Sudah bukan rahasia lagi bila kawasan timur indonesia menjadi salah satu obyek wisata favorit. Keindahan alam yang masih murni dan relatif masih belum “tersentuh” ditambah berbagai jenis makanan khas tentunya akan mengundang minat wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Beberapa waktu lalu, aku mendapat penugasan untuk melakukan perjalanan dinas ke kota Luwuk, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Dan kali ini aku akan berbagi cerita tentang perjalananku kesana, alih-alih menceritakan pekerjaanku selama disana yang pastinya kurang menarik untuk diceritakan.
Aku dan rombongan berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat Garuda dengan tujuan Makassar pada pukul 07.05 WIB dan tiba di Bandar Udara Sultan International Hasanuddin pukul 10.45 WITA. Perjalanan dilanjutkan dengan pesawat Sriwijaya Air dengan rute Makassar – Luwuk pukul 14.00 WITA. Kami tiba di Bandar udara Syukuran Aminuddin Amir pada pukul 15.10 Wib.
Bandara Syukuran Aminuddin Amir
Aku cukup terkesan dengan bandaranya yang walaupun kecil namun bersih dan rapi. Menurut informasi, memang baru saja dilakukan renovasi besar- besaran. Mudah- mudahan keadaannya yang tertata rapi dan bersih akan terjaga terus, bukan sekedar bersifat sementara setelah renovasi. Ada yang hal cukup menarik dilihat di bandara ini. Terdapat beberapa manekin mengenakan pakaian adat. Cara yang cukup baik untuk mengenalkan budaya pada pendatang dari luar daerah.
Swiss Belinn Hotel Luwuk
Selama disana, aku menginap di Swiss Belinn Hotel Luwuk. Hotel tersebut dapat ditempuh dalam tempo sekitar 10 menit berkendara dari Bandara Syukuran Aminuddin Amir.

Hotel yang terletak diatas Bukit Halimun ini menyajikan pemandangan indah dari kota Luwuk, garis pantai Banggai bagian selatan dan Laut Banda. Fasilitas yang diberikan tidak jauh berbeda dengan hotel Swiss Bellin yang berada di kota lainnya. Yang agak membedakan hanya desain bangunannya. Lobby hotel ini berada di lantai paling atas sedangkan kamar tamu berada dilantai bawahnya. Sehingga bila difoto dari atas akan lebih terlihat seperti rumah dengan kamar bertingkat dan bukan hotel bintang 4.
Mengenai makanan hotel, menurutku standar dan tidak ada yang spesial. Namun untuk pelayanan, aku cukup terkesan dengan pelayanan staff hotel yang ramah dan professional. Ada satu cerita tentang pelayanan staf yang sangat helpful. Jadi ceritanya, pada saat tiba di Jakarta aku baru menyadari kalau charger laptop ketinggalan di Luwuk. Maka aku segera konfirmasi ke hotel dan mendapatkan respon yang sangat baik. Mereka mengecek keberadaan charger tersebut, memastikan kalau memang akulah pemiliknya dan membantu mencarikan jasa ekspedisi yang bisa mengirimkan secara cepat. Walaupun pada akhirnya charger tersebut dititipkan pada rekan kerja yang juga akan ke Jakarta, aku sangat mengapresiasi pelayanan staff hotelnya.
Gambar dibawah diambil saat berada di lobby hotel.

Kuliner
Selama berada disana selama empat hari, aku mencoba beberapa jenis makanan, yang kebanyakan dicoba malam hari sepulang dari kantor.
- Kaledo Garuda
Kaledo merupakan singkatan dari Kaki Lembu Donggala (Kaledo). Tempat makannya berada di rumah yang terletak dikawasan garuda.
Sebagai pecinta makanan berlemak, kaledo ini menurutku rasanya enak dengan daging yang lembut dan kuah yang segar. Harga satu porsi adalah Rp.50.000
2. Rm. Konro H. Agus Salim
Ada beberapa jenis menu yang ditawarkan disini. Antara lain Sop Konro, Sop Saudara dan Sop Kikil. Aku sendiri mencoba Sop Konro. Dagingnya lembut dengan bumbu khas konro. Bisa dibeli dengan harga Rp 40.000/porsi.
3. Rm Seafood, Pagimana, Banggai
Aku mencoba makan disini pada hari kepulangan ke Jakarta. Dari depan, tempatnya terlihat hanya seperti rumah kecil yang berada di samping bengkel. Namun setelah masuk ternyata tempatnya cukup luas dan menawarkan pemandangan laut yang indah
Makanan yang disajikan juga rasanya cukup maknyuss. Cukup worthed lah dengan lamanya perjalanan yang ditempuh untuk bisa kesini.
4. Kedai Pisang Roa, di pinggir pantai
Banyak terdapat kedai yang menjual pisang roa di pinggir pantai. Saat mampir ke salah satu kedai, ternyata hujan turun sehingga kami tidak bisa menikmati penganan sambil menikmati indahnya laut.
Secara keseluruhan, Luwuk bisa dikatakan kota yang indah dan sangat potensial sebagai kota wisata apabila dikembangkan secara profesional.

Demikian sedikit cerita perjalananku ke Luwuk. Mudah- mudahan bisa menjadi referensi bagi yang berencana kesana yaaaaa.