Kisah Hamil di Usia 40 tahun

Subhanallah, sudah lama sekali tidak menulis di blog ini. Ada banyak alasan yang melandasi dan salah satunya topik yang akan kita bahas kali ini yaitu hamil di usia yang tidak muda lagi.

alhamdulillah di tahun 2022 – 2023, Allah SWT memberikan rezeki anak ketiga untuk keluarga kami. Terus terang kami tidak ada persiapan untuk hal ini. Memang awal tahun, aku baru saja buka IUD setelah 6 tahun pasang (sampai dimarahin dokter karena seharusnya maksimal 5 tahun waktu expirednya IUD). Sempat ingin langsung pasang lagi namun urung karena berpikir umur sudah tidak muda lagi, insya Allah tidak subur lagi. Dan ternyata Masya Allah dengan kekuasaan Allah SWT dua bulan kemudian ternyata aku hamil.

Bagaimana rasanya?? Masya Allah speachless sekali rasanya. Kehamilan terberat dibanding kakak- kakaknya. Hyper emesis yang muntah sampai 30 kali dalam sehari, berbagai penyakit bermunculan tanpa henti, sampai oleh dokter direkomendasikan work from home selama kehamilan dan alhamdulillah diperbolehkan oleh atasan. Memang tidak full WFH, ada sekali- sekali masuk namun terus terang sangat membantu meringankan kesulitan yang dialami selama hamil. Apalagi workload kerjaan juga sedang tinggi yang kalau dipaksakan harus bekerja dari kantor, bisa – bisa aku disuruh bed rest full oleh dokter.

Ada banyak ujian selama kehamilan ketiga ini. Namun yang paling tidak terlupa adalah ujian menjelang kelahiran. Saat itu usia kehamilanku sudah menginjak 36 minggu dan sudah menyiapkan untuk cuti di usia kehamilan 37 minggu mengingat history kelahiran kakak- kakanya pada minggu ke 37. Qadarullah , saat sedang sibuk- sibuknya menyelesaikan kerjaan sebelum ditinggal cuti, Kakak Kiya tiba- tiba sakit demam tinggi sampai muntah- muntah. Diobservasi satu malam akhirnya dibawa ke IGD karena kondisinya sudah lemas tidak dapat makan apapun. Saat kakaknya sakit, abang khaleev demam juga hingga 41 derajat. Akhirnya mereka berdua direkomendasikan untuk rawat inap oleh dokter IGD.

Permasalahan berikutnya adalah siapakah yang menjaga anak – anak di RS mengingat aku sedang hamil besar, papa mama direncanakan ke Jakarta baru pekan depan saat jadwal lahiran. Kami juga tidak memiliki pembantu menginap sehingga kalau suami menginap di RS dan aku tidur sendirian di rumah akan agak rawan mengingat usia kandungan yang sudah tua. Namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya dipilih opsi tersebut karena akan lebih tidak nyaman bagiku bila tidur di sofa penunggu di Rumah Sakit. Anak – anak mulai di rawat di Rumah Sakit pada senin malam menjelang selasa dini hari. Di hari Rabu setelah beberapa hari bolak balik RS – Rumah, aku mulai merasakan kontraksi yang teratur dan semakin menyakitkan. Namun aku berusaha terus memberikan affirmasi positif bahwa aku akan melahirkan setelah anak – anak sembuh dan pulang dari Rumah Sakit. Sebagai informasi, RS tempat anakku dirawat berbeda dengan Rumah Sakit tempat biasa aku kontrol kehamilan. Pada hari kamis, sakitnya semakin kuat dan alhamdulillah dokter anak memperbolehkan kedua anakku pulang karena kondisinya sudah membaik. Pada hari itu juga, kedua orang tuaku tiba di Jakarta, mempercepat waktu kedatangannya karena melihat kondisi kami yang membutuhkan bantuan.

Di hari Jumat pagi, karena aku sudah mulai cuti yang dipercepat karena kondisi anak- anak, aku memutuskan untuk potong rambut di salon, merapikan rambut sebelum nantinya akan sibuk dengan kehadiran bayi baru. Jam 12 siang sepulang dari salon, kontraksi sudah kuat sekali dan tidak tertahankan. Begitu suami tiba di Rumah jam 4 sore , kami langsung menuju ke Rumah Sakit. Mengingat dua kehamilan sebelumnya aku caesar yang salah satu alasannya karena luka jahit tipis sehingga tidak memungkinkan untuk VBAC, dokter langsung menjadwalkan operasi di Jam 8 Malam. Seperti kehamilan sebelumnya, aku sempat nawar agar operasi dilakukan esok harinya, namun karena ini kehamilan ketiga dan usiaku sudah menginjak 4o tahun, maka tidak diperbolehkan oleh dokter karena risikonya sangat besar.

Alhamdulillah, anak ketiga kami, Syarifah Kanaya Batrisya lahir pukul 20.37 WIB dalam keadaan sehat dengan BB 3,375 Kg dan Panjang 48cm. Apakah setelah melahirkan cobaan untuk ibunya yang sudah tidak muda lagi berakhir? ternayata tidak saudara- saudara hehehe… Pasca lahiran, aku masih mendapatkan ujian kesehatan yang tidak aku rasakan di dua kehamilan sebelumnya. Pasca lahiran adik Kanaya, selama 2 minggu badanku bengkak, migran parah, aku juga mengalami sakit pinggang yang luar biasa hebat sehingga harus therapy. La haula wala quwata illa billah

New Born

Segala nikmat dan ujian datang dari Allah SWT. Namun kalau manusia bisa berikhtiar, mungkin ada baiknya buat ibu – ibu yang masih mau hamil, sebaiknya sebelum usia 40 tahun. Karena semakin bertambah usia kita, tidak bisa dipungkiri kalau kesehatan fisik kita cenderung menurun.

Wallahualam bissowab

Tahfidz Performance Week

Minggu lalu merupakan minggu yang cukup padat bagi anak pertama saya (Kiya). Pada  minggu tersebut,  sekolah Kiya  (Mumtaza Islamic School) menyelenggarakan Happy Week. Pada happy week yang diadakan pada hari kamis dan jumat (8-9 september 2018) tersebut dilombakan beberapa materi antara lain Tahfidz competition,  Quick and Smart, Choir, Fashion Show, Cerdas Cermat Quran, dst. Dari berbagai lomba tersebut, Kiya terpilih sebagai perwakilan kelas untuk mengikuti quick and smart , tahfidz competition and choir.

Selain dipilih sebagai perwakilan kelas dalam acara happy week, Kiya bersama lima orang temannya juga terpilih mewakili sekolah dalam tahfidz performance di SD Expo pada hari sabtu (10 September 2018).

Pada hari perlombaan ( Kamis), saya menjadwalkan untuk mendampingi Kiya mengikuti berbagai lomba tersebut. Saat pelaksanaannya, ternyata Kiya hanya bisa mengikuti lomba tahfidz dan choir disebabkan jadwal lomba yang bentrok.

Tahfidz competition dibagi dalam 3 level yaitu basic (year 1), Middle (Year 2-3) dan Advance (Year 4-5). Kiya yang saat ini duduk di kelas 2 mengikuti level middle bersama dengan perwakilan kelas 2 dan 3 berjumlah total 20 orang. Materi dari middle level adalah juz 30. Setiap anak akan dipanggil berdasarkan no urut yang diambil di awal lomba. Lalu setiap anak akan mengambil satu dari 20 amplop soal yang tersedia. Juri lalu akan membacakan ayat surat yang ada dalam amplop tersebut dan setiap peserta diminta untuk langsung melanjutkan membaca ayat berikutnya. Kiya mendapatkan urutan ke 17 sehingga saat menunggu bagiannya, dia masih sempat mengikuti lomba choir.

Dalam kesehariannya, Kiya dikenal sebagai anak yang ceria dan aktif. Namun dibalik keceriannya tersebut,  ia kurang memiliki rasa percaya diri. Saat akan tampil pada tahfidz competition, wajahnya agak pucat dengan tangan berkeringat. Berkali – kali ia membisikkan rasa takutnya pada saya. Karena saya mengenal karakter Kiya yang merupakan “Pengejar keinginan” dan bukan “penghindar masalah” (tipe kepribadian ini akan kita bahas dalam sesi terpisah), maka saya  pun berusaha untuk membuatnya berimajinasi akan hadiah  yang didapatkan bila mengikuti perlombaan secara percaya diri.

Sejak kecil, kami tidak pernah menuntut Kiya untuk memenangkan lomba yang diikutinya. Tujuan kami untuk mengikutkan Kiya dalam berbagai lomba hanya untuk melatih kepercayaan dirinya. Jadi target yang dituju hanyalah Kiya percaya diri pada saat lomba. Hal ini juga yang menjadi harapan kami saat Kiya mengikuti tahfidz competition.

Setelah saya terus memberikan sugesti kepadanya, lama- lama ketakutan Kiya memudar.  Ia terlihat bersemangat. Dari wajahnya terpancar keinginan mendapatkan hadiah yang diinginkannya.

Beginilah kira- kira penampilan Kiya saat lomba

IMG-20181112-WA0000

Videonya dapat dilihat di Youtube

Dan memang usaha tidak mengkhianati hasil. Semangat Kiya yang tidak lelah bermurajaah ternyata memberikan hasil yang baik. Alhamdulillah, Kiya dipilih sebagai juara 1 tahfidz competition.

IMG-20181111-WA0002

Setelah terpilih sebagai juara 1, Kiya masih belum bisa berleha- leha sepenuhnya. Karena besoknya (sabtu) ia dan teman-temannya akan melakukan tahfidz performance pada acara SD exhibition.

IMG-20181111-WA0003Alhamdulillah performancenya juga berjalan lancar.

Pada akhirnya, semua keberhasilan yang diperoleh Kiya pada minggu tersebut semuanya merupakan pertolongan Allah. Yang kemudian diikuti oleh kerja keras dan kesungguhan Kiya.

Bagi kami sebagai orang tuanya, ini bukan soal menang atau kalah. Ini soal proses bertumbuh. Karena kami sebagai orang tua akan tetap mendukung dan bangga pada Kiya sekalipun misalnya dia tidak menjadi juara pada saat lomba. Yang membuat kami bahagia adalah karena dia berhasil menaklukan musuhnya, yaitu rasa takutnya yang sangat besar. Kami bangga karena dia bekerja keras untuk melakukan kebaikan, berusaha selangkah lebih dekat kepada sang Khalik. Dan kami sebagai orang tuanya akan selalu mendoakan dan mendukungnya.