Marzia

Prolog

Dia memiliki segalanya. Orang tua yang penyayang. Harta yang bergelimang. Kekasih yang baik hati yang mampan dan tampan. Sahabat sekaligus teman masa kecil yang loyal.

Tapi itu dulu. Saat ini apa yang ia punya? Yang ia miliki hanyalah kenyataan bahwa ia telah kehilangan. Walau satu hal yang pasti, ia tidak kehilangan kekayaan. Karena harta yang ia miliki setidaknya tidak akan habis bila ia hanya duduk bermuram durja. Dan tidak akan habis juga bila ia gunakan untuk mengejar mimpinya yang sedikit tertunda. Tidak ada kata terlambat walau kini ia akan pergi dengan hati terluka. Hati yang tidak akan pernah utuh lagi sebagaimana semula.

Bab 1 Pertemuan Pertama

Zia mengernyit saat merasakan cairan kental berwarna hitam pekat itu mengaliri tenggorokan. Ia meletakkan gelas minuman yang baru berkurang sedikit sekali.

Gadis cantik itu mendengus. Ternyata kopi yang digembar gemborkan nikmat tersebut tidak lebih enak dari kopi instant yang dijual dipasaran, hanya menjual kemasan keren dan iklan yang bombastis semata.

Zia mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menekan tombol speed dial 1.

“Saya tunggu di lobby ya.” Gadis tersebut lalu meletakkan selembar lima puluh ribu di atas meja sebagai tip. Ia kemudian berdiri, menatap pantulan dirinya dari kaca besar yang melapisi tembok diseberangnya. Senyum puas tergambar diwajahnya sebelum ia melangkah meninggalkan cafe dengan dekorasi modern tersebut.

Matahari bersinar sangat terik di langit jakarta siang. Kawasan sudirman yang seakan tidak pernah absen dengan kemacetan. Di kiri dan kanan jalan terlihat …. galian jalan makin menambah kesemrawutan.

Marzia mengalihkan pandangan dari laptop dihadapannya. Namun alih- alih menghilangkan kepenatan, ia malah semakin stress melihat betapa semrawutnya jalanan.

6 tahun telah berlalu. Jakarta tidak berubah. Panasnya, semrawutnya, bisingnya, kesibukannya dan kejamnya. Seulas senyum miris tersungging di bibir gadis itu. Ia menggeleng pelan. Bukan Jakarta yang kejam. Tapi manusia yang tinggal di dalamnya. Dan bodohnya ia begitu mencintai orang- orang kejam itu.

Zia menarik nafas panjang. Memalingkan wajah kembali ke laptop saat dering pesan masuk berbunyi di ponselnya. Dahinya mengernyit saat membaca pesan tersebut lalu kemudian menyebutkan sederetan kata yang merupakan alamat tersebut kepada Pak hari, sopirnya.

—///

Mobil melambat saat memasuki sebuah cafe kecil di bilangan kota depok. Zia keluar dari mobil dan merenggangkanntubuhnya. Lumayan juga waktu yang ditempuh. Hampir dua jam menembus kemacetan kota jakarta dan sekitarnya.

Mata gadis itu memindai mencari sosok yang telah mengiriminkan pesan untuk datang kemari. Dan sosok itu ia temukan sedang sibuk menatap ponsel. Sebatang rokok terselip di jarinya.

Zia berjalan gegas, mengambil rokok dan menekan rokok di asbak hingga mati. Hanya dalam hitungan detik bahkan sebelum sosok itu menyadarinya.

Makian langsung keluar dari bibir mungilnya.
“Astaqfirullah Joanna, mulutnya di rem sedikit kenapa? Sekali-kali mulut lo itu perlu dicuci pake cuka biar bersih.”

“Sialan. Lo pikir mulut gw besi berkarat apa!” Gadis itu kemudian berdiri, memeluk Zia singkat sambil tetap mengoceh.

Joanna Ariesta. Gadis imut dengan potongan rambut pendek itu hari ini mengenakan kaos selebor dengan celana pendek.

Mata Ziamelotot saat menyadari betapa pendeknya celana yang dikenakan teman sekaligus asisten kepercayaannya itu.
“Ya ampun Jo, baju rumah kok lo pake kesini? Paha lo kemana-mana itu. Wajar tadi banyak cowok yang ngeliat kearah sini.

Joanna terkekeh
“Marzia Hilya, apa perlu gw perjelas kalau mata cowok-cowok itu mulai melotot sejak elo masuk keruangan ini? “
Joanna berdecak. Ia tidak pernah tidak merasa kagum pada penampilan gadis didepannya ini.

Teman kesayangannya itu hari ini mengenakan gamis berwarna tosca. Selembar hijab berwarna serupa meliingkari wajah tirusnya. Sederhana namun berkelas. Sangat pantas dikenakan desainer berbakat sepertinya.

Marzia hanya tersenyum sambil duduk di kursi didepan Joanna.
“Jadi, apa hal istimewa disini yang membuatku harus kehilangan dua jam berhargaku hanya untuk menempuh perjalanan kesini?”

“Kayanya mendingan lo pesan dulu deh baru kita ngobrol.” Jo melambaikan tangan memanggil waitress yang berada tidak jauh dari mereka.

“Lo mau makan apa?”

Marzia menggeleng “Kopi saja.”

Jo lalu menyebutkan sebuah nama sambil menunjuk gelas didepannya.

“So?” tanya Zia setelah pelayan tersebut pergi.

“Sebentar. Gw ke kamar mandi dulu.” Jo bangun dan bergegas menuju kamar mandi.

Zia mengedarkan pandang. Cafe ini menarik. Interiornya didominasi warna bata dengan tanaman di beberapa sudut ruangan. Gambar dan hiasan mobil klasik memjadi hiasan utama. Kafe kecil yang nyaman.

“Silakan Bu, selamat menikmati.” Ujar pelayan yang mengantarkan makanan. Secangkir kopi dan sepotong round scones. Dari tampilannya cukup menarik.

Dengan antusias Zia menghirup aroma dan kemudian menyesap minuman kesayangannya tersebut. Sedetik kemudian ia tertegun. Ia kembali meneguk isinya. Gadis itu tersenyum.

Tangannya terulur mengambil round scones dan menggigitnya. segigit demi segigit hingga habis.

“Gimana, enak kan?” Tanya Joana sambil duduk.

Zia mengangguk antusias.
“Keren lo, Jo. Bisa aja nemu kopi seenak ini di tempat antah berantah begini.”

“Hus, bisa abis lo sama netizen disini kalau dengar becandaan lo begitu.

Zia mengibaskan tangan
“So, dimana pemilik tempat ini? Gw mau ajakin kerjasama. Kalau perlu, seluruh tim kita angkut ke …

“Calm down, Jo. Lo harus berstrategi kalau ngadepin ownernya. Kalau ngeliat lo kaya gini, salah-salah dia bisa jual mahal.”

“Kenapa emgnya? Lo kenal ownernya?”

“Ya, he’s freaky hot Don Juan.”

Marzia mengernyit bingung

“Baru diomongin keluar orangnya. Tuh si doi.”
Jo menunjuk seorang pria yang sedang melangkah cepat keluar ruangan.

“Hei tunggu.” Spontan Marzia mengejar pria itu, tanpa sempat Joanna cegah.

Pria itu berbalik menghadap Marzia. Pria berambut coklat itu menatap dengan netra abu nya.

Dan seketika Marzia kehilangan kata.

Hai Hai… akyu bikin cerita baru lagi. Tapi…buat yang penasaran sama ceritanya, novel ini ga bakal bisa ditemui di Wattpad. Jadi, aku sednag nyobain platform nulis baru buatan anak negeri, Ketix namanya.

So, buat yang penasaran sama lanjutan cerita Marzia, boleh dibaca di Ketix yaaa

See you☺️

 

 

 

 

Precious

Prolog

“Jadi apa rencanamu setelah lulus sarjana?” Papa menarik kursi di sebelahku dan duduk. Beliau mengambil remote tv yang tergeletak di atas meja dan menurunkan volume televisi yang sedari tadi setia mendampingiku menyelesaikan skripsi.

Aku menghentikan ketikanku, lalu ganti memperhatikan Papa. “Masih yang lama, Pa. Aku ingin melanjutkan pendidikan profesi,” jawabku mantap.

“Kamu tetap tidak berubah pikiran? Kan lebih baik mengambil S-2 Manajemen kemudian melamar menjadi bankir, mengikuti jejak Papa. Dengan kemampuanmu, Papa yakin kamu tidak akan mengalami kesulitan untuk bisa seperti Papa dulu.”

Papa masih saja berusaha merayuku. Dan dengan tekad sekuat baja serta impian setinggi awan khas anak kuliah yang sebentar lagi lulus, aku menggeleng kuat-kuat. “Tidak, Pa. Bankir isn’t my passion. Aku ingin berkarier jadi auditor. Dan pada saatnya nanti aku bisa mendirikan kantor akuntan publik sendiri,” tandasku mantap.

“Kamu siap hidup mandiri di luar kota? Ngekos di tempat yang tidak senyaman rumahmu ini? Jakarta biaya hidupnya tinggi dan Papa sudah pensiun, Nak. Kita tidak punya  banyak dana untuk membuatmu hidup sejahtera di ibu kota.”

Aku tersenyum. Kupegang tangan Papa. “Papa nggak usah kuatir. Aku akan berhemat dan berusaha keras untuk membuktikan aku mampu. Hasil penjualan mobil hanya delapan puluh persen digunakan untuk biaya kuliah dan sisanya akan kutabung untuk keperluan mendesak. Percayalah padaku, Pa!”

Papa memandang dengan tatapan khawatir namun aku membalasnya dengan tatapan penuh percaya diri. Mata pria yang menjadi cinta pertamaku tersebut akhirnya menyipit membentuk garis lurus, bibirnya menyunggingkan senyuman.

“Papa percaya dan akan selalu berdoa untukmu.” Papa berdiri dan menepuk bahuku sebelum meninggalkanku.

Aku memandangi punggung Papa yang semakin menjauh dengan senyuman lebar.
Yeayyyy, akhirnya anak bungsu yang disebut paling manja di rumah akan membuktikan kemandiriannya.

Jakartaaaaa… I’m coming!!!!

My Lovely Boss

Hidup ini bukanlah sekadar tuntutan pekerjaan.
Ada banyak warna-warni indah lain di dalamnya.

“Kamu pikir ini kantor nenek moyangmu? Bikin kertas kerja kok nggak beres begini!” suara Desi, manajerku, melengking tinggi diikuti suara benda berat dilemparkan ke dekat kakiku.

Aku menelan ludah. Hari sudah pukul tiga dini hari. Mata yang semula hampir terpejam langsung segar kembali. Sebenarnya tanpa perlu berteriak pun suara manajerku adalah satu-satunya suara yang terdengar di ruangan yang luas ini. Karena memang hanya kami yang tersisa di kantor dini hari ini.

“Lekas perbaiki! Pokoknya sebelum pulang sudah harus ada di mejaku!” perintahnya sambil menyeret tubuh gempalnya pergi.

Aku menunduk mengambil ordner berisi kertas kerja pemeriksaanku. Beberapa halaman terlepas dari cincinnya karena tergesek lantai.

Kuhela napas panjang. Ini malam Minggu. Bahkan sudah masuk Minggu dini hari. Di saat anak muda normal sedang malam Minggu-an, menghabiskan waktu dengan pacar, aku malah terjebak di sini bersama bosku tercinta. Manajer yang dijuluki setan oleh orang-orang yang pernah bekerja di bawahnya. Kesalahan sedikit saja bisa membuatnya mengamuk seperti setan. Contohnya aku. Hanya karena salah memasukkan kode aset pada kertas kerja pemeriksaan, dia sudah marah kesetanan seperti ini.

Aku mengambil ponsel dari atas meja dan membuka aplikasi Whattsap dan mengirimkan pesan ke grup cewek-cewek sableng. Semoga saja sudah ada yang terbangun.

Me : Guys, maaf aku nggak bisa ikutan lagi. Aku masih di kantor dan masih harus memperbaiki revisi si setan.

Ginny : Astaqfirullah, lo masih di kantor? Gue pikir lo udah ngorok di kamar.

Sesuai sudah kuduga, Ginny segera membalas chat-ku. Satu-satunya teman sekantor sekaligus satu kos denganku ini memang terbiasa bangun sangat pagi.

Me : Lo kayak nggak tahu bos gue aja. Mana mungkin gue bisa pulang kalo kerjaan belum kelar.

Ginny : Ya gimana mau kelar? Lo kan megang klien banyak banget. Kabur aja!

Dinda : Astaganaga Arieska!!!!! Jangan bilang lo mau ngebatalin janji lagi untuk jalan sama kita-kita? Ini udah keenam kalinya dalam dua bulan ini. It means kita udah nggak  ketemuan 1,5 bulan!”

Ginny : Jangankan lo yang nggak serumah sama dia, Gin. Gue yang kamarnya cuma tinggal ngesot saja sudah seminggu nggak ketemu!

Dinda : Gimana lo mau punya cowok kalau begini terus, Ka?”

Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Miris banget rasanya. Aku, Arieska Zevanna, tahun ini berumur 24 tahun. Sudah tiga tahun satu bulan aku menjomlo, tepatnya semenjak menetap di ibu kota Jakarta. Alasannya? Tahun pertama sibuk kuliah dan tahun berikutnya terlalu sibuk bekerja. Klise banget! But its true!

Sekarang begini, bagaimana caranya aku bisa menjalin hubungan dengan seorang pria bila sebagian besar waktuku dihabiskan untuk bekerja. Hampir tujuh kali 24 jam aku bekerja? Lebay? Nope!!

Teman segengku semenjak kuliah di Jakarta yang berlanjut hingga sekarang ada tiga  orang. Dinda, Ginny, dan Laksmi. Kami bertemu saat aku meneruskan kuliah di Jakarta,  kemudian kami melamar di beberapa tempat kerja. Dinda yang memang orang Jakarta dan tinggal di Rawamangun diterima bekerja di Multinational Company, sebuah perusahaan kosmetik. Laksmi yang datang dari Solo diterima sebagai PNS di daerah Kuningan dan indekos di daerah sana. Sedangkan aku dan Ginny yang orangtuanya tinggal di Bandung menjadi auditor di salah satu big four Kantor Akuntan Publik terbesar di dunia dan memilih indekos di dekat kantor.

Omong-omong soal hubungan asmara, awalnya kami berempat senasib. Maka jadilah geng kami dinamakan Jomlo Ceria. Namun tidak lama kemudian, Laksmi jadian dan disusul Dinda, sehingga nama gengnya berubah jadi Single Ceria.

Jomlo yang tersisa hanya aku dan Ginny. Namun nasib Ginny masih lebih baik ketimbang aku. Manajernya nggak hobi ngajak lembur. Jadi saat ini walaupun masih jomlo, ia bisa dekat dengan seorang pria. Hubungan tanpa status sih ceritanya. Ya mungkin hanya menunggu waktu agar hubungannya diresmikan.

Sedangkan aku? Sebenarnya hubungan percintaanku tidak semenyedihkan itu. Ada beberapa pria yang melakukan pendekatan padaku. Namun hubungannya tidak maju-maju, hanya sebatas telepon dan chatting. Ya gimana mau maju, nge-date saja aku nggak punya waktu!

Kuabaikan grup Whattsapp yang mulai ramai dengan bergabungnya Laksmi. Kalau aku hanya chatting-an, kapan aku bisa memperbaiki review-an bosku yang supergalak itu?

Aku mulai mencetak beberapa kertas kerja yang sudah selesai diperbaiki. Saat berjalan menuju mesin pencetak, aku melihat manajerku sedang berdiskusi dengan partner. Sepertinya perlu kujelaskan sedikit tentang jenjang karier di kantorku. Dimulai dari level terendah, yaitu kacung seperti aku atau yang disebut auditor. Lalu selanjutnya senior auditor, asisten manajer, manajer, dan partner. Sistemnya per proyek. Sehingga untuk setiap proyek, kesempatan berganti bos sangat besar. Namun malangnya, aku belum pernah mendapat kesempatan lepas dari duet maut partner dan manajerku ini. Mereka belum menikah dan hobi banget lembur. Jadi jangan heran kalau setiap hari mereka biasa bekerja hingga dini hari. Dan tentunya aku sebagai kacung harus ikut lembur bersama mereka.

Dari raut wajah dan gesture tubuh mereka sepertinya diskusinya cukup seru. Kulirik jam di pergelangan tangan. Aku heran. Sekarang sudah jam lima pagi dan mereka masih sangat antusias, tidak terlihat mengantuk sama sekali.

Kuletakkan dokumen yang telah dicetak di atas meja. Lebih baik aku solat subuh dulu sebelum melanjutkan pekerjaan. Toh aku hanya tinggal membolongi kertas, memasukkannya ke dalam ordner dan menandatangani kolom prepared.

Selesai solat, kusempatkan melihat ponsel yang kutinggal di meja. Ada beberapa panggilan tak terjawab dari Mbak Desi. Mungkin tadi dia mencari ke kubikelku namun aku tidak ada karena sedang solat. Nanti saja kutemui sambil memberikan file kertas kerja yang telah diperbaiki.

Jam tepat menunjukkan pukul 06.00 pagi saat tugasku akhirnya selesai. Bergegas kubereskan laptop sebelum membawa dokumen ke meja kerja Mbak Desi. Bibirku komat-kamit berdoa semoga ibu satu itu tidak ada di ruangannya sehingga aku bisa segera pulang.

Dan alhamdulillah kali ini doaku terkabul. Ruangan Mbak Desi kosong. Bergegas aku meletakkan dokumen dan segera keluar. Kusambar tas dan setengah berlari menuju lift. Pintu lift terbuka bersamaan dengan teriakan yang memanggil namaku. Suara Mbak Desi.

Aku langsung masuk ke dalam lift dan menekan tombol Ground.

Me : Girls, gue berhasil kabur. Tapi jam ketemuannya diundur yaaa… gue ngantuk!

Laksmi : Alhamdulillah, iya tidur dulu aja, Ries. Sampai ketemu nanti yaaa.

Dinda : Nek, jangan lama-lama ya tidurnya. Jam sebelas ketemu di Foodcourt PS ya!

Ginny : Tenang, nanti gue gedor-gedor pintunya biar bangun.

Pintu lift terbuka. Aku melangkah keluar, menuju tempat antrean taksi resmi di gedung ini. Namun belum sempat aku naik ke taksi, seseorang menepuk bahuku. Mbak Desi.

“Hei, kamu sudah di bawah toh? Tadi aku panggil-panggil tapi kamu nggak ada. Kupikir kamu sudah lama pulang. Oke, selamat istirahat ya. Sampai berjumpa besok.” Ia melangkah pergi. Namun sesaat kemudian ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya menghadapku.

“Oh ya, kertas kerjamu harus direvisi kembali. Ada perubahan kesimpulan. Senin pagi langsung ke tempat saya ya.” Ia melenggang pergi, meninggalkanku yang mendadak mual saat mendengar kata-katanya. Kukepalkan tanganku. Stres!

Please, somebody help me!!!

Penasaran? Boleh intip lanjutannya di wattpad @Riliaputri

Karena Takdir Akan Menemukan Jalannya

“If you want to walk fast, walk alone. But if you want to walk far, walk together”
Hal itulah yang memotivasi kami, alumni SP16 untuk menerbitkan novel bersama.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Kami membukukan karya kami dalam antologi “Karena takdir akan menemukan jalannya”. Dalam buku tersebut kami menuturkan berbagai kisah tentang keindahan cinta. Kami menguraikan beberapa cerita tentang takdir cinta manusia.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
“Cinta tidak akan berubah rasanya meskipun hanya disimpan. Tidak berkurang nilainya.
Yang membedakan adalah kisahmu. Apakah engkau dapat bertahan memendam rasa ataukah engkau memilih untuk berjuang walau belum tahu akhirnya.
Pilihanmu akan menentukan kisah cintamu.”

Quotes tersebut terdapat dalam salah satu kisah yang ada didalam buku antologi tersebut.
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
Penasaran? Yuk order di 081210018025
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
See ya 😍
⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀
IMG-20181130-WA0004

Divorced

Sinopsis :

Rafli Gilang Aditya tergila -gila dengan Annalicia Raesha. Begitu pula sebaliknya. Tidak perlu waktu lama bagi mereka saat memutuskan untuk membangun mahligai perkawinan.

Kehidupan pernikahan mereka terasa sangat sempurna. Pasangan yang sangat mencintai, anak yang manis, karir yang baik. Semuanya terasa begitu sempurna. Namun mereka lupa satu hal. Untuk selalu merawat cinta mereka.

Hingga akhirnya badai menghampiri mereka. Membuat mereka berpikir bahwa perpisahan adalah yang terbaik untuk keluarga mereka, untuk masa depan putra mereka. Daripada mereka tidak bahagia dan buah hati mereka tersiksa melihat pertengkaran yang selalu menghantui kehidupan mereka.

Namun benarkah perpisahan jalan terbaik untuk mereka?

 

Prolog

Cinta bukanlah hanya saat engkau terjatuh begitu dalam
Namun saat engkau berjuang membangun bersamanya
Dari masa ke masa

“Ceraikan aku, Raf !” Teriak Anna melengking. Ia menangis histeris sambil berlari ke dalam kamar.

Rafli duduk di sofa ruang tengah sambil menunduk. Wajahnya kalut. Jemari tangannya saling bertaut. Sesekali tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Sebelum akhirnya ia menarik rambutnya frustasi.

Rumahnya seperti neraka. Tangis istrinya berpadu dengan lengkingan tangis Reza, anaknya. Belum ditambah suara baby sitternya yang mencoba menenangkan Reza yang terus menangis ketakutan.

Dia tahu pertengkaran kali ini cukup keterlaluan. Mereka saling berteriak, memaki, menggebrak meja dan bahkan melempar barang. Mereka lupa kalau ada manusia kecil yang jiwanya suci dan berhati lembut, anak mereka yang ikut menonton kegaduhan ini. Mereka sungguh lupa.

Rafli melangkah gontai menuju kamar anaknya. Dibukanya kamar Reza. Pemandangan didalamnya sangat menyedihkan. Anaknya sudah lebih tenang. Namun ia menangis sambil duduk meringkuk didekat jendela, tidak ingin ditemani oleh baby sitternya.

Rafli memeluk anaknya dari belakang. Tubuh kecil itu sedikit menegang, namun masih belum mau membalikkan tubuhnya. Tangannya mencengkeram gorden dengan kuat.
“Maafkan Ayah, sayang … Maaf …Reza takut ya?” Rafli mencium bagian belakang kepala anaknya sambil berbisik. Berulang kali ia mengucapkan permintaan maaf kepada anaknya.

Pelan genggaman tangan Reza mulai terurai. Rafli membopong tubuh kecil itu sambil mencium tubuhnya. Reza menangis kencang saat tubuhnya digendong Rafli. Tangan kecilnya memeluk tubuh Reza. Putra kecilnya terus menangis sampai akhirnya tubuhnya lunglai. Ia tertidur kecapaian. Sesekali sedu sedannya masih keluar dari bibirnya.

Rafli meletakkan Reza diatas tempat tidur. Ia memandangi putra kecilnya dengan hati gundah. Ia tak pernah menyangka prahara akan menerpa keluarganya seperti ini. Keluarga mereka sangat bahagia. Sebelumnya.

Benar kata orang. Jatuh cinta itu mudah namun lebih sulit membangun cinta. Dan mereka melupakan itu. Sangat lupa. Hingga akhirnya mereka terbentur pada berbagai kesalahpahaman yang membuat mereka saling menyakiti. Dan saling terluka.

Rafli berjalan perlahan menuju kamarnya. Membuka pintunya untuk kemudian mendapati wanita yang dahulu ia janjikan untuk hidup bahagia, menangis terisak. Duduk diapit berbagai pakaian yang berjejer di samping koper, menunggu untuk dimasukkan.

Ia mengulurkan tangan dengan ragu, menyentuh bahu istrinya.
“Maaf … ” bisiknya pelan

Anna menghindari tangan Rafli dan bergeser menjauh. Wanita itu meneruskan kesibukannya memasukkan barang-barang kedalam koper.

“Kamu mau kemana?”

“Terserah aku. Yang pasti tidak disini,” Tukasnya

“Ohya, Reza aku bawa.” Anna berjalan mengangkat koper menuju pintu, membukanya dan membantingnya dengan keras.

“Na, jangan memutuskan dalam keadaan emosi.” Rafli mengejar dan menarik tangan Anna.

Anna mengibaskan tangan Rafli dan berjalan menuju kamar Reza.
“Na, jangan bawa Reza. Kasian dia.”

“Jauh lebih kasian bila aku meninggalkannya dengan ayahnya yang tukang selingkuh. Reza masih dibawah umur dan seorang ibu punya hak untuk merawatnya bila kita nanti bercerai.” Tandasnya

Rafli tergugu. Kepalanya pusing. Ia mencari sofa dan duduk sambil memejamkan mata. Tangannya bergerak memijit keningnya. Sekelebat bayangan muncul dibenaknya. Ia menghembuskan nafas panjang. Seandainya saja ia dapat mengulang waktu …
Seandainya ….

Penasaran?

Yuk baca lebih lengkap di wattpad username @Riliaputri

Twisted Love

Freya Callandra Adiwangsa mencintai Arzan Malique Syauqi. Lama, sudah sejak lama. Bertahun- tahun ia menyimpan perasaannya sendiri dan tidak diketahui siapapun. Termasuk oleh saudara kembarnya, Freya Callantha Adiwangsa. Dan saat cinta pertamanya kemudian memilih saudara kembarnya, Callandra mengubur rapat- rapat semua perasaan dan harapannya.

Callandra tidak pernah menduga kalau ternyata akhirnya ia malah menjadi istri dari seorang Arzan Malique syauqie. Ia tidak pernah bermimpi kalau akhirnya ia menjadi istri pria yang sangat dicintainya, walau hanya sebagai istri pengganti. Menjadi istri dari orang yang bahkan tidak pernah menganggapnya ada.

Aku tahu semua tidak akan mudah. Namun karena ini tentang kamu maka aku tidak akan menyerah (Freya Callandra Adiwangsa)

Bukannya aku tidak mengerti keinginan hatimu namun raga ini terlalu sibuk memuaskan hati dalam menggapai mimpi dan sayangnya tidak ada kamu disitu. ( Freya Callantha Adiwangsa)

Aku sudah lama mencintainya dan akan selalu mencintainya (Arzan Malique Syauqie)

Dan ini kisah tentang ketulusan hati. Saat pengorbanan dilakukan, ikrar diucapkan, kesungguhan dilakukan dan kesetiaan dikedepankan, akankah hati yang terluka akan tergugah?

Ini kisah tentang rasa, bukan sekedar gugusan kata ataupun untaian aksara

Cerita lengkapnya bisa dibaca di wattpad @Riliaputri