
Beberapa waktu lalu aku terlibat diskusi yang cukup seru dengan rekan sekantor. Ia bercerita tentang kekhawatirannya akan anaknya yang diduga mengalami speech delay atau terlambat bicara. Ingatanku terlempar pada sekitar 1,5 – 2 tahun silam. Kala itu pun aku didera kebingungan karena melihat anak keduaku yang cenderung sedikit bicara. Pada saat itu pun aku menghawatirkan kalau Khaleev mengalami speech delay.
Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan speech delay? Dan apakah ciri- cirinya?
Dari hasil penelusuran mbah google dan diskusi dengan dokter, Speech delay atau terlambat bicara adalah kondisi ketika seorang anak mendapatkan suatu kesulitan dalam hal mengekspresikan perasaan atau keinginannya pada orang lain. Speech delay bisa disebabkan karena gangguan pendengaran, retardasi mental, gangguan bahasa spesifik reseptif/ekspresif, autis atau gangguan pada organ mulut.
Tanda bahaya (red flags) yang harus segera dilakukan adalah evaluasi bicara dan bahasa, yaitu seperti:
- Pada usia 12 bulan bila si Kecil tidak babbling, menunjuk atau tidak mengukuti gerak-gerik Anda yang merawat.
- Usia 15 bulan bila si Kecil tidak melihat atau menunjuk 5 dari 10 objek atau orang yang disebutkan dan tidak mengucapkan minimal 3 kata.
- Usia 18 bulan, si Kecil tidak mengikuti 1 instruksi dan tidak mengatakanmama, papa, dada.
- Usia 2 tahun, bila si Kecil tidak menunjuk pada gambar atau anggota tubuh yang dusebutkan dan tidak mengucapkan minimal 25 kata.
- Usia 2,5 tahun, si Kecil tidak merespon secara verbal, mengangguk atau menggelengkan kepala pada sebuah pertanyaan dan tidak dapat mengkombinasi dua kata.
- Usia 3 tahun, si Kecil tidak memahami dan mengikuti perintah, tidak mengucapkan paling sedikit 200 kata, tidak dapat menyebutkan keinginanannya dan mengulang kalimat sebagai respon dari pertanyaan.
Alasan kami menduga Khaleev mengalami speech delay karena saat itu kami melihat perbedaan yang cukup mencolok antara kemampuan berbicara khaleev dibandingkan dengan kakaknya, Kiya. Di usia yang hampir menginjak 2 tahun, Khaleev belum bisa mengucapkan 2 kata sekaligus seperti aku makan. Hal yang sangat berbeda dengan kakaknya yang sudah bisa bercerita tentang pasukan bergajah Abrahah pada usia 1,5 tahun.
Melihat kondisi yang ada, kami melakukan beberapa hal antara lain :
- Memeriksakan Khaleev ke dokter THT.
Berdasarkan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh Dokter Lola Yucola di Rumah Sakit Pondok Indah, Khaleev tidak mengalami masalah pada indra pendengaran dan organ mulut. Beliau lalu menyarankan agar kami berkonsultasi dengan psikolog/psikiater anak.
- Berkonsultasi dengan Psikiater Anak
Selanjutnya, kami melakukan sesi perjanjian dengan psikiater anak di klinik tumbuh kembang Rumah Sakit Pondok Indah – Pondok Indah. Dokter yang kami temui adalah dr. Gitayanti Hadisukanto, Sp.KJ(K). Dalam sesi konsultasi tersebut, Dokter Gita melakukan interview untuk mendapatkan informasi dan melakukan observasi atas Khaleev.
Beberapa pertanyaan yang dilontarkan dokter Gita :
- Apakah Khaleev suka menonton TV? Alhamdulillah kami tidak memperkenalkan TV kepada Khaleev sampai ia berusia 2 tahun.
- Apakah orang –orang disekelilingnya menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia saat berkomunikasi? Kami hampir tidak pernah menggunakan bahasa asing ataupun bahasa daerah saat berkomunikasi di rumah.
- Apakah orang – orang disekelilingnya malas mengajaknya berbicara? Alhamdulillah keluarga dekat dan mbak Khaleev tergolong orang – orang cerewet dan tidak pernah lelah untuk mengajaknya berbicara.
- Apakah orang – orang di sekelilingnya terlalu mengakomodir keinginannya? Misalnya saat ia belum mengucapkan suatu permintaan dengan sempurna namun keinginannya sudah diberikan? Dalam hal ini, memang kami sekeluarga sering melakukannya. Misalnya ia baru mengucapkan “inum” dan kami sudah memberikan gelas berisi minuman kepadanya.
- Apakah Khaleev mau untuk memegang cairan, mau menginjak cairan atau tanah, menjilat sisa makanan di bibirnya dst ? Memang khaleev cenderung tidak mau menyentuh atau menginjak sesuatu yang menurutnya menjijikkan. Kami juga biasanya langsung mengelap tepi bibirnya yang kotor, alih – alih membiarkannya menjilat dengan lidahnya.
Selain mengajukan beberapa pertanyaan, dokter juga melakukan observasi kepada Khaleev seperti mengajaknya berkenalan, mengecek fisiknya dst.
Dari hasil interview dan observasi, ternyata Dr Gita justru lebih konsen kepada kemampuan adaptasi dibandingkan pada kemampuan bicara Khaleev. Khaleev memang cukup tertutup. Ia cenderung tidak mau bersalaman atau berdekatan dengan orang yang tidak dikenalnya. Lalu dokter menyarankan agar Khaleev mengikuti terapi sensorik motoric di Sekolah Tumbuh Kembang Anak, Pela 9. Dokter menyampaikan bahwa kemampuan sensorik motoriknya harus dikembangkan lagi. Kebiasaan kami yang membiarkannya hidup terlalu bersih, segera membersihkan mulutnya saat kotor ternyata berkontribusi memperlambat perkembangan sensorik motoriknya. Nanti apabila kemampuan sensorik motoriknya telah berkembang sesuai tahapan usianya, baru bisa mulai terapi wicara. Karena ternyata perkembangan sensorik motoric yang terlambat menyebabkan kemampuan bicaranya juga ikut terlambat.
- Mengikuti kelas terapi sensorik motoric di Sekolah Pela Pusat, Kebayoran lama.
Dalam kelas terapi tersebut, Khaleev didampingi oleh seorang terapis untuk diarahkan melakukan beberapa jenis permainan. Ruangan kelasnya besar dan memiliki banyak jenis mainan. Dalam setiap jam terapi, ada beberapa anak yang bersama – sama ada di ruangan tersebut dengan terapis masing –masing. Khaleev ikut kelas setiap hari sabtu sehingga kami bisa ikut mendampingi.
Untuk mempercepat perkembangannya, aku juga membeli beberapa jenis mainan seperti yang ada di kelas terapi dan membuat jadwal permainan harian di rumah untuk Khaleev.
Setelah beberapa bulan mengikuti terapi, perkembangan sensorik motoric Khaleev bertambah. Namun kemampuan adaptasinya masih belum begitu baik. Ia tetap tidak mau ditinggal untuk bermain sendiri di dalam ruangan. Kemampuan berbahasanya juga masih belum bertambah.
- Mengikuti kelas terapi wicara Sekolah Pela Pusat, Kebayoran lama.
Setelah berkonsultasi dan berdiskusi lagi dengan dokter Gita, akhirnya dokter memperbolehkan Khaleev untuk ikut terapi wicara. Terapi tersebut dilakukan di ruangan kecil, dimana terapisnya duduk berhadapan dengan khaleev. Terapisnya akan bermain bersama dengannya sambil mengajarkan kosakata. Berbeda dengan terapi sensorik motoric yang biasanya diisi dengan drama tangisan, Khaleev sangat menikmati kelas terapi wicara ini. Kepribadiannya yang introvert membuat ia lebih nyaman berada hanya berdua dengan terapis tanpa bersama teman- temannya yang lain.
Kemampuan berbahasa Khaleev juga meningkat cukup cepat. Setelah 3 bulan, terapisnya menyampaikan kalau Khaleev tidak mengalami keterlambatan bicara dan sudah tidak perlu ikut terapi lagi karena kemampuan berkomunikasinya sudah sesuai dengan tahapan usianya.
Setelah berbagai macam observasi dan diskusi yang dilakukan, akhirnya kami menarik benang merahseputar keterlambatan Khaleev berbicara yaitu :
1. Masalah terbesar Khaleev ternyata pada kepercayaan dirinya. Ia tidak percaya diri untuk berbicara dan menyuarakan keinginannya.
2. Pola asuh yang kami terapkan sebelumnya, yang cenderung terlalu mengakomodir keinginannya dan bukan kebutuhannya ternyata berperan membuatnya malas bicara.
Saat ini Khaleev sudah berusia 3,5 tahun. Dan ia bukan sekedar bisa mengobrol namun sudah dapat berdiskusi banyak hal. Bahkan kadang – kadang ia sudah dapat berdebat atau ngeles untuk beberapa hal. ^_^
Sampai dengan saat ini kami masih belajar dan melakukan berbagai hal yang dapat merangsang kepercayaan dirinya, seperti mengikutkan sekolah saat weekend bersama kakaknya, melakukan simulasi – simulasi dengan reward dan punishment dalam memotivasinya melakukan sesuatu.
Belakangan ia sedang sibuk mendengarkan dan mengikuti bacaan surat – surat pendek. Namun seperti biasa, ia tidak percaya diri untuk setoran hapalan. Dan sebagai orang tua kami tidak lelah menyemangati, mendukungnya, mengiminginya dengan hadiah atau mengurangi kegemarannya agar ia mau menunjukkan kemampuannya. Dan tada …. inilah hasil beberapa video rekamannya
Jadi apabila bunda ada yang saat ini sedang berada di posisi kami 1,5 tahun yang lalu, sehingga muncul pertanyaan seperti apakah benar anakku mengalami keterlambatan bicara? Apa yang harus dilakukan? Coba amati dengan baik. Jangan jadikan pembanding dengan saudara atau temannya sebagai acuan untuk menentukan apakah ananda memang mengalami seperti dugaan bunda. Apabila masih kurang yakin, bunda bisa minta bantuan profesional seperti dokter atau psikolog.
Dan yang sangat penting diingat :
Every children has their own pace. Dont compare to others ^_^
Semoga kisah ini dapat memberikan sedikit pencerahan.
Indahnya berbagi ^_^