
Pada edisi terdahulu aku pernah membahas soal tips dan trik mendapatkan pengasuh anak (Asisten Rumah Tangga… Kisahmu Kini…) Kali ini aku ingin berbagi pengalaman tentang masalah per asisten rumah tangga yang kualami pasca lebaran tahun ini.
Seperti biasa, sekitar sebulan sebelum lebaran, aku akan mulai bertanya kepada para asisten yang membantu dirumah apakah mereka akan kembali kerumah setelah mudik lebaran atau tidak. Hal ini berguna bagiku untuk menyusun rencanaselanjutnya. Adapun alternatif yang telah kurencanakan :
- Apabila sang pengasuh tidak akan kembali ke rumahku setelah lebaran, mengingat anak keduaku masih batita, maka kami harus segera mendapatkan gantinya. Berdasarkan pengalaman, waktu tunggu untuk memperoleh pengganti sekitar 2 minggu setelah lebaran. Padahal aku dan suami hanya cuti 3-5 hari setelah lebaran. Maka solusi yang dapat diambil adalah kami akan menggunakan jasa infal dalam periode 14 – 30 hari (dimulai 5 hari sebelum lebaran sd pengasuh baru diperoleh).
(+) Kami sekeluarga bisa memaksimalkan hari -hari terakhir ramadhan untuk beribadah dan quality time bersama anak. Tentunya karena tidak terganggu urusan cuci mencuci, bebersih dan bebenah rumah yang cukup melelahkan.
(-) Biaya admin dan gaji infal cukup besar. Selain itu, untuk edisi mudik yang mobilitasnya cukup tinggi (misalnya pindah- pindah kota) akan cukup menambah kerepotan karena harus mempersiapkan untuk transportasi dan akomodasi mbak infal.
2. Apabila sang pengasuh akan kembali ke rumah setelah lebaran, maka akan ada pengaturan waktu untuk cuti secara bergantian antara aku dengan suami agar ada yang menjaga anak sampai sekembalinya si pengasuh.
Setelah melalui proses yang cukup panjang, yang antara lain meliputi tanya jawab dengan pengasuh, uji kesungguhan dst (mirip- mirip tes wawancara pekerja gitu deh), pengasuh anakku yang kecil yakin untuk kembali bekerja dirumah setelah mudik. Namun dia minta untuk cuti selama 2 minggu. Sebelum mengabulkan keinginannya, aku tetap berusaha untuk memastikan keinginannya untuk kembali. Karena aku tidak mau apabila sudah ditunggu namun ternyata ia hanya janji surga.
Karena akhirnya sang pengasuh tetap bersikeras akan kembali ke rumah, maka kami mengambil alternatif kedua, yaitu tidak mengambil infal dan menjadwalkan cuti yang bergantian dengan suami. Karena suami hanya bisa cuti di tanggal 10-11 Juni 2019, maka aku memutuskan untuk masuk di kedua hari itu dan cuti di 3 hari berikutnya. Sesuai janjinya, si mbak akan datang tanggal 12 Juni 2019.
All went as planned. Everything looks perfect until the big day. Malam sebelum tanggal 12, si mbak wa dan menginfokan kalau esok ia akan naik travel jam 9 pagi. Prediksi tiba di rumahku malam hari. Paginya sekitar jam 10 pagi, aku mengirimkan chat untuk menanyakan apakah ia sudah berangkat namun tidak kunjung dibalas. Berkali- kali ditelpon juga ia tidak mengangkat. Sekitar sejam kemudian, ia baru membalas chat dan menginfokan kalau ia tidak dapat kembali kerumah hari itu karena KTP belum selesai diurus di kampung. Aku menawarkan agar KTP dikirim saja, namun ia mengemukakan berbagai alasan antara lain menunggu acara pernikahan sepupu.
Pada akhirnya ia bilang bahwa baru bisa pulang paling cepat seminggu lagi dan mempersilakanku untuk mencari penggantinya bila tidak dapat menunggu. Shock. Bisa dibilang saat itu aku sangat kaget dan marah. Sejak awal juga aku tidak pernah memintanya untuk kembali bekerja di rumah, malahan ia yang terkesan sedikit memaksa untuk menerimanya kembali. Dan sekarang tiba- tiba dia membatalkan keinginannya dengan kondisi yang tidak aku persiapkan sebelumnya.
Aku bergegas menghubungi puluhan penyalur dan yayasan yang kukenal namun kebanyakan masih kosong. Kalaupun ada stok, kurang cocok dengan kualifikasi yang kubutuhkan. Yang bisa kulakukan selanjutnya hanya pasrah, berdoa dan menyiapkan alernatif berikutnya yaitu membawa anak-anak kekantor suami atau kekantorku apabila belum diperoleh pengasuh sampai dengan saatnya aku harus masuk kerja.
Beberapa hari kemudian, aku berhasil mendapatkan pengasuh untuk si kecil. Namun ternyata cobaan belum selesai karena baru sehari ia minta berhenti dengan alasan sakit darah rendah. Selain itu ternyata ia juga memiliki penyakit kulit yang membuatku tidak ingin menahannya lagi.
Alhamdulillah saat ini sang mbak pengasuh yang baru sudah ada untuk si kecil. So far lumayan cocok dan memiliki beberapa kelebihan daripada pengasuh sebelumnya. Mudah- mudahan drama art berhenti dulu untuk beberapa lama dan semoga untuk selamanya. Aminnnnn
Berkaca dari kejadian diatas, ada beberapa hal yang dapat kujadikan pelajaran :
- Persiapkan perencanaan sedetail mungkin. Seharusnya sejak awal aku sudah mempersiapkan alternatif apabila si mbak hanya janji-janji surga
- Jangan baper. Ini penting banget. Boleh saja percaya janji si mbak, namun bila ternyata ia tidak menepati, biarkan saja. Jangan marah dan stress, karena hanya akan menghabiskan energi. Fokus saja untuk mencari pengganti.
- Selalu ada hikmah dibalik setiap cobaan. Do the best dan let Allah do rest. Karena kejadian apapun selalu ada sisi positifnya.
Foto dibawah ini adalah foto yang diambil di pagi hari sebelum si emak rempong harus membawa krucil kekantor karena tidak ada mbak untuk menjaga <_>

Tulisan ini diikutsertakan dalam blog challenge Indscript Writing ‘Perempuan Menulis Bahagia
