Ketika sang embak tidak kembali

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Pada edisi terdahulu aku pernah membahas soal tips dan trik mendapatkan pengasuh anak (Asisten Rumah Tangga… Kisahmu Kini…) Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang masalah per asisten rumah tangga yang kualami pasca lebaran tahun ini.

Seperti biasa, sekitar sebulan sebelum lebaran, aku akan mulai bertanya kepada para asisten yang membantu dirumah apakah mereka akan kembali kerumah setelah mudik lebaran atau tidak. Hal ini berguna bagiku untuk menyusun rencanaselanjutnya. Adapun alternatif yang telah kurencanakan :

  1. Apabila sang pengasuh tidak akan kembali ke rumahku setelah lebaran,  mengingat anak keduaku masih batita, maka kami harus segera mendapatkan gantinya. Berdasarkan pengalaman, waktu tunggu untuk memperoleh pengganti sekitar 2 minggu setelah lebaran. Padahal aku dan suami hanya cuti 3-5 hari setelah lebaran. Maka solusi yang dapat diambil adalah kami akan menggunakan jasa infal dalam periode 14 – 30 hari (dimulai 5 hari sebelum lebaran sd pengasuh baru diperoleh).

(+) Kami sekeluarga bisa memaksimalkan hari -hari terakhir ramadhan untuk beribadah dan quality time  bersama anak. Tentunya karena tidak terganggu urusan cuci mencuci, bebersih dan bebenah rumah yang cukup melelahkan.

(-) Biaya admin dan gaji infal cukup besar. Selain itu, untuk edisi mudik yang mobilitasnya cukup tinggi (misalnya pindah- pindah  kota) akan cukup menambah kerepotan karena harus mempersiapkan untuk transportasi dan akomodasi mbak infal.

2. Apabila sang pengasuh akan kembali ke rumah setelah lebaran, maka akan ada pengaturan waktu untuk cuti secara bergantian  antara aku dengan suami agar ada yang menjaga anak sampai sekembalinya si pengasuh.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, yang antara lain meliputi tanya jawab dengan pengasuh, uji kesungguhan dst (mirip- mirip tes wawancara pekerja gitu deh), pengasuh anakku yang kecil yakin untuk kembali bekerja dirumah setelah mudik. Namun dia minta untuk cuti selama 2 minggu. Sebelum mengabulkan keinginannya, aku tetap berusaha untuk memastikan keinginannya untuk kembali. Karena aku tidak mau apabila sudah ditunggu namun ternyata ia hanya janji surga.

Karena akhirnya sang pengasuh tetap bersikeras akan kembali ke rumah, maka kami mengambil alternatif kedua, yaitu tidak mengambil infal dan menjadwalkan cuti yang bergantian dengan suami. Karena suami hanya bisa cuti di tanggal 10-11 Juni 2019, maka aku memutuskan untuk masuk di kedua hari itu dan cuti di 3 hari berikutnya. Sesuai janjinya, si mbak akan datang tanggal 12 Juni 2019.

All went as planned. Everything looks perfect until the big day.  Malam sebelum tanggal 12, si mbak wa dan menginfokan kalau esok ia akan naik travel jam 9 pagi. Prediksi tiba di rumahku malam hari. Paginya sekitar jam 10 pagi, aku mengirimkan chat untuk menanyakan apakah ia sudah berangkat namun tidak kunjung dibalas. Berkali- kali ditelpon juga ia tidak mengangkat. Sekitar sejam kemudian, ia baru membalas chat dan menginfokan kalau ia tidak dapat kembali kerumah hari itu karena KTP belum selesai diurus di kampung. Aku menawarkan agar KTP dikirim saja, namun ia mengemukakan berbagai alasan antara lain menunggu acara pernikahan sepupu.

Pada akhirnya ia bilang bahwa baru bisa pulang paling cepat seminggu lagi dan mempersilakanku untuk mencari penggantinya bila tidak dapat menunggu. Shock. Bisa dibilang saat itu aku sangat kaget dan marah. Sejak awal juga aku tidak pernah memintanya untuk kembali bekerja di rumah, malahan ia yang terkesan sedikit memaksa untuk menerimanya kembali. Dan sekarang tiba- tiba dia membatalkan keinginannya dengan kondisi yang tidak aku persiapkan sebelumnya.

Aku bergegas menghubungi puluhan penyalur dan yayasan yang kukenal namun kebanyakan  masih kosong. Kalaupun ada stok, kurang cocok dengan kualifikasi yang kubutuhkan. Yang bisa kulakukan selanjutnya hanya pasrah, berdoa dan menyiapkan alernatif berikutnya yaitu membawa anak-anak kekantor suami atau kekantorku apabila belum diperoleh pengasuh sampai dengan saatnya aku harus masuk kerja.

Beberapa hari kemudian, aku berhasil mendapatkan pengasuh untuk si kecil. Namun ternyata cobaan belum selesai karena baru sehari ia minta berhenti dengan alasan sakit darah rendah. Selain itu ternyata ia juga memiliki penyakit kulit yang membuatku tidak ingin menahannya lagi.

Alhamdulillah saat ini sang mbak pengasuh yang baru sudah ada untuk si kecil. So far lumayan cocok dan memiliki beberapa kelebihan daripada pengasuh sebelumnya. Mudah- mudahan drama art berhenti dulu untuk beberapa lama dan semoga untuk selamanya. Aminnnnn

Berkaca dari kejadian diatas, ada beberapa hal yang dapat kujadikan pelajaran :

  1. Persiapkan perencanaan sedetail mungkin. Seharusnya sejak awal aku sudah mempersiapkan alternatif apabila si mbak hanya janji-janji surga
  2. Jangan baper. Ini penting banget. Boleh saja percaya janji si mbak, namun bila ternyata ia tidak menepati, biarkan saja. Jangan marah dan stress, karena hanya akan menghabiskan energi. Fokus saja untuk mencari pengganti.
  3. Selalu ada hikmah dibalik setiap cobaan. Do the best dan let Allah do rest. Karena kejadian apapun selalu ada sisi positifnya.

Foto dibawah ini adalah foto yang diambil di pagi hari sebelum si emak rempong harus membawa krucil kekantor karena tidak ada mbak untuk menjaga  <_>

IMG20190617063318-01

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia

 

 

 

 

Asisten Rumah Tangga… Kisahmu Kini…

bismillahirrahmanirrahim-master-logoblogspotcoid-800x420

Apabila ditanya apakah hal yang paling ditakuti oleh saya sebagai seorang working mom selain menyangkut kesehatan ananda? Maka jawabannya adalah saat pengasuh anak mengatakan akan berhenti bekerja dengan berbagai alasan. Mulai dari alasan tidak betah, orang tua sakit, akan menikah sampai ada yang berkilah ingin mencari pengalaman baru. Dan ternyata saat saya menanyakan hal yang sama kepada kepada teman- teman sesama wanita bekerja yang juga memiliki anak masih kecil, jawabannya tidak jauh berbeda.

Permasalahan seputar pengasuh ananda ini sudah menjadi polemik bagi seorang working mom. Keberadaannya yang harus meninggalkan anandanya untuk bekerja tentunya membutuhkan orang yang dapat diandalkan untuk menggantikannya mengasuh ananda selama ia bekerja. Dan idealnya pengasuh ini bukanlah sekedar memberi makan, menemani main atau menjaga jaga tapi seyogyanya merupakan perpanjangan tangan seorang bunda. Yang artinya mereka juga dapat menjadi perpanjangan tangan orang tuanya, mengajarkan hal yang secara rutin dibiasakan sejak kecil.

Tapi pada prakteknya ternyata seorang pengasuh seringkali tidak bekerja lama di suatu tempat. Layaknya generasi millenia, seringkali mereka hanya bertahan sehari, sebulan, 3 bulan atau maksimal sepanjang garansi yang diberikan oleh yayasan atau penyalur. Jarang sekali yang bisa bekerja di suatu tempat selama setahun atau bahkan bertahun – tahun.

Turn over  yang tinggi tentunya kemudian menjadi permasalahan bagi ibu bekerja . Ketergantungan yang tinggi terhadap sang pengasuh alias Asisten rumah tangga (ART) ataupun baby sitter ini membuat bunda harus segera memperoleh gantinya bila mereka berhenti bekerja. Pertanyaan berikutnya, bagaimanakah cara mendapatkan pengasuh tersebut?

Secara umum, ada dua cara yang dapat dilakukan untuk memperoleh asisten rumah tangga, yaitu melalui makelar/penyalur dan yayasan.  Ada kelebihan dan kekurangan dari masing- masing cara tersebut. Berikut kita bahas lebih lanjut yaa

1. Penyalur

(+) Jasa administrasi yang tidak begitu besar. Jasa administrasi biasanya merupakan poin cukup penting saat seorang bunda memilih menggunakan jasa penyalur daripada yayasan. Biayanya saat ini berkisar antara Rp.750.000 sd 1.250.000.

(+) Penyalur langsung terlibat dalam mencari pengasuh. Biasanya pengasuh yang ditawarkan merupakan saudara, kerabat atau kenalan yang diperoleh langsung dari kampung. sehingga apabila ada masalah lebih cepat ditangani karena penyalur mengetahui keluarga pengasuh tersebut.

(-) Stok yang terbatas. Apabila pengasuh yang dipekerjakan ingin berhenti dengan berbagai alasan sedangkan waktu garansi masih belum habis, relatif sulit mendapatkan gantinya. Ini merupakan masalah cukup besar bagi seorang working mom. Hal ini terjadi terkadang saat keinginan pengasuh  untuk berhenti sudah sangat besar dan tidak dapat ditahan lagi yang berimbas kerja malas-malasan atau sampai kabur, sedangkan penyalur belum mendapatkan gantinya.

(-) Keamanan kurang terjaga. Penyalur biasanya merupakan perorangan yang tidak terdaftar secara resmi. Jadi apabila pengasuh terlibat kriminal dan bahkan mungkin bekerjasama dengan penyalurnya, maka akan sulit untuk dilaporkan kepada yang berwajib.

2. Yayasan

(+) Stok pengasuh cukup banyak. Biasanya yayasan akan memberikan garansi selama beberapa waktu dan saat pengasuh atau asisten rumah tangga ingin berhenti, bunda bisa langsung memilih ganti. Ini sangat membantu apabila asisten atau pengasuh minta berhenti mendadak. Karena berdasarkan pengalaman, saat sudah ingin berhenti mereka tidak bisa ditahan lama lagi untuk mendapatkan ganti. Semakin ditahan lama, pengasuh akan kerja asal-asalan atau bahkan kabur. Tentunya ini menjadi masalah untuk bunda yang memiliki bayi masih bayi atau kecil dan tidak bisa cuti lama.

(+) Biasanya yayasan sudah terdaftar secara resmi. sehingga bila ternyata ada permasalahan misalnya Pengasuh mencuri atau kabur, bisa langsung ditangani mereka dan bahkan bisa langsung menghubungi pihak berwajib.

(-) Kekurangannya adalah biaya administrasi yang cukup besar. Kisaran administrasi saat ini Rp. 1.800.000 – 3.000.000 untuk masa penggantian 2 – 6 bulan.

(-) Terkadang ada beberapa yayasan yang melakukan perjanjian dengan pekerjanya. Yayasan tersebut akan memberikan fee kepada pekerja apabila pekerja bersangkutan kembali ke yayasan setelah masa garansi habis. Yayasan kemudian akan menyalurkannya kepada majikan baru dan akan mendapatkan admin kembali. Hal ini membuat para pekerja hanya akan bekerja selama 2-3 bulan atau sampai dengan garansi habis dengan tujuan agar mendapatkan tambahan uang dari admin fee. Imbasnya, para pengasuh tersebut hanya akan bertahan kerja dalam hitungan bulan ditempat bunda.

Setelah menentukan cara mendapatkannya,selanjutnya yang perlu bunda pikirkan adalah cara menyeleksi para pengasuh tersebut. Berdasarkan pengalaman saya menggunakan baby sitter ataupun asisten selama 10 tahun, saya menggunakan beberapa pertimbangan untuk memperkerjakan seorang art  :

  1. Penampilan fisik. Kenapa ini menjadi pertimbangan utama saya? Bukan saya mendiskriminasikan orang berdasarkan tampilannya, namun ini lebih kepada kebutuhan saya dalam mempekerjakan mereka. Apabila saya mencari  pengasuh untuk merawat anak, maka saya menginginkan pengasuh anak saya harus terlihat bersih. Tidak ada penyakit kulit, kuku tangan harus bersih, rambut terikat rapi dst. Selain itu, kriteria fisik pengasuh saat anak saya bayi  akan berbeda dengan saat anak saya telah batita juga. Untuk mengasuh anak yang sudah batita, saya lebih memilih pengasuh yang masih muda dan kurus. Ini mengingat usia anak yang sedang aktif sehingga memerlukan pengasuh yang cekatan. Yang tentunya hal ini tidak berlaku untuk pengasuh bayi.
  2. Pengalaman kerja. Biasanya untuk mengasuh anak yang masih bayi, saya mensyaratkan pengasuh yang sudah memiliki kemampuan mengasuh bayi sebelumnya. Sebaliknya saat memilih pengasuh untuk anak saya yang sudah batita, saya lebih memilih pengasuh yang belum begitu berpengalaman namun mau belajar.
  3. Asal daerah. Kriteria ini lebih ke subyektifitas saya. Selama ini, saya pernah beberapa kali mempekerjakan asisten rumah tangga dari suku tertentu dan ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan.  Sehingga untuk sekarang saya lebih memprioritaskan untuk mempekerjakan baby sitter atau art dari daerah tertentu.
  4. Lulus dalam wawancara. Hal yang wajib dilakukan sebelum memutuskan untuk menerima mereka bekerja adalah mereka harus lulus wawancara dengan saya. Biasanya wawancara saya lakukan melalui telepon atau video call. Karena keterbatasan waktu, saya memang tidak mendatangi langsung lokasi yayasannya. Saya mengandalkan komunikasi melalui telepon dan whattsap untuk memilih pekerja, baru kemudian pekerja tersebut diantar oleh yayasan ke rumah saya. Beberapa pertanyaan yang biasa saya tanyakan antara lain : Nama dan umur pekerja, daerah asal pekerja, Pendidikan terakhir, anak keberapa, apa tujuan bekerja, pengalaman bekerja sebelumnya (berapa lama bekerja ditempat sebelumnya, apakah majikan sebelumnya bekerja atau tidak, apa yang dilakukan ditempat sebelumnya, dst).
  5. Selain poin 1-4, pada akhirnya saya mengandalkan intuisi dalam membuat keputusan untuk mengambil pekerja tersebut. Terkadang saya sering terpaksa memperkerjakan seorang ART padahal sudah tidak sreg dari awal. Dan ternyata akhirnya ternyata benar bahwa ART itu tidak baik, misalnya mencuri, berbohong dst.

Demikian sedikit pengalaman yang bisa saya bagi terkait Asisten Rumah Tangga ataupun Baby Sitter. Semoga membantu yaaaaa ^_^