekad sekuat baja serta impian setinggi awan khas anak kuliah yang sebentar lagi lulus, aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak, Pa. Bankir isn’t my passion. Aku ingin berkarier jadi auditor. Dan pada saatnya nanti aku bisa mendirikan kantor akuntan publik sendiri,” tandasku mantap.
“Kamu siap hidup mandiri di luar kota? Ngekos di tempat yang tidak senyaman rumahmu ini? Jakarta biaya hidupnya tinggi dan Papa sudah pensiun, Nak. Kita tidak punya banyak dana untuk membuatmu hidup sejahtera di ibu kota.”
Aku tersenyum. Kupegang tangan Papa. “Papa nggak usah kuatir. Aku akan berhemat dan berusaha keras untuk membuktikan aku mampu. Hasil penjualan mobil hanya delapan puluh persen digunakan untuk biaya kuliah dan sisanya akan kutabung untuk keperluan mendesak. Percayalah padaku, Pa!”
Papa memandang dengan tatapan khawatir namun aku membalasnya dengan tatapan penuh percaya diri. Mata pria yang menjadi cinta pertamaku tersebut akhirnya menyipit membentuk garis lurus, bibirnya menyunggingkan senyuman.
“Papa percaya dan akan selalu berdoa untukmu.” Papa berdiri dan menepuk bahuku sebelum meninggalkanku.
Aku memandangi punggung Papa yang semakin menjauh dengan senyuman lebar.
Yeayyyy, akhirnya anak bungsu yang disebut paling manja di rumah akan membuktikan kemandiriannya.
Jakartaaaaa… I’m coming!!!!
My Lovely Boss
Hidup ini bukanlah sekadar tuntutan pekerjaan.
Ada banyak warna-warni indah lain di dalamnya.
“Kamu pikir ini kantor nenek moyangmu? Bikin kertas kerja kok nggak beres begini!” suara Desi, manajerku, melengking tinggi diikuti suara benda berat dilemparkan ke dekat kakiku.
Aku menelan ludah. Hari sudah pukul tiga dini hari. Mata yang semula hampir terpejam langsung segar kembali. Sebenarnya tanpa perlu berteriak pun suara manajerku adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan yang luas ini. Karena memang hanya kami yang tersisa di kantor dini hari ini.
“Lekas perbaiki! Pokoknya sebelum pulang sudah harus ada di mejaku!” perintahnya sambil menyeret tubuh gempalnya pergi.
Aku menunduk mengambil ordner berisi kertas kerja pemeriksaanku. Beberapa halaman terlepas dari cincinnya karena tergesek lantai.
Kuhela napas panjang. Ini malam Minggu. Bahkan sudah masuk Minggu dini hari. Di saat anak muda normal sedang malam Minggu-an, menghabiskan waktu dengan pacar, aku malah terjebak di sini bersama bosku tercinta. Manajer yang dijuluki setan oleh orang-orang yang pernah bekerja di bawahnya. Kesalahan sedikit saja bisa membuatnya mengamuk seperti setan. Contohnya aku. Hanya karena salah memasukkan kode aset pada kertas kerja pemeriksaan, dia sudah marah kesetanan seperti ini.
Aku mengambil ponsel dari atas meja dan membuka aplikasi Whattsap dan mengirimkan pesan ke grup cewek-cewek sableng. Semoga saja sudah ada yang terbangun.
Me : Guys, maaf aku nggak bisa ikutan lagi. Aku masih di kantor dan masih harus memperbaiki revisi si setan.
Ginny : Astaqfirullah, lo masih di kantor? Gue pikir lo udah ngorok di kamar.
Sesuai sudah kuduga, Ginny segera membalas chat-ku. Satu-satunya teman sekantor sekaligus satu kos denganku ini memang terbiasa bangun sangat pagi.
Me : Lo kayak nggak tahu bos gue aja. Mana mungkin gue bisa pulang kalo kerjaan belum kelar.
Ginny : Ya gimana mau kelar? Lo kan megang klien banyak banget. Kabur aja!
Dinda : Astaganaga Arieska!!!!! Jangan bilang lo mau ngebatalin janji lagi untuk jalan sama kita-kita? Ini udah keenam kalinya dalam dua bulan ini. It means kita udah nggak ketemuan 1,5 bulan!”
Ginny : Jangankan lo yang nggak serumah sama dia, Gin. Gue yang kamarnya cuma tinggal ngesot saja sudah seminggu nggak ketemu!
Dinda : Gimana lo mau punya cowok kalau begini terus, Ka?”
Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Miris banget rasanya. Aku, Arieska Zevanna, tahun ini berumur 24 tahun. Sudah tiga tahun satu bulan aku menjomlo, tepatnya semenjak menetap di ibu kota Jakarta. Alasannya? Tahun pertama sibuk kuliah dan tahun berikutnya terlalu sibuk bekerja. Klise banget! But its true!
Sekarang begini, bagaimana caranya aku bisa menjalin hubungan dengan seorang pria bila sebagian besar waktuku dihabiskan untuk bekerja. Hampir tujuh kali 24 jam aku bekerja? Lebay? Nope!!
Teman segengku semenjak kuliah di Jakarta yang berlanjut hingga sekarang ada tiga orang. Dinda, Ginny, dan Laksmi. Kami bertemu saat aku meneruskan kuliah di Jakarta, kemudian kami melamar di beberapa tempat kerja. Dinda yang memang orang Jakarta dan tinggal di Rawamangun diterima bekerja di Multinational Company, sebuah perusahaan kosmetik. Laksmi yang datang dari Solo diterima sebagai PNS di daerah Kuningan dan indekos di daerah sana. Sedangkan aku dan Ginny yang orangtuanya tinggal di Bandung menjadi auditor di salah satu big four Kantor Akuntan Publik terbesar di dunia dan memilih indekos di dekat kantor.
Omong-omong soal hubungan asmara, awalnya kami berempat senasib. Maka jadilah geng kami dinamakan Jomlo Ceria. Namun tidak lama kemudian, Laksmi jadian dan disusul Dinda, sehingga nama gengnya berubah jadi Single Ceria.
Jomlo yang tersisa hanya aku dan Ginny. Namun nasib Ginny masih lebih baik ketimbang aku. Manajernya nggak hobi ngajak lembur. Jadi saat ini walaupun masih jomlo, ia bisa dekat dengan seorang pria. Hubungan tanpa status sih ceritanya. Ya mungkin hanya menunggu waktu agar hubungannya diresmikan.
Sedangkan aku? Sebenarnya hubungan percintaanku tidak semenyedihkan itu. Ada beberapa pria yang melakukan pendekatan padaku. Namun hubungannya tidak maju-maju, hanya sebatas telepon dan chatting. Ya gimana mau maju, nge-date saja aku nggak punya waktu!
Kuabaikan grup Whattsapp yang mulai ramai dengan bergabungnya Laksmi. Kalau aku hanya chatting-an, kapan aku bisa memperbaiki review-an bosku yang supergalak itu?
Aku mulai mencetak beberapa kertas kerja yang sudah selesai diperbaiki. Saat berjalan menuju mesin pencetak, aku melihat manajerku sedang berdiskusi dengan partner. Sepertinya perlu kujelaskan sedikit tentang jenjang karier di kantorku. Dimulai dari level terendah, yaitu kacung seperti aku atau yang disebut auditor. Lalu selanjutnya senior auditor, asisten manajer, manajer, dan partner. Sistemnya per proyek. Sehingga untuk setiap proyek, kesempatan berganti bos sangat besar. Namun malangnya, aku belum pernah mendapat kesempatan lepas dari duet maut partner dan manajerku ini. Mereka belum menikah dan hobi banget lembur. Jadi jangan heran kalau setiap hari mereka biasa bekerja hingga dini hari. Dan tentunya aku sebagai kacung harus ikut lembur bersama mereka.
Dari raut wajah dan gesture tubuh mereka sepertinya diskusinya cukup seru. Kulirik jam di pergelangan tangan. Aku heran. Sekarang sudah jam lima pagi dan mereka masih sangat antusias, tidak terlihat mengantuk sama sekali.
Kuletakkan dokumen yang telah dicetak di atas meja. Lebih baik aku solat subuh dulu sebelum melanjutkan pekerjaan. Toh aku hanya tinggal membolongi kertas, memasukkannya ke dalam ordner dan menandatangani kolom prepared.
Selesai solat, kusempatkan melihat ponsel yang kutinggal di meja. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mbak Desi. Mungkin tadi dia mencari ke kubikelku namun aku tidak ada karena sedang solat. Nanti saja kutemui sambil memberikan file kertas kerja yang telah diperbaiki.
Jam tepat menunjukkan pukul 06.00 pagi saat tugasku akhirnya selesai. Bergegas kubereskan laptop sebelum membawa dokumen ke meja kerja Mbak Desi. Bibirku komat-kamit berdoa semoga ibu satu itu tidak ada di ruangannya sehingga aku bisa segera pulang.
Dan alhamdulillah kali ini doaku terkabul. Ruangan Mbak Desi kosong. Bergegas aku meletakkan dokumen dan segera keluar. Kusambar tas dan setengah berlari menuju lift. Pintu lift terbuka bersamaan dengan teriakan yang memanggil namaku. Suara Mbak Desi.
Aku langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol Ground.
Me : Girls, gue berhasil kabur. Tapi jam ketemuannya diundur yaaa… gue ngantuk!
Laksmi : Alhamdulillah, iya tidur dulu aja, Ries. Sampai ketemu nanti yaaa.
Dinda : Nek, jangan lama-lama ya tidurnya. Jam sebelas ketemu di Foodcourt PS ya!
Ginny : Tenang, nanti gue gedor-gedor pintunya biar bangun.
Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar, menuju tempat antrean taksi resmi di gedung ini. Namun belum sempat aku naik ke taksi, seseorang menepuk bahuku. Mbak Desi.
“Hei, kamu sudah di bawah toh? Tadi aku panggil-panggil tapi kamu nggak ada. Kupikir kamu sudah lama pulang. Oke, selamat istirahat ya. Sampai berjumpa besok.” Ia melangkah pergi. Namun sesaat kemudian ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya menghadapku.
“Oh ya, kertas kerjamu harus direvisi kembali. Ada perubahan kesimpulan. Senin pagi langsung ke tempat saya ya.” Ia melenggang pergi, meninggalkanku yang mendadak mual saat mendengar kata-katanya. Kukepalkan tanganku. Stres!
Please, somebody help me!!!
Penasaran? Boleh intip lanjutannya di wattpad @Riliaputri